No Fear

Mudik memang selalu menyisakan cerita menarik dan kadang bisa bikin kita senyum – senyum sendiri. Kemarin saya habis pulang kampung dan bertemu dengan seorang laki – laki tua yang ketika kanak – kanak dulu sangat sangat sangat  saya takuti ! sumpah, saya bisa lari terbirit – birit ketika Ibu atau siapapun menyebut namanya. Apalagi kalo sampe berpapasan di jalan.

Mungkin ibu saya salah menjadikan si bapak tua yang ternyata sampai hari ini masih sehat walafiat itu sebagai obyek untuk menakut – nakuti, ketika saya sedang nangis atau melakukan sesuatu yang beliau larang. Kalau gak salah, kata para psikolog, hal – hal seperti itu bisa mengganggu perkembangan mental anak. Mungkin sang anak bisa jadi penakut atau malah berjiwa kerdil dikemudian hari. Entahlah…

Saya bertemu dengan pak tua itu pagi – pagi di serambi rumahnya yang sederhana. Kamipun bercerita banyak tentang suasana kampung yang sudah banyak berubah, dirinya yang sudah tidak bekerja lagi dan tak lupa dia menanyakan “kapan saya menikah”😦 . Obrolan tentang bagaimana saya sangat menakuti beliau saat masih kecil, membuat kami sama – sama ngakak.

Ketika perbincangan kami semakin seru, tiba – tiba pak tua yang selalu terlihat ceria itu ( heran juga kenapa saya bisa takut, padahal mukanya gak seram ), berucap : syukurlah kamu sudah kerja, saya masih ingat bapak dan ibu kamu dulu sering datang ke saya minta pinjaman uang untuk membiayai kuliah kamu.

Saya tersentak. yang saya tau, ibu hanya kerap meminta bantuan sama paman saya yang juga tinggal dikampung ketika tiba saat saya harus bayar uang semester. Rupanya banyak hal yang tak pernah saya tau tentang bagaimana orang tua saya berjuang menyekolahkan kami anak – anaknya. Yang saya bayangkan, Ibu atau Bapak saya sepertinya tak ingin saya gelisah dan segan ketika saya meminta duit untuk keperluan kuliah dan untuk hidup sehari – hari. Mereka hanya berucap : ada kok, lagian paman kamu juga siap membantu. Dari pengakuan pak tua itu jelas bahwa perjuangan mereka tak semudah yang kerap disampaikan.

Sungguh orang tua kita tak pernah mau kita tau kesusahan yang mereka alami. Mungkin berbeda dengan kita anak – anaknya yang biasanya baru menelpon ibu atau bapak kita untuk curhat tatkala menemui kesulitan hidup.

Ibu mungkin salah dengan sikapnya yang membuat saya sangat takut dengan pak tua teman saya ngobrol itu saat kecil dulu. Tapi beruntuglah, Oleh kedua orang tua, saya juga banyak dibekali dengan pelajaran hidup yang membuat saya sama sekali tak takut dengan kerasnya hidup dikemudian hari..Buktinya saya gak takut lagi sama Pak Tua itu hehehehe..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s