MUDIK STORY

Kemarin abis mudik. Mudiknya singkat banget, cuman satu hari. Seperti biasa, kesibukan yang sudah menyandera sebagian hidup bahkan hak asasi saya, membuat ritual mudik harus termanfaatkan semaksimal dan seefisien mungkin. Meski pulkamnya cuman sehari, kali ini saya beruntung bisa bertemu dengan seorang teman SD yang kalau saya hitung – hitung, sudah tak berkomunikasi sejak 15 tahun yang lalu, busyet !!.

Ceritanya gini : Karena sebuah keperluan, saya berkunjung kerumah paman yang terletak di ujung kampung. Nah rumah teman SD saya itu tetanggan sama pamanku. Saya sudah bermaksud pulang ketika si teman SD itu muncul dan meminta saya untuk mampir kerumahnya. Gak enak melihat keseriusannya, saya mengiyakan dan akhirnya kami duduk berhadap – hadapan di ruang tamu rumahnya yang sederhana layaknya rumah lain di kampung kami.

Usia sudah banyak mengubah kami berdua. Kulit temanku ini terlihat agak legam, mungkin karena setiap hari terbakar ganasnya sinar matahari ketika harus bergelut dengan tanah perkebunan yang menjadi sumber penghidupan sebagian besar warga di kampung saya itu. Lengannya kekar dan wajahnya terlihat lebih tua dari usianya. Kerasnya hidup tergambar jelas dari raut muka teman masa kecilku itu.

Kami sudah terlalu udzur untuk bicara pengalaman – pengalaman masa SD yang malah lebih banyak sudah hilang dari ingatan. Cerita yang mengalir lebih banyak soal keadaan kami masing – masing saat ini dan tentang teman – teman kami yang lain. Tak lupa teman saya itu tertawa terbahak – bahak ketika tau, dari seluruh teman SD kami dikampung, saya satu – satunya yang belum berkeluarga. Ah kalian terlalu cepat nikah sich,..!! begitu saya berkelit.

Jelang magrib obrolan kami berubah sendu ketika dia berbicara soal keluarganya. Anak pertamanya yang berusia 10 Tahun, lahir tuna netra. Saat anak – anak seusianya sudah bisa berbicara, anak teman saya itu malah belum bisa mengucapkan satu katapun, dan akhirnya diketahui dia juga tuna rungu. Sampai disitu saya seperti tercekat, tak bisa membayangkan bagaimana perasaan dia dan keluarganya. Dan saya hampir tak bisa menahan air mata saya untuk tumpah saat dia kembali bercerita kalau ternyata Putra pertama yang mungkin akan menjadi harapan dan tumpuan keluarga itu juga lumpuh. Penyakit itu diketahui ketika usiannya  menginjak masa di mana seseorang anak seharusnya sudah bisa berjalan. Oh Tuhan, Cobaan macam apa yang telah kau berikan pada temanku itu?!

Cairan bening yang sedari tadi saya tahan, akhirnya keluar juga saat dia bertutur tentang kondisi anak keduanya yang lagi – lagi bernasib kurang baik. Meski tak separah anak sulungnya,. anak kedua mereka yang berjenis kelamin perempuan juga tak bisa mengucapkan satu katapun, kecuali kata A dan U. Beruntung dia masih dianugerahi panca indera dan bisa berjalan seperti anak – anak lain. Masya Allah.. Susah payah saya berusaha menyembunyikan cairan hangat yang tiba – tiba meleleh di kelopak mataku. Pertahanan saya ambruk, rasa kemanusiaan saya tercabik – cabik oleh kondisi temanku itu. Beberapa saat kemudian  saya berusaha tegar dan mencoba menghibur. Anehnya, teman saya itu terlihat lebih tabah. Mungkin karena kondisi itu sudah dilaluinya bertahun – tahun, entahlah. Tapi saya sungguh berharap keluarga kecil itu bisa melewati cobaan hidup yang sedang di timpakan oleh sang Khalik.

Di Perjalanan pulang saya tak henti – hentinya berucap syukur. Sedari kecil saya dan keluarga mungkin belum di beri kesempatan menikmati kemewahan. Kami masih harus membanting tulang untuk memenuhi  kebutuhan hidup. Tapi kami dilimpahi kelengkapan jiwa dan keutuhan raga yang mungkin tak bisa di nikmati anak teman saya itu. Disuatu waktu, saya, anda dan kita mungkin menyesali atau bahkan mengutuk hidup kita sendiri, tanpa kita sadar bahwa diluar sana ada banyak manusia lain yang tidak di beri kesempurnaan hidup oleh yang Maha Mengatur dan Maha berkehendak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s