Cerita tentang Suporter

Pagi – pagi buta saat sedang mencuci kendaraan. Kakek tua depan rumah saya yang berusia sekitar 70 Tahun mendekat dan bertanya skor akhir pertandingan Timnas Indonesia U – 23 melawan tim Malaysia semalam. Sesaat Saya terpana mengetahui sang kakek yang setiap pagi menyapu halaman ketika saya berangkat kerja itu, ternyata memiliki interest yang tinggi terhadap sepakbola. Buktinya, beberapa nama pemain seperti Titus Bonai dan Patrich Wanggai sempat dia sebut meski harus berpikir sebentar untuk mengingatnya. Sementara malam harinya saat Garuda Muda dan Tim Harimau Malaya sedang bertanding di Gelora Bung Karno, seorang teman perempuan saya mengabarkan kalau dia dan teman – temannya yang juga kaum hawa, sedang menikamti pertandingan dari salah satu bangku stadion kebanggan indonesia itu.

Sepakbola memang menjadi milik semua usia dan kalangan , menembus sekat gender dan strata. Sepakbola ditonton di rumah mewah nan gemerlap dan digubuk reot pinggiran kali. Populer di kota besar dan dikampung nun jauh dari riuh rendah peradaban.  Untuk sebagian orang, sepak bola menyuguhkan kenikmatan luar biasa, bahkan nyaris menjadi  candu. Di Brasil, sepakbola sudah mengakar menjadi budaya bahkan dicap sebagai agama kedua.

Bagi suporter fanatik, sepak bola adalah Dewa. Olahraga terpopuler didunia itu adalah hidup mati mereka. ketika sebagian besar orang berlomba mengejar kemuliaan hidup dan kesuksesan karir, suporter fanatik rela meregang nyawa untuk Tim yang didukungnya. Tengoklah bagaimmana peristiwa Heysel menelan korban jiwa hingga 39 orang saat Final Liga Chmapions yang mempertemukan si nyonya tua Juventus dan Liverpool tahun 1985 lalu. Atas nama fanatisme dan kecintaan terhadap klub, mereka harus bersimbah darah ketika suporter The reds berusaha menerobos pembatas dan menyerbu pendukung [La] Vecchia Signora – Juventus.

Di dalam negeri, tentu masih lekat diingatan kita bagaimana  Jak Mania ( Pendukung Persija Jakata ) dan Viking yang jadi pendukung persib bandung, berseteru dalam beberapa kesempatan. Semantara saling serang antara Bonek dan pendukung PSM Makassar saat kompetisi perserikatan mempertemukan kedua tim di Senayan, membuat kedua kelompok terus menyimpan benih dendam sampai sekarang. Tak ketinggalan head to head antara  Persipura Jayapura dan Persiwa Wamena yang selalu diwarnai dengan perseteruan kelompok suporter kedua tim.

Ironinya, ketika Timnas Indonesia sedang berlaga di Gelora Bung Karno, semua elemen supporter, bersatu mendukung Tim Merah Putih tanpa embel – embel warna dan kebesaran klub masing – masing. Terlepas dari fanatisme sektoral, nun jauh didasar hati para suporter, terdapat hasrat yang sama untuk menggelorakan  sepakbola dengan segala nilai yang menyertainya. Mereka berseteru dan dipersatukan oleh sepakbola itu sendiri. Olahraga yang akhirnya menumbuhkan Patriotosme, kebanggan sekaligus solidaritas. Tidak salah jika sepakbola juga menjadi komoditas politik. Silvio Berlusconi telah membuktikannya. Perpaduan sepakbola dan politik plus penguasaan media, membuat Don Berlusconi kokoh berkuasa di tanah Italia selama kurang lebih dua dekade. Pun di Indonesia yang pengelolaan sepakbolanya tentu jauh berbeda dengan negeri pizza itu, tak urung menjadikan sepakbola sebagai ladang memperkokoh hegemoni politik, setidaknya indikasi yang ada menunjukkan fenomena itu.

Lain di Italia tentu lain pula di Indonesia. Di Italia, kawin mawin antara politik dan sepakbola bisa berjalan dan melahirkan prestasi karena kompetisi mereka dikelolah secara profesional. Pengelolaan Sepakbola mereka sudah menjelma sebagai sebuah Industri. Indonesia yang untuk mencari format kompetisi saja butuh waktu lama, tentu tak serta merta bisa mengadopsi sistem itu. Karena jika dilakukan, gelar juara akan jauh api dari panggang. Supporterpun akhirnya hanya jadi obyek. Para politisi akan berlomba menguasai olahraga sejuta penggemar itu untuk mempertahankan tirani politiknya. Memaksakan dua kompetisi untuk kepentingan bisnis dan kekuasaan. Terlepas dari magnet sepak bola sebagai sebuah hiburan rakyat, lalu apa yang didapatkan suporter ? Sejauh ini dahaga gelar meraka belum juga terpuaskan. Semoga Titus Bonai dan kawan – kawan bisa menjawabnya di SEA Games kali ini. Semoga !!

Foto By Indriani Mulyasyam

2 thoughts on “Cerita tentang Suporter

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s