Menonton Penonton

Sejak hingar bingar piala AFF tahun kemarin, tiba tiba saya sangat berhasrat merasakan atmosfir luar biasa di Gelora Bung Karno. Atmosfir yang selalu membuat siapapun merinding ketika Firman Utina dan kawan – kawan bertanding di stadion kebanggan Indonesia itu. Buat saya pribadi, jangankan berada di Gelora  Bung Karno, melihat suasana di stadion yang selalu disesaki puluhan ribu manusia lewat layar kaca saja, sudah cukup membuat luapan fanatisme saya menggelora seketika, Apalah lagi kalau dapat kesempatan mengisi salah satu kursi di stadion terbesar di indonesia itu. Belum apa – apa saya sudah membayangkan  duduk manis di bangku salah satu tribun dengan kostum dan berbagai aksesori berwarna merah. Menikmati detik – demi detik sebelum pertandingan di mulai, berbaur dalam gemuruh suara supporter dari seantoro stadion, ikut menyanyikan Indonesia Raya dengan telapak tangan di dada dan berteriak histeris ketika Boaz Salossa atau El Loco menceploskan si kulit bundar ke gawang lawan.

Bukan hanya itu, sebuah kamera saku akan saya siapkan untuk merekam setiap momen – momen menarik yang terjadi di stadion. tak hanya dilapangan, hal – hal unik yang justru kerap kita temui di tribun penonton, akan saya dokumentasikan sebagai bukti sejarah :p. Mulai dari cara supporter  berpakaian, aksesori yang  mereka kenakan, model rambut, ekpresi penonton ketika Indonesia menang atau kalah sekalipun dan berbagai macam tontonan lain di stadion yang saya yakin akan lebih banyak ketimbang yang sering disorot kamera tivi di sela sela pertandingan ( kebanyakan sih yang banyak ketangkap kamera di sela – sela pertandingan adalah sosok cewek manis yang lagi duduk ditribun dengan dandanan yang bikin mata segerrr, biasanya Kiki Amalia atau artis – artis yang kebetulan hadir menonton ).yuppp.. Suasana di tribun penonton kadang memang lebih menarik ketimbang pertandingan di lapangan hijau ( apalagi kalau permainannya memang kurang greget xixixixii.. )

Tapi hasrat tinggalah hasrat, berbagai kendala dan keadaan yang belum berpihak, membuat saya urung bisa merasakan suasana di Gelora Bung Karno. tapi dari layar tivi toh saya masih bisa menyaksikan nasionalisme sesaat yang selalu menggelora di dada putra putri bangsa setiap Bambang Pamungkas Cs bermain. soal buncahan nasionalisme spontan ini, mungkin benar apa yang dikatakan seorang teman di account FB saya, katanya ada tiga hal yang bisa membangkitkan nasionalisme kita dalam waktu singkat : bencana alam, sepakbola dan gangguan Malaysia. Analisa yang mungkin lebih bermaksud guyon, tapi kalau anda mau bukti soal Fanatisme dan Nasionalsme musiman itu, lihat dan rasakan sendiri efeknya ketika anda berkesempatan hadir di Gelora Bung Karno, atau saksikan dilayar kaca jika memang belum memungkinkan berbaur dengan lautan merahputih yang selalu terlihat tatkala Timnas tampil di Senayan.

Bukan hanya itu, nun jauh dari kerumunan pendukung Timnas di senayan, disebuah ruang lain bernama dunia maya, akan kita rasakan keriuhan yang tak kalah gegap gempitanya dengan atmosfir di tribun penonton. Dari status para facebookers dan timeline para tweeps, bentuk nyata perilaku supporter di lapangan tergambar dari kalimat – kalimat atau kata kata yang merekaposting jauh sebelum bertanding, saat pertandingan berlangsung atau setelah peluit panjang tanda pertandingan berakhir, dibunyikan. ada yang mendukung dengan doa, mensupport dengan kata – kata patriotik pembakar semangat, kata – kata I Love You untuk mereka yang tergila gila sama Irfan Bchdim dan Icon Icon khas Indonesia yang biasanya di pasanag di Display Picture BBM. Kadang bendera Merah Putih, Gambar burung garuda, foto pemain, kartun, sampai gambar perempuan sexy nan menggoda yang hanya mengenakan bra dengan goresan cat merah putih di dadanya ( sumpah gambar yang terakhir saya sebut, hanya saya lihat di Display picture BBM teman saya !!!).

Seperti layaknya di stadion, di dunia maya juga ada banyak golongan penonton. ada yang belum apa – apa sudah mengumpat, mencaci dan melontarkan nada pesimis. sepanjang pertandingan dia akan menulis status atau timiline yang bukannya mendukung tapi malah menyumpahi pemain yang kebetulan tidak dalam performa terbaik, sering salah umpan atau salahpassing. Golongan penonton seperti ini jika di beri kesempatan duduk di tribun, tidak akan berhenti mengoceh sepanjang pertandingan bak seorang pelatih kawakan. Bisa jadi dia termasuk orang yang akan melemparkan botol minuman dan mencaci maki wasit ketika Timnas Indonesia kalah. Golongan seperti ini, mohon maaf saya taruh sebagai penonton dengan kasta terendah jika penonton di stadion perlu di klasifikasikan sesuai polah tingkah mereka. 

Golongan kedua adalah Facebookers atau tweeps yang cukup menuliskan doa buat timnas dengan sedikit kata – kata berbau nasionalisme. mereka adalah supporter yang jika berada di pinggir lapangan, akan tampil lebih cool, menikmati pertandingan, bertepuk tangan ketika permainan timnas menampilkan suguhan yang manarik dan memberikan standing applausketika Indonesia mencetak gol, mirip penonton di English Premier Leagueyang biasanya nongkrong paling depan. type penikmat sepakbola seperti ini cenderung lebih kalem ketika Pasukan garuda kalah atau imbang. mungkin mereka hanya akan geleng – geleng kepala, menunduk sedih atau bergegas meninggalkan stadion. mereka cenderung lebih passif dan memang hanya ingin menikmati hiburan dari olah raga paling populer se jagad raya tersebut.

Ada pula Supporter type kritis dengan status atau timeline yang mereka tulis. kadang analisanya jauh lebih tajam ketimbang ulasan komentator sepakbola sekelas Yusuf Kurniawan, Tommy Welly, Ronny Pangemanan, Soraya Hylmi atau bahkan wartawan Senior Budiarto Shambazy. Mereka adalah pecandu bola yang maniak dan selalu menyaksikan tayangan siaran langsung sepakbola dari berbagai belahan dunia. Kasta penonton seperti ini, biasanya mengikuti perekambangan dunia si kulit bundar. mulai dari transfer pemain, klasmen, top skorer, bahkan sejarah sepakbola itu sendiri. Golongan ini sedikit banyak tau hubungan antara politik dan sepakbola serta sepakbola dan sosial ekonomi. saya membayangkan type penonton kritis, ketika duduk di bangku penonton, akan mengomentari pertandingan seperti seorang Presenter sepakbola, sibuk menganalisa kesalahan dan kelebihan pemain kepada orang yang kebetulan ada di sebelahnya. entah orang di sebelahnya dia kenal atau tidak ( di stadion Andi Mattalatta Makassar, saya sangat sering berdampingan dengan orang seperti itu. rada – rada SKSD )

Adapula penonton yang ikut ramenya aja,di account FB atau twitternya biasanya tertulis. “I Love you irfaaaannn. mmmuachhh”atau “hamka Hamzah, kamu cooolll banget sihhh ???” atau “pengen banget jadi pacarnya Philip Youghusband, pemain Filipina ituu” atau “pantasen aja Fhillipina kalah, pelatihnya udah ditaklukin sama sarah Azhari siyy” atau “wuihhh penjaga gawang malaysia itu cucco bo !! mirip VJ Daniel” mereka adalah penonton latahan. karena banyak yang sedang membicarakan sepakbola termasuk pemainnya yang kebetulan berwajah menawan, ikutlah mererka dalam euforia itu. biasanya mereka adalah kaum hawa yang sangat tergila – gila dengan seorang pemain sekelas Irfan Bachdim, Hamkah Hamzah atau Yongki Ariwibowo. Jika  golongan ini harus diperbandingkan dengan supporter di stadion, mereka adalah penonton yang datang dengan dandanan yang tetap modis, menenteng sekantong cemilan dan minuman dingin, plus kipas buat menahan suhu panas dalam stadion.pada golongan ini biasanya terdapat pula para perempuan yang kebetulan ikut pasangannya yang doyan nonton bola. Masih banyak type penonton yang mungkin lalai dari amatan saya, tapi maaf.. ini hanya analisa dangkal saya sebagai penggemar sepakbola dan pemilik account FB dan Twitter, jangan diambil hati.

Tapi jika ada golongan penonton yang menjadi sorotan pasca kekalahan Timnas Indonesia dari Bahrain kemarin, mereka adalah golongan yang pertama saya sebut. Golongan yang telah menghancurkan reputasi bangsa ini, membuat seorang Presiden harus angkat kaki dari stadion dan menjadiHeadline koran – koran lokal dan nasional keesokan harinya, membuat golongan supporter lain terancam tak dapat lagi menyaksikan Timnas berlaga di Senayan karena kemungkinan sanksi. Membuat kita harus mengumpat kesal di status FB kita, bukan hanya karena kekalahan tapi juga karena perilaku bodoh sebagian orang yang telah menodai nilai – nilai Fair Play dari sepakbola itu sendiri.

Tapi Nasi sudah jadi bubur, kejadian di Senayan selayaknya menjadi pelajaran dan kita sikapi dengan bijak. Para penonton dan supporter yang ada di Stadion dan juga di dunia maya, adalah Realitas masyarakat kita secara umum. Masyarakat yang butuh hiburan dan sedikit tempat untuk melepas beban hidup, melepas kepenatan akibat himpitan ekonomi dan persoalan sosial. Bagi mereka, sepak bola laksana sebuah surga.

So, jangan salahkan penonton kalau menumpahkan kemarahan dan gundah yang sebenarnya sudah lama menjadi api dalam sekam. Kemarahan karena beban di hati, pikiran dan otak akibat masalah hidup yang terus mendera. Jangan salahkan mereka jika kemarahan itu harus di tuntaskan dengan lemparan botol minuman kelapangan. Itu karena ekspektasi  yang tak terpenuhi. ekspektasi di lapangan hijau ataupun ekspektasi dalam hidup. mereka kehilangan tempat mengeluh, kehilangan figur teladan. Mereka butuh tempat berkeluh kesah dan figur anutan yang tak pernah didapatkan dari pemimpin dan politisi yang sibuk mengurusi sendiri tanpa mau memikrikan beban hidup rakyat ( baca : penonton). Ketika penonton mencaci maki Markus Horison, Octavianus Maniani atau Pelatih Wim Rijsbergen. sejatinya mereka sedang mencaci penentu kebijakan di negeri ini yang sama sekali tak pernah mau tau apa yang sedang mereka rasakan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s