Galau Day

Dari jarak hanya sekitar dua meter, terlihat jelas betapa sorot mata perempuan itu  memandang laki – laki tegap didepannya dengan tatap mata penuh kasih, mesra sekali dan terlihat sangat tulus. Dari gesture keduanya pun, sangat jelas kalau mereka sedang kasmaran, sampai café yang sedang kami tempati ini jadi seperti milik mereka berdua saja, Damn..!!

Tapi kenapa juga ya saya jadi memperhatikan mereka ? apa karena di Cafe nan nyaman ini tak cukup banyak obyek yang bisa menjadi sasaran perhatian saya, ? Tidak juga,. Jika mau jujur, sesungguhnya saya memang iri ( bukan dengki yaa ) rasa iri saya itu juga bukan kepada laki laki berbaju Polo Shirt yang sedang membelakangi saya. Sepertinya saya hanya merasa keadaan sedikit  tidak adil.

Dua hari lalu saya bertemu dengan teman sekampus dulu di sebuah toko buku dan mengabarkan perkawinan yang akan dilangsungkannya dengan seorang laki – laki teman facebook nya yang baru dua bulan dia kenal ( untuk anda yang punya kisah yang sama, berterimakasih banyaklah pada Mark Zuckerberg yang telah menemukan Social Media nan ajaib itu ).

Yang kedua, Sebelum berkunjung ke kafe ini, saya menerima undangan via sms dari teman sebangku semasa SMA untuk hadir di acara Aqiqah anak mereka yang ke dua. hasil pernikahannya dengan teman sekelas kami yang di temuinya pada acara reuni akbar sekolah. tak butuh waktu lama untuk mereka  menetapakan hari pernikahan : satu bulan !!!!. Rentetan skenario alam nan memilukan itu masih ditambah dengan sebuah tontonan di depan mata : pasangan yang sedang ngobrol dengan jidat yang nyaris nempel.

Sederet peristiwa yang saya lalui dalam beberapa hari itu, spontan menimbulkan seribu tanya. Segampang itukah teman – teman saya menemukan pendamping hidupnya ? dan sebegitu tidak adilkah alam semesta ini sampai saya begitu sulit bertemu dengan orang yang membuat saya yakin akan menjadikannya “sesuatu” ( syahrini mode : on ) di masa depan ? kenapa saya selalu bertemu orang yang salah diwaktu yang salah? kenapa Tuhan tak mempertemukan saya dengan siapa saja yang memang ditakdirkan untuk saya, membuat kami sama – sama nyaman dan akhirnya mantap untuk berucap “Ayoooo Sekolah,..” eh.. menikah ding. kenapa setiap upaya saya kerap patah ditengah jalan ? padahal saya sudah cukup gigih, mulai dari usaha yang soft  sampai yang ekstrim sekalipun😀 – ( dan kenapa saya selalu di tinggalkan ketika sudah bertemu seseorang dan berencana menjadikannya pasangan hidup, maaf pertanyaan terakhir ini hanya curhat colongan, forget it ! )😦 .

Saat kembali menyaksikan pasangan yang sedang bercengkrama didepanku ini , tiba – tiba terbayang cerita – cerita melodrama yang setiap hari wara wiri di hampir seluruh televisi swasta kita. Mungkin mereka ini adalah bentuk nyata dari cerita – cerita itu : Seorang laki – laki  menyebrang  disebuah jalanan sepi, hampir ditabrak mobil sedan yang dikemudikan seorang perempuan, berdebat, kenalan, pacaran seperti yang sekarang mereka lakukan, menikmati manis dan indahnya asmara, lalu ending cerita membawa mereka pada mahligai perkawinan, Duh sebegitu simpelkah cinta mempertemukan meraka ?

Mungkin saya terbawa perasaan gara – gara suka ikut nonton sinetron – sinetron yang sebenarnya saya tau betul, kerap menampilkan lakon yang sangat jauh dari realitas yang ada. Dan seharusnya kita protes sama pemilik Tv, Production House dan para sutradara. Dengan teori jarum hipodermik nya, Media TV begitu dahsyat memegang kendali pikiran khalayak yang pasif tak berdaya. Kekuatan media yang mempengaruhi khalayak ini beroperasi seperti jarum suntik, tidak kelihatan namun berefek. mereka sudah membentuk kita menjadi manusia anti-logika, anti-kecerdasan dan berselera rendah. Dan seperti biasa mereka akan berlindung dibalik kata  ‘selera masyarakat’. Mereka telah merusak pikiran kita untuk selalu berpikir serba instan dalam berbagai hal termasuk dalam menemukan pasangan hidup.

Tapi suka atau tidak suka, rela atau tidak rela, pertemuan dan interkasi saya dengan kedua teman saya itu dalam waktu yang berdekatan, pemandangan yang terpampang saat ini serta tayangan – tayangan sinetron tidak masuk akal tersebut, telah menebar teror psikologis yang dalam. Sebuah teror yang sebenarnya sudah hadir sejak satu dua Tahun terakhir tatkala usia saya mulai masuk fase matang ( malu bo nyebut tua !).

Pressure itu tiba – tiba datang  Dari sodara, teman sampai ibu saya sendiri. Bahkan dalam dua bulan ini, ibu saya semakin intens bertanaya soal pasangan hidup. sialnya lagi, beliau tak bisa lagi mendengar seribu satu alasan bahkan candaan – candaan ( dengan maksud ngeles ) tentang pasangan hidup yang sering saya lontarkan. kata kata yang sering beliau ucapkan akhir – akhir ini malah membuat teror itu semakin nyata “usia manusia itu tidak ada yang tau nak, siapa yang bisa menebak jika besok, minggu depan atau Tahun depan saya tak lagi ada didunia ini.. saya benar – benar tidak akan bisa tenang sebelum melihat kamu punya pasangan ( di translate dari bahasa daerah yg digunakan ibu saya sehari – hari :D )”  siapa coba yang tidak tersentuh bahkan merinding mendengar kata – kata sedemikian dalam dari orang yang begitu kita cintai dan hormati.

Tekanan psikologis itu masih ditambah dengan sindiran sodara, sepupu bahkan ponakan setiap ada acara ngumpul – ngumpul bersama keluarga. adakah ini karma anak bungsu yang selalu dimanjakan oleh perhatian dan kemudian perhatian itu berubah jadi bumerang yang menyerupai monster dalam film Teenage Caveman?  gara – gara teror ini, sampai pernah punya niat mendaftar acara Take Him Out di Indosiar, meski kemudian niat itu saya urungkan setelah memperkirakan kalau semua perempuan yang jadi peserta akan mematikan lampunya sebagai tanda penolakan. beuwwww.., Sekali lagi tayangan Tv penuh rekayasa ini telah berhasil menanamkan persepsi betapa mudahnya mendapatkan soulmate, hanya butuh sedikit bakat untuk dipertontonkan di depan lawan jenis, is that so easy ? i don’t think so

Saya sadar bahwa dalam perjalanan hidup, kadang kita di perhadapkan pada fakta kalau setiap pribadi  tak sepenuhnya hidup untuk dirinya sendiri dan kukuh dengan prinsip my life my rules. dan lagi saya tak boleh egois, saya hidup pada lingkungan keluarga, saya memiliki 2 orang tua yang masih lengkap, saya berada pada lingkungan sosial yang kadang menghakimi sesorang tanpa ampun. Lepas dari kesdaran itu, keegoisan saya sebagai manusia normal  sering kali berontak, haruskah saya memaksakan untuk tidak sendiri ? adakah yang salah dalam hidup saya jika  belum menemukan pendamping hidup ? Pantaskah usia menjadi alasan untuk segera menentukan pendamping ? lalu adilkah untuk pasangan saya kelak jika ternyata saya memilihnya untuk memenuhi ekspektasi sosial di sekeliling saya ? aduh,.. ternyata masalah ini memang tak seringan yang saya bayangkan.

Dulu saya begitu enteng dengan status apapun yang saya sandang. bahkan dalam beberapa kesempatan saya sangat menikmati kesendirian, ataukah saya sudah jatuh cinta dengan kesendirian ini dan tak ingin lagi berpaling ke sosok lain ? aduh jangan sampai !!!. Orang – orang yang sedang terpojok seperti saya akan menyampaikan seribu satu opini untuk tidak terus terdesak , mulai dari yang sangat basi seperti jodoh di tangan Tuhan sampai alasan yang cukup Rasional seperti menunggu pendamping yang baik ketimbang melewatkan waktu bersama pilihan yang salah. de el el🙂 .  Jujur kadang alasan itu terdengar seperti upaya mempertahankan ego dan menutupi kelemahan dan ketidak beruntungan dalam mencari pasangan ketimbang sebagai sebuah gagasan yang logis. Apapun itu, tak sedikit orang yang sedang dalam posisi  seperti saya.

Kadang saya berpikir sedikit gila,  mungkin perlu ada semacam Panti Jomblo yang bisa menampung jomblo – jomblo matang ( baca : Tuwir,. Hikss ) seperti kami ini untuk di brain storming, mendapatkan training, mungkin sedikit kursus kepribadian, plus latihan fisik seperti Cardio dan bisep untuk sedikit menambah daya tarik dari aspek fisik dan performance, ini penting untuk kami yang kerap termarjinalkan dan dianggap kaum kelas dua :D ,  sekali lagi, ini hanya ilusi  dan paranoid berlebihan serta sedikit ide gokil, gak usah digubris biar gak ikut – ikutan gila😀😀😀

Dua jam berlalu, Pasangan super mesra di depan saya itu akhirnya bergegas pergi. Sang wanita menggelayut manja pada sang arjuna ( istilahnya mulai agak lebay,.. ). Lalu pintu kafe menghilangkan mereka dari pandangan saya. berhubung tak ada lagi pemandangan yang cukup menarik,  sayapun berniat untuk segera beranjak, berharap ketika saya berdiri lalu berbalik,  seorang perempuan berparas ayu tiba – tiba menubruk saya tanpa sengaja ( atau dengan sengaja juga gak apa apa), lalu tasnya terjatuh dan isinya berantakan, ketika saya berniat memungut tas tersebut, dalam waktu bersaman dia juga sedang jongkok lalu mata kami beradu, berbalas senyum, kami sama – sama terpana dan …. sebelum hayalan ala sinetron ini semakin ngawur, mari kita akhiri ceritanya.,…..Selamat Raam Punjabi ! anda sudah berhasil meracuni pikiran saya dengan hayalan – hayalan tidak masuk akal. ( The Project. Pengayoman Makassar. Agustus 2011 )

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s