Ibu dan Baju Lebaran

Lebaran sebentar lagi tiba, semua bersuka cita menyambutnya. Apapun alasan dibalik kegembiraan itu, lebaran adalah momen yang teramat dinantikan oleh seluruh umat muslim di dunia . Selain sebagai ajang pensucian diri, lebaran untuk kita orang Indonesia, hampir pasti menjadi kesempatan untuk bersilaturrahmi dengan sanak saudara dan para tetangga, waktu untuk mudik dan menikmati makanan – makanan enak di hari raya dan bisa jadi  timing paling tepat memaafkan mantan hehe. Saat masih kanak – kanak, salah satu alasan dibalik suka cita menyambut lebaran adalah kesempatan memperoleh baju, kopiah dan sendal baru🙂

Saya masih ingat, seminggu atau pada hari pasar terakhir sebelum hari raya tiba, anak – anak dikampung kami akan berbondong – bondong ke pasar bersama orang tua mereka untuk memperoleh baju, sendal atau celana baru ( untuk anda yang masa kecilnya di kota besar, tentu ke toko atau Mall). Kebahagian jelang lebaran memang menjadi milik semua orang, mereka yang di kota dan  di kampung nun jauh dari keramaian peradaban sekalipun.

Dulu, jika anak – anak lain bisa menikmati kemeriahan lebaran dengan baju baru setiap tahun, tidak demikian dengan saya. Ketidakberdayaan ekonomi keluargalah penyebabnya, dan ibu saya selalu mendapat tugas tambahan memberi pengertian karena mereka belum bisa memberikan baju, celana atau sendal baru. Maklumlah, sebagai anak bungsu, saya memang menjadi anak yang paling sering merengek.

Ibu selalu dengan sabar menjelaskan kalau baju saya yang lama masih sangat bagus untuk saya pakai. Meski kecewa, saya tak pernah protes. Pikiran kanak- kanak saya waktu itu tau betul,  protes saya tak akan mengubah apa – apa. Meski saya sangat mahfun betapa orang tua kami sangat berharap bisa menyerahkan bingkisan berisi perlengkapan lebaran setiap ritual tahunan itu tiba kepada kami anak – anaknya ( kesadaran itu tentu saya rasakan ketika mulai beranjak remaja dan melewati banyak pelajaran hidup )

Suatu waktu ketika saya masih kanak – kanak dan ikut ibu ke pasar, mata saya terpaku pada sebuah baju bermotif garis – garis dengan kombinasi merah dan hitam yang tergantung di sebuah los pasar di kampung kami. Bahkan ketika baju itu sedang berada di tangan seorang ibu, muka polos  saya masih tak lepas memandanginya, ibu tiba – tiba memeluk saya dari belakang, tidak mengucapkan apa – apa. Ya.. hanya memeluk saja agak lama. ( sumpah,. kalau nonton tv dan adegan seperti ini, saya suka tak sadar meneteskan air mata ). Setelah dewasa, saya baru mengerti apa sebenarnya yang sedang dirasakan ibu saya waktu itu, mengerti kegundahan dan kesedihan tak terkira yang mungkin sedang ia alami.

Lebaran tanpa baju baru kadang terulang sampai lebaran berikutnya dan berikutnya lagi. Ini juga di alami saudara – saudara saya, kondisi yang akhirnya membuat kami tak memiliki ekspektasi berlebihan soal baju baru lagi saat takbir dikumandangkan. Kami lebih memilih menikmati kebahagiaan hari raya dari sisi yang lain. Makanan enak yang berlimpah misalnya atau suasana kampung yang akan lebih ramai dari hari biasanya, jelang dan saat lebaran.

Hari berganti, tahun berlalu,  keadaan berubah. Yang tak berubah adalah kebiasaan berbaju baru saat hari raya. Sekarang kami sudah tumbuh menjadi sosok dewasa dengan kehidupan masing – masing. Ibu kami tentu tak perlu repot – repot menenangkan anak mereka terutama saya untuk urusan baju baru. Justru setiap hari besar keagamaan itu, ibu akan berlimpah baju, sendal dan sarung baru dari kami anak – anaknya. Damai rasanya melihat senyum dan wajah sumringah ibu saya setiap menyerahkan bingkisan berisi beberapa perlengkapan sholat dan baju baru. Sesuatu yang tak pernah dimintanya seperti dulu kami tak pernah berani menyinggung soal baju baru setiap lebaran datang.

Sekarang ibu kami malah sering berat menerima limpahan pemberian itu. “pakai saja uangnya untuk keperluan kamu” begitu kata – kata yang sering terucap. Tentu bukan karena kami anaknya dulu tak pernah meminta baju baru yang membuat ibu kami berat menerima hadiah tahunan itu,  Bagi seorang ibu, melihat anaknya pulang, itu sudah cukup. Kalaupun wajahnya berubah ceria ketika menerima bingkisan, yakinlah, itu bukan karena mereka akan memakai baju baru menuju tanah lapang. Senyum mereka adalah gambaran kebahagian mendapati anak mereka sudah bisa membeli baju baru sendiri, mendapati anaknya bukan lagi sosok mungil yang merajuk demi selembar pakaian baru.

Melihat ibu bisa tersenyum adalah kebahagiaan yang tiada tara, Kenikmatan yang tak bisa tergantikan oleh apapun. Jika dulu ibu dan bapak saya harus galau karena tak pernah bisa memberikan baju baru saat hari raya, tak mampu menjanjikan sepeda ketika naik kelas dan tak  pernah bisa membekali kami uang jajan setiap harinya,  sekarang waktunya kami anak – anaknya mengembalikan kebahagiaan itu. Mengembalikan senyum yang banyak dirampas oleh pahit dan getirnya hidup.

Jika ada sebuah pilihan, saya tak butuh menjadi apa dan siapa – siapa selain hanya ingin terus hadir untuk ibu dan bapak saya, membuat mereka bahagia di usia senjanya. Ada untuk selalu pulang dua kali setahun,  sekedar membawakan baju baru untuk lebaran. Selamat Hari Raya….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s