Komodo vs komedo

Akhir – akhir ini, Saya dan anda pasti sering dapat Broadcast via Balckberry dan SMS yang menyerukan untuk terus mengirim dukungan agar komodo menjadi salah satu dari tujuh keajaiban dunia yang baru ( The new seven wonders ). Untuk sebagian kita, Nasionalisme sesaat telah berhasil menciptakan antusiasme sekaligus kepanikan. Betapa tidak, perolehan SMS dari komodo yang menjadi wakil kita, terus merosot dan tertinggal dari wakil negara lain, Malaysia misalnya dengan kadal air raksasanya. Pantas dong kita gusar, Indonesia memiliki 240 juta penduduk dan menjadi negara keempat dengan jumlah penduduk terbesar di dunia. Bayangkan kalau kita bisa kompak!, bukan tidak mungkin kita akan meninggalkan perolehan SMS negara lain dan meng knock out komodo sebagai salah satu dari tujuh keajaiban dunia yang baru.

Meskipun jumlah penduduk yang banyak buat saya tidaklah menjadi alasan ideal. Persoalan Ajaib adalah persoalan “taste”, dan taste itu penialiannya sangat subyektif. Maksud saya, boleh dong saya justru mendukung wakil negara lain karena menurut saya wakil negara lain taste ajaibnya emang lebih terasa. Logikanya begini, kalau diminta memilih antara lagu Pilihlah Aku nya Krisdayanti dan Suci Dalam Debu nya  Saleem Iklim, gak apa – apa kan saya pilih lagu yang kedua karena saya memang lebih suka lagu Malaysia ( Ups ketahuann.. ) tapi sudahlah, membicarakan ini lebih jauh, hanya akan berbuah hujatan karena sudah menyangkut nasionalisme dan rasa kebangsaan. Jujur, sayapun tidak mungkin mendukung wakil negara lain, Patriotisme saya masih lebih kuat untuk dikalahkan oleh logika sekalipun. Alasan lain dari kepanikan para vooters dan pak Jusuf Kalla ( JK ) sebagai duta, bisa jadi karena sebenarnya  inilah momentum dan kesempatan terbesar kita untuk menunjukkan kepada dunia bahwa indonesia itu bisa eksis. Indonesia itu masih ada !

Tapi apa betul kita masih punya Patriotisme ?, apa benar kita masih bangga dengan ke Indonesiaan kita ? apa sudah tepat persoalan nasionalisme bisa jadi magnitude bagi segenap masyarakat kita untuk mengirimkan SMS?, Bukankah Nasionalisme itu sudah lama hilang karena rakyat kita hampir tak memiliki alasan lagi untuk mencintai indonesia. Rakyat tak bisa lagi berbangga dengan olah raga yang justru jadi ladang penguasa mengukuhkan hegemoni kekuasan dan politik mereka, Kesejahteraan yang dijanjikan penguasa seperti jauh api dari panggang. Peningkatan taraf hidup ternyata hanya bisa dinikmati oleh segelintir orang. Apa masih pantas kita berbangga ketika para pemimpin kita sudah kehilangan wibawa karena lebih sibuk mengurusi diri sendiri dan partainya ketimbang mengurusi rakyat ? Masih banggakah kita dengan Indonesia  yang peringkat korupsinya ke empat tertinggi di Asia?. Seribu macam pertanyaan itu tentu akan mengerucut pada satu pertanyaan, lalu buat apa mereka yang mungkin ogah – ogahan mengirimkan SMS berbangga kalau komodo terpilih ?.

Sense of belonging kita terhadap indonesia sepertinya memang pelan – pelan mulai pudar. Rasa memiliki dan dimiliki oleh negeri bernama Indonesia inilah yang membuat sebagian dari kita mungkin acuh tak acuh mendukung komodo. Buat apa ? jika buat beli beras saja susah? buat apa jika untuk berobat saja sulit?, boro – boro mikirin komodo. Ketika berbicara soal perut, jangankan rasa bangga, harga diri saja bisa di gadai. Saat bicara kesulitan hidup, pragmatisme bukan sesuatu yang tabu. Tidak usah melihat masyarakat awam yang mungkin sudah kenyang dengan kemiskinan, tengoklah ribuan ilmuwan indonesia yang lebih memilih mendarmabaktikan diri mereka di negara seberang.

Mungkin saya terlalu nyinyir dan apatis, tapi coba deh saksikan fenomena disekitar anda. Bukankah kita lebih antusias ngirim SMS ketika yang harus di dukung adalah wakil Sulawesi selatan pada pemilihan putri – putrian, atau wakil daerah kita pada ajang pencarian bakat di televisi. Amatan saya ini bukan sesuatu yang mengada – ada. Terus merosotnya perolehan SMS kita tentu menjadi bukti valid. Atau mungkin kita gagal kali yah mengelolah soal komodo ini menjadi sebuah isu yang menarik interest semua kalangan. Atau bisa jadi peran seluruh elemen, resonansinya belum terasa benar. Apakah Peran media sudah maksimal mem back up kampanye keikut sertaan komodo ini ? Bagaimana dengan pemimpin ( baca : presiden ) kita ? Sudahkah beliau menggunakan powernya yang maha besar itu untuk menyokong upaya menggoal kan komodo jadi the new seven wonders ? sepertinya belum maksimal. Ataukah persoalan komodo ini kembali dikait – kaitkan dengan syahwat politik ( baca : persaingan popularitas ) para politisi itu? Walahualam, Tapi jika benar adanya, mungkin kita tidak perlu risau  kalau penduduk di Camar Bulan sana lebih comfortable berinteraksi dengan negara malaysia ketimbang dengan negaranya sendiri yang setiap urusan di campur baur dengan kepentingan politik.

Nasionalisme, Patriotisme, Indonesiaisme dan isme – isme yang lain tak cukup bisa ditumbuhkan dalam waktu singkat dan dengan kampanye atau provokasi sekalipun. Nasionalisme tidak akan serta merta bergelora dengan alunan Indonesia Raya dan lagu Bagimu Negeri. Sense of belonging itu tumbuh dari kesadaran dan kebanggan akan sebuah negara dan tanah air tempat kita berpijak. Intinya, berhentilah merecoki rakyat kita dengan patriotisme demi sebaris SMS bertarif satu rupiah sekalipun. Yakinlah mereka tidak akan terlalu kecewa jika komodo kalah dari kadal air nya Malaysia. Karena kita sudah sangat terbiasa merasa dipecundangi negeri jiran itu ketika bangsa ini memperebutkan blok Ambalat serta Sipadan dan Lingitan. Untuk para anak muda kita, mungkin mengurus komedo masih lebih penting ketimbang mendukung komodo.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s