Feel Guilty

Profesi ini ( Praktisi Radio ) telah banyak memberikan saya pelajaran berharga. Belajar melihat sesuatu dalam berbagai perspektif, Belajar memahami karakter orang lain, dan yang terpenting belajar untuk peka. Menurut buka yang pernah saya baca, seorang manusia sejatinya selalu belajar dari apa yang dilihat, didengar, dirasakan dan dialaminya. Jadikanlah pengalaman hari ini sebagai pelajaran untuk hari esok. Begitu katanya !🙂

Hari ini, Seperti biasa, pagi – pagi tugas mulia sebagai produser program sudah menanti. Mencerahkan ruang publik dengan siaran Pagi “Good Morning Makassar”. Di acara ini Masalah negara banyak dibedah dan dianalisa ( duhh..!), tentu saja yang analisa adalah para pakar, praktisi dan pengamat (saya mah boro – boro mau menganalisa, dengar topiknya aja sudah mumet😀 ) Bayangin, pagi ini aja topiknya : “Pertumbuhan Ekonomi Indonesia dan IPM -indeks pembangunan manusia-“. ( pada berkerut kan keningnya?😀 ).

Makanya gak usah bahas topiknya, mending saya cerita aja bagaimana sebuah program acara talk show itu bisa jalan. Yang pertama pastilah nentuin topik bersama penyiar, setelah itu nyari narasumbernya. Kalo Narasumbernya udah pada siap, buatkan rundown dan cari referensi yang berkaitan untuk menjadi bahan penyiar memandu perbincangan. Nah, tadi pagi itu saya mengalami satu momen yang gak bisa saya lupa sampe malam. bahkan mungkin sampai kapanpun. Ketika mengontak seorang narasumber yang kerap mengkaji masalah Ekonomi dan kebijakan pembangunan, muka saya seperti ditampar puluhan kali saat mendengar suara berwibawa dari seberang sana “tumben telpon saya, sudah gak punya narasumber lain?” saya tercekat, meski diakhir kalimat si narasumber tadi ada nada he.he,..,he yang terdengar garing😦.

Saya baru ingat, dalam tiga bulan terakhir, pak Edi ( sebut saja nama pengamatnya seperti itu, daripada ribet ) itu, memang baru saya kontak lagi untuk jadi pembicara di udara. sebenarnya bukan karena gak pernah bahas soal ekonomi, tapi tuntutan keberagaman isi siaran ( diversity of content ) berujung pada konsekuensi pemilihan narasumber yang lebih beragam untuk membuat pendengar tidak boring sama pembicara yang itu – itu saja.

Tapi jujur, sesungguhnya saya memang lalai. Kebetulan pak Edi itu sudah berusia matang. Terlepas dari faktor keilmuan dan pengetahuannya yang sangat baik, pandangan – pandangan beliau cenderung text book dan rigid. Sementara banyak pengamat – pengamat ekonomi yang lebih segar dan analisanya kadang lebih pop ( atau apalah istilahnya ) menurut saya, Ulasan yang agak cozy cenderung lebih memikat pendengar,  dan faktor subyektifitas saya itu sepertinya agak dominan dalam menentukan narasumber.  Saya lupa bahwa sebelum memiliki data base narasumber yang berlimpah untuk kajian ekonomi, pak Edi itu dulu bisa dikatakan the one and only.

Saya sangat bisa mengerti perasaanya jika tiba – tiba sentimentil, merasa ditinggalkan dan mungkin juga jealous atau  merasa bahwa pembicara – pembicara lain itu masih satu level di bawah beliau. Wallahualam. terlepas dari rasa bersalah yang dalam, Saya berharap, semoga bapak itu bisa mengerti jika pertimbangan kami dalam memilih narasumber, tidak semata karena faktor kapasitas dan kompetensi. ada unsur kenyamanan pendengar, tuntutan pasar dan yang lebih esensi adalah amanat undang – undang.

Jadi ingat, sebelumnya, sebagai produser acara, saya pernah menemukan guru besar  yang ogah di wawancarai di udara karena kami lupa menyebut gelar Profesornya, tapi di suatu waktu ada juga pembicara yang dari awal mewanti – wanti untuk tidak disebut gelar akademiknya. Apapun itu,  kejadian hari ini menjadi pengalaman berharga. Dalam bidang kerja apapun, Sesungguhnya tak hanya otak dan otot yang harus bekerja. Emosi, empati dan mungkin firasat juga harus diberdayakan. betul kata dosen saya, kerja di radio itu separuh ilmu separuhnya lagi seni, seni memainkan hati dan perasaan kita sebagai manusia. mungkin ini yang ia maksudkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s