Kita dan Korupsi

Kejahatan bisa terjadi karena ada niat dan kesempatan, waspadalah.. waspadalah !!. Anda yang sering menonton tayangan BUSER di RCTI, pasti sangat familiar dengan kalimat ini, sejenis closing statement yang selalu diucapkan oleh bang Napi. Warning si abang yang selalu tampil dengan potongan seperti layaknya preman tersebut tentu berlaku untuk semua jenis kejahatan. Jambret, pelecehan seksual, penipuan, cyber crime dan juga korupsi. Korupsi masuk kejahatan juga kan ?😀 .

Pertanyaan apakah korupsi masuk kategori kejahatan, bukanlah sesuatu yang berlebihan. Maraknya praktek korupsi disemua lini kehidupan negeri ini sudah jadi rahasia bersama. Perilaku korup menjelma sebagai sebuah kelaziman sistemik yang dilakukan oleh orang yang mengaku dan memiliki simbol religitas sekalipun, seperti halnya gelar Haji. Perilaku korup dianggap sebagai sesuatu yang jamak. jangan heran kalau kata – kata seperti persenan, fee, jatah, uang rokok atau apapun istilahnya, menjadi bahasa umum dan tidak mengandung makna yang buruk. Mungkin dosanya dianggap setara dengan membuang sampah bukan pada tempatnya.

Kembali ke pesan Bang Napi, Apakah mereka yang berkoar – koar, mencaci, menghujat atau bahkan mengutuk para koruptor bisa dinilai sebagai seseorang yang benar – benar bersih ?. Mereka  itu termasuk diri pribadi saya, bisa jadi  individu yang beruntung tidak berada pada posisi yang memungkinkan atau memberi peluang besar untuk korupsi. Contoh kecil, perilaku korup seperti apa yang bisa saya lakukan dengan profesi saya sebagai penyiar yang digaji tiap bulan sesuai dengan jam siaran saya ? ( terlepas dari korupsi waktu atau menggunakan fasilitas kantor diluar peruntukannya ya ..😀 ). yang dimaksudkan disini adalah korupsi duit yang oleh para pengamat itu disebut sebagai biang hancurnya sendi – sendi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Tak ada yang bisa menjamin  jika suatu waktu, saya pribadi, para pengamat atau penggiat LSM itu berada di posisi basah. Masikah idealisme menjadi pegangan ? Jawabannya, tergantung Moral Capcity dan Integrity tiap individu. Masihkah kita akan berkoar berkoar dan mencaci perilaku korup saat rengekan manja anak kita di rumah  ( maksudnya anak anda, saya belum berkeluarga :p ) terngiang – ngiang untuk dibeliin mainan yang harganya tak terjangkau itu, tegakah kita ? kuatkah kita ketika godaan untuk mengendarai mobil mewah seperti halnya tetangga sebelah, tak bisa hilang dari pikiran kita ?. Wallahualam. tapi semoga kita semua menjadi pribadi yang kuat dan dilindungi.

Sekali lagi, saya jadi orang beruntung yang bisa menyaksikan langsung realitas hancurnya moral bangsa ini di depan jidat, hidung dan mata saya. Beruntung karena dengan menyaksikannya, sekaligus sadar, betapa Tuhan menyayangi saya karena tidak berada pada sebuah tempat dimana sistem yang berlaku, akan membentuk watak kemanusiaan saya menjadi dangkal lalu seenaknya memperkosa hak – hak orang lain.

Sebagai Produser program acara pada sebuah radio swasta. Tak urung saya berada pada posisi dilematis ketika berhadapan dengan klien, terutama soal tarif Air Time sebuah program acara. Mark up adalah hal yang lazim dan tidak membuat mereka risih untuk memintanya. Sekali lagi saya beruntung persoalan fulus menjadi otoritas divisi lain di tempat saya bekerja. Ironinya, meminta kelonggaran soal nominal di nota pembayaran, juga dilakukan oleh lembaga – lembaga yang aktif menyuarakan pemberantasan korupsi. Miris !!

Dalam skop yang lebih luas, para petinggi bangsa kita yang tersandung kasus korupsi itu, adalah mereka yang sebelumnya sangat anti pada perilaku korup dan sistem yang koruptif. Mereka, diantaranya adalah mantan akitivis yang sepuluh atau dua puluh tahun lalu turun kejalan menggugat pemerintah yang korup. Saya tak ingin membahas lebih jauh soal gagalnya pendidikan moral kita, abainya para orang tua memberikan pendidikan karakter di rumah tangga, gagalnya pemerintah mensejahterakan rakyat  atau minimnya kontribusi para pemuka agama dan tokoh masyarakat menyuarakan betapa perbuatan mengambil hak orang lain adalah tindakan tercela dan sama buruknya dengan apa yang dilakukan maling jemuran yang kemudian mati konyol karena dihakimi massa.

Kita dan mereka yang belum terkoptasi oleh perilaku korup, bisa jadi adalah calon – calon koruptor di masa depan. Dan marilah kita bersyukur kepada Tuhan YME, hingga saat ini tak diberi peluang untuk korupsi. Jikalaupun suatu waktu kita memiliki ruang untuk itu, pastikan kita ( terutama saya Ya Allah ) menjadi pribadi yang kuat untuk menahan godaan tersebut. Jadikan kami sosok yang mampu melihat kenyataan betapa korupsi telah memiskinkan orang lain, Jangan jadikan egoisme membutakan mata hati kami dan tidak sadar bahwa korupsi adalah perbuatan pribadi – pribadi lemah yang hatinya dipenuhi nafsu dan keserakahan. Jadikan kami orang yang selalu berbangga dengan apa yang kami miliki dan tak tergoda merampas hak milik orang lain. Amien !!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s