Oh Arsenal,oh PSM Makassar

269003_236765406344651_100000335795144_817351_2668827_nTerlalu berlebihan memang membandingkan klub sekelas Arsenal yang selalu menjadi langganan papan atas Liga Inggris ( The Big Four ) dengan tim kebanggan masyarakat Sulawesi selatan PSM Makassar. Tapi dari jatuh bangunnya prestasi kedua kesebelasan, bolehlah diambil sebuah komparasi.

Arsenal, klub asal london utara dengan sebutan The Gunners, terkenal dengan kebiasaan mengorbitkan pemain muda menjadi superstar dan kemudian menjadi incaran klub – klub besar lainnya di belahan benua biru. Contoh teranyar adalah hengkangnya mega bintang Cesc Fabregas ke Barcelona, kepindahan pemain muda asal Prancis Samir Nasri dan Gael Clichy ke Manchester City serta kepergian Nicklas Bendtner ke Sunderland.

Eksodus anak asuhan Arsene Wenger tidak berhenti sampai disitu. Jika manajemen klub tidak berhasil merayu para pemain bintangnya, bukan tidak mungkin pemain – pemain seperti Robin Van Persie, Alexander Song dan Andrei Arshavin akan meninggalkan Emirates Stadium setelah kontrak mereka habis satu dan dua tahun mendatang. Atau bahkan sebelum masa bakti mereka berakhir.

Setali tiga uang, PSM Makassar adalah salah satu keseblasan di Indonesia yang dari tahun ke tahun selalu di huni oleh pemain – pemain muda bertalenta. Sayangnya skema pengelolaan klub yang selalu di dengung- dengungkan oleh manajemen, yakni membina pemain muda untuk kemudian menghasilkan tim yang tangguh dalam beberapa Tahun kedepan, selalu kandas di tengah jalan. Ayam Jantan dari Timur kerap ditinggal oleh para punggawa mudanya, justru ketika pemain bersangkutan sudah menunjukkan grafik permainan yang menggembirakan.

Masih lekat diingatan kita, bagaimana Rachmat Latief, Ardan Aras, Jayusman Triasdi, Diva Tarkas dan Hendra Ridwan harus meninggalkan Juku Eja, julukan PSM Makassar, dengan berbagai pertimbangan teknis dan non teknis. Mereka adalah pemain – pemain muda yang bisa menjadi penopang terbentuknya sebuah keseblasan yang bisa di perhitungkan di masa mendatang.

Intinya, manajemen PSM Makassar gagal memaintenance pemainnya untuk menunjang skema pembantukan tim tangguh dalam jangka panjang. Mungkin agak berbeda dengan Arsenal yang mengalami nasib serupa karena paceklik gelar yang di alami tim gudang peluru dan kemudian menggoyahkan loyalitas skuat The Gunners, PSM ditinggal pemainnya lebih karena kegagalan dalam melakukan deal harga. Tribun Timur dan Harian Fajar Makassar ( 13/10 ) malah menulis ancaman dua pemain asing PSM Makassar, David Da Rocha dan Mitrovic Srecko yang akan meninggalkan PSM Makassar karena manajemen klub, dinilainya terlalu bertele – tele dalam melakukan loby. Analisa banyak kalangan, faktor biaya adalah penyebabnya.

Membangun sebuah tim yang solid memang butuh biaya yang tidak sedikit. Dalam beberapa musim, PSM Makassar selalu terkendala dana untuk mendatangkan pemain berlabel timnas sehingga memilih skema pembinaan dan membidik prestasi dalam jangka panjang. Arsenal pun selalu irit dalam mendatangkan pemain “jadi” dengan kualitas yang mempuni untuk menunjang talenta – talenta muda mereka. Alhasil, prestasi menjadi jauh api dari panggang. Mental juara dan inkonsistensi akhirnya menjadi sebuah faktor yang menjadikan gelar Champione seperti hanya sebuah impian.

Untuk PSM Makassar sendiri, kendala meraih gelar juara memang tak semata karena faktor internal. Format kompetisi yang selalu berubah – ubah, kebijakan umum persepakbolaan di indonesia yang belum konsisten, polemik di tubuh PSSI dan sepakbola yang kadang masih dicampur adukkan dengan persoalan politik, sedikit banyak pasti mempengaruhi pola pembinaan yang sudah dirancang secara sistematis. Output dari akumulasi permasalhan tersebut tidak saja berimbas ke klub peserta liga tapi juga kepada Timnas Merah Putih. Terakhir anda pasti sudah menyaksikan sendiri, bagaimana Firman Utina dan kawan – kawan di pecundangi tim – tim asal Asia lainnya dalam memperebutkan tiket putaran final piala dunia di Brasil 2014 mendatang.

Saya tak bermaksud menganalisa lebih jauh soal persepakbolaan. Tulisan ini tak lebih sebuah curhat seorang supporter dua klub berkostum merah, Arsenal dan PSM Makassar yang dalam beberapa tahun terakhir mengalami dahaga gelar juara. tapi sebagai seorang pendukung fanatik, boleh dong saya sedikit protes dengan kebijakan sang professor Arsene Wenger yang keukeuh aja gak mau cari pemain – pemain senior berkelas untuk mensupport mental The Young Guns seperti Jack Wilshere, Aron Ramsey, Emanuel Frimpong, Alex Oxlade-Chamberlain dan Ryo Miyaichi.

Nggak salah dong kalau saya gregettan dengan ulah pengelolah klub PSM Makassar yang saking leletnya sampai membuat pemain berkelas seperti Rocha dan Mitrovic mengeluarkan ancaman hengkang karena tidak juga di sodori draft kontrak. Semoga ini sekali lagi bukan karena alasan politis. Mitrovic dan Rocha adalah pemain yang direkrut bukan atas rekomendasi konsorsium. Jangan – jangan nih, keduanya  sengaja di biarkan pergi untuk kemudian mendatangkan pemain baru yang memang di restui oleh konsorsium sebagai pemegang saham terbanyak di PSM Makassar. Apapun itu, Semoga kedua tim bisa tetap diperhitungkan.. !

4 thoughts on “Oh Arsenal,oh PSM Makassar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s