Sakit

Jika sehat dan sakit itu sebuah pilihan, tak ada satu orang pun yang ingin sakit ! Setiap individu menginginkan selalu sehat dan bugar. Sayang, karena tak satu pun ciptaan Tuhan bernama manusia yang punya kuasa menolak sakit. Dokter sekalipun ! Orang kaya bisa sakit, orang miskin apalagi. Selebriti bisa sakit, demikian pula dengan orang awam. Olahragawan saja bisa tiba – tiba terkapar ketika masih berada di arena pertandingan. Sakit dan ketidakberuntungan, bisa datang kapan saja, bahkan kadang tanpa tanda – tanda. Sakit adalah bagian hidup yang akan datang layaknya sebuah siklus.

Kemarin saya habis sakit, sakitnya sih biasa. Yang bikin saya seperti pesakitan, justru karena konsekuensi dari sakit itu :  tak boleh banyak bergerak, Tak boleh makan ini, tak boleh minum itu, Harus seperti ini gak boleh seperti itu,!! Menyebalkan. Tapi keluhan toh tidak akan banyak menolong. Hanya dua hal yang akhirnya bisa saya lakukan ; Berobat dan berdoa lalu selanjutnya mencoba  “menikmati” sakit itu.

Ya menikmatinya. Ketika harus terbaring tak berdaya karena sakit, ternyata banyak hal yang bisa saya lakukan dan justru tidak dapat dilakoni di saat sehat, membaca buku misalnya. Terhitung lima judul buku yang saya tuntaskan dari atas tempat tidur dan sofa. Kicau Kacau nya Indra Herlambang, The Naked Traveler nya Trinity, Buku Marmut Merah Muda Tulisan dari Raditya Dika, Buku why man need sex and woman need love dan satu lagi buku yang saya lahap, Ruang Publik yang tercederai ( yang saya sebut terakhir, sebenarnya kurang recommended buat orang sakit he he..)

Selama sakit, saya memiliki banyak kesempatan berinteraksi dengan keluarga. minimal tidak lagi buru – buru meminta mereka termasuk ibu saya menutup telpon karena saya sedang sibuk di depan komputer. saat terbaring lemah justru saya lebih banyak tau tentang keberadaan teman – teman saya, lagi – lagi lewat bantuan teknologi ciptaan Mark Zuckerberg. Dari facebook saya jadi tau tentang teman yang membatalakan pernikahannya, rekan kerja yang anaknya kena cacar, sahabat saya yang ngomel – ngomel karena tetangganya hampir tiap pagi berantem, teman diseberang pulau yang terancam di pecat karena perusahaan tempat dia kerja sedang melakukan efisiensi karyawan.

Ketika sakit saya berkesempatan ngobrol lama dengan teman baik di kampus dulu yang terkhir saya temui saat acara wisuda, padahal kami tinggal satu kota. Sungguh kesibukan sudah membuat kehidupan sosial saya agak terganggu.

Saat tempat tidur menjadi teman, membuat saya semakin yakin, betapa kasih sayang seorang ibu tidak pernah pudar sepanjang masa. Ibu selalu setia mijitin kaki dan lengan saya sampai saya tertidur. Beberapa kali saya meminta beliau untuk istirahat saja, tapi jawabannya tetap sama : belum mengantuk. Padahal saya tau betul beliau dalam kondisi lelah. Persis seperti yang kerap dilakukannya ketika saya mesih kecil dulu. Bahkan, tak jarang ketika  terjaga, saya masih temui beliau berada di samping tempat tidur, meskipun sudah dalam kondisi terlelap. Jadi ingat,. saat ibu saya sakit dan saya menelpon untuk menanyakan kabar, jawaban yang saya temui hampir seragam “saya baik – baik saja nak”. sungguh seorang ibu selalu memikirkan kondisi anaknya dan tak pernah mau membiarkan anaknya memikirkan kondisinya.

Ketika badan saya ambruk setelah setiap hari dikepung oleh pekerjaan yang menumpuk, saya jadi tau, betapa saya memiliki teman – teman terbaik yang selalu setia memberi support , mengantar ke dokter, mengantarkan makanan setiap pagi dan dengan senang hati menebus resep di apotik ( pake di bayarin pula he he he.. ). Ketika segala sesuatunya serba dibatasi, sejatinya hal itu menjadi warning, jika suatu waktu, entah 30 atau 40 tahun mendatang, akan datang suatu masa dimana tidak semua kenikmatan duniawi bisa kita rasakan,  meski mungkin saat itu kita dalam kondisi berkecukupan. Saat dimana makanan serba lezat hanya bisa dinikmati oleh mata dan ditolak oleh tubuh renta renta kita.

Sakit membuat saya sadar. kadang memang kita harus mengistirahatkan badan dari tekanan rutinitas yang menggerogoti, bukan sekedar untuk mencegah sakit, tapi  untuk memberi  ruang kepada diri kita hadir di saat  orang – orang di sekitar kita butuh.  Lewat penyakit itu Tuhan sedang mengingatkan, diluar sana ada banyak hal yang sejatinya di lakukan ketika tubuh dalam kondisi sehat. Memberi support ketika teman kita gagal melangkah ke pelaminan, hadir sebagai tempat berbagi saat sahabat terancam di PHK, sekedar memberi comment di status facebook seorang rekan kerja tentang anaknya yang kena cacar atau berkunjung kerumah sahabat terbaik yang sangat lama tidak kita temui.

Dan yang terpenting, ada seorang ibu yang mungkin sangat menantikan kita memberi kabar, minimal lewat telepon.  Ibu yang kadang ketika sedang sakit, lebih memilih anaknya tidak mengetahuinya ketimbang harus mengabarkannya dan membuat sang anak jadi gelisah. Sosok yang kasih sayangnya selalu tercurah sepanjang masa. dan mereka itu ibu kita.

 

“Selain sedekah, satu hal yang bisa memperpanjang usia dan membuat kita senantiasa sehat adalah bersilaturrahmi”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s