de javu liga indonesia

Saat LSI ( Liga Super Indonesia ) berguliur, muncul liga tandingan bernama LPI ( Liga Primer Indonesia). Saat LPI di restui PSSI, LSI jadi liga pelarian.

Irak yang negaranya masih jatuh bangun pasca perang yang berkecamuk selama puluhan tahun, masih bisa berbangga karena prestasi Timnas Sepakbola nya. Negara – negara di Afrika yang kerap dilanda kelaparan dan perang saudara, masih bisa menegakkan kepala karena sepakbolanya bisa berbicara di level internasional. Indonesia yang liganya bergulir secara reguler plus gelontoran dana APBD yang menghabiskan uang rakyat, harus menelan pil pahit setiap firman utina dan kawan – kawan tertunduk lesu meninggalkan arena pertandingan.

Dan tunggulah bagaimana media yang sudah terkoptasi dengan kepentingan pemilik yang “kebetulan” adalah petinggi partai politik, akan memainkan agenda setting sesuai kepentingan mereka masing – masing. konten pemberitaan tidak lagi mengedepankan substansi. semuanya ditujukan pada upaya mempengaruhi opini publik untuk mendukung atau menolak Liga yang sedang bergulir. Lalu kapan kita akan berbicara prestasi ?, kapan kita merancang sebuah pola pembinaan yang sistematis dalam jangka panjang jika PSSI hanya sibuk melakukan pendekatan kepada klub yang sudah terlanjur tersekat – sekat ?. Sibuk melakukan konsolidasi internal karena perbedaan pendapat para petingginya terhadap hal – hal yang sangat fundamental dalam sebuah liga, Format dan jumlah peserta kompetisi.

Saat kompetisi masih berjalan normal saja, Timnas Indonesia selalu gagal mempersembahkan piala untuk rakyat Indonesia. Lalu apa yang bisa kita harapkan saat format kompetisi kita masih kacau balau seperti sekarang ?. Kompetisi yang seharusnya menjadi kawah candradimuka sebuah Tim Nasional yang mempuni, tidak mampu kita gelar secara permanen dan terorganisir. Selalu ada nuansa lain yang mewarnai kompetisi dan dunia sepak bola kita yang kadang justru teramat jauh dari nilai – nilai dan substansi sepakbola itu sendiri. Kompetisi akhirnya menjadi kontra produktif.

Ironi !  Ketika Timnas U – 19 bisa meraih prestasi yang cukup baik di level internasional, termasuk wakil indonesia yunior di Danone Cup yang rutin digelar, Timnas senior  kita yang terdiri dari para pemain yang telah di tempa di club masing – masing dengan kompetisi yang ketat, justru tidak bisa berbicara banyak  dengan tim level asia tenggara sekalipun. whats wrong ? estimasi 240 juta penduduk sepertinya bukan jumlah yang sedikit untuk mencari 11 orang pemain bertalenta yang bisa menuntaskan dahaga gelar seluruh pencinta sepakbola tanah air.

Kita tak akan pernah mengangkat trophy selama sepakbola masih menjadi ladang para pemangku kepentingan negeri ini dalam menguatkan hegemoni kekuasaanya. Selamat tinggal prestasi TIMNAS. gelar juara hanya untuk negara yang sepakbolanya tidak dicampur baur dengan kepentingan politik. tapi mari memaklumi, karena kita sedang bermukin di negara bernama Indonesia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s