Manusia bodoh dan Mandy Moore

Apa beda diskotik, Pubnight Clubatau Bar ? pertanyaan superudik ini muncul di kepala saya ketika untuk kali pertama masuk ke sebuah tempat yang oleh para anak gaul zaman sekarang kerap digunakan untuk PartyClubbingDugem, Disko, ajojjing, apalagi ya ? atau apapun istilah yang digunakan untuk kegiatan yang katanya bisa membantu melupakan semua persoalan yang sedang mendera.

Dan dengan alasan untuk menringankan problem hidup itu pulalah yang membuat saya nekad dan pada suatu malam sudah berada di depan sebuah gedung berlantai 3 dengan dentuman suara music yang terdengar sampai ke tempat parkir. Beuw !!! suaranya ngalahin orkes di kampung saya pas ada pesta kawinan ( perbandingan ini sekaligus menegaskan keudikan saya ). Dan dari gedung berlantai tiga ini pulalah sebuah pengalaman bodoh dan sedikit memalukan dimulai.

Bayangkan,.. untuk kali pertama saya mengunjungi tempat yang selama ini hanya saya baca dan saya dengar keberadaannya dari media dan teman teman saya yang kerap berkunjung, sendiri pula!. Dengan langkah yang berusaha disantai santaiin supaya terkesan sudah biasa berkunjung ketempat – tempat seperti itu, saya membuka pintu masuk bertuliskan nama tempat tersebut.

Tiga langkah dari pintu masuk, ketololan itu dimulai, seorang pria berperawakan seperti pengawal Presiden Barrack Obama mencegat saya “mau kemana mas ?” ( hellooo,.. saya mau potong rambut, ya mau masuklah ) sungutku dalam hati merasa mendapat perlakuan kurang simpatik. “kalau mau masuk registrasi dulu di resepsionis mas”  lanjut  mas – mas berpakaian hitam – hitam itu membuat saya dalam sekejap mengutuk dan menyesali ketololan dan ke sok tau an saya.  Kalau lampunya tidak remang – remang, akan sangat jelas muka saya merah merona menahan malu di depan respsionis yang kebetulan face nya cukup lumayan.

Setelah diberi secarik kertas oleh si mbak resepsionis, saya dipersilahkan memasuki pintu ke dua yang langsung terhubung ke sebuah ruangan dengan aroma minuman yang seketika membuat saya sesak. Kepulan asap rokok dan dentuman suara music yang memekakkan telinga membuat saya makin merasa gerah. saat itu terdengar suara DJ dengan music yang biasa terdengar diangkot – angkot.

Sesaat saya terpana menyaksikan pemandangan yang asing untuk orang orang kurang gaul seperti saya ini. perempuan dan laki laki muda ( dan sebagaian orang tua yang nggak ingat umur ) berbaur jadi satu dalam suasana yang penuh hingar bingar itu. “ banyak sekali ya ternyata orang yang memilki problem hidup dan mencari kebahagiaannya di tempat ini ? begitu saya berguman dalam hati menyaksikan kumpulan manusia malam itu.  30 Menit pertama sama sekali saya belum bisa merasakan kenikmatan seperti yang orang orang kerap ceritakan. Yang ada saya malah seperti berada di dunia lain dan berada diantara sosok – sosok aneh seperti dalam film monsters vs aliens nya Reese Witherspoon,.

Sejurus kemudian saya mencoba mengelilingi setiap sudut ruangan itu, berharap menemukan kebahagiaan yang katanya bisa ditemukan di tempat ini, tapi sia sia. Akhirnya saya memilih duduk disebuah kursi di sudut ruangan. bukannya merasa sedikit tenang, semakin lama saya malah semakin merasa lonely on the middle of crowds, padahal diatas stage  sedang berlenggak lenggok 5 orang perempuan muda yang sedang kekurangan pakaian di malam dingin seperti malam itu.

Mungkin memang tempat saya bukan disini. atauuuu oh iya, ada yang kurang… belum ada rokok dan Minuman, dua benda yang sangat asing dalam hidup saya itu mungkin akan jadi pelengkap.. dan kebodohan kedua akhirnya terjadi ketika saya memanggil pelayan yang berdiri tidak jauh dari saya ” mas bagaiman kalau saya ingin pesan minuman ?” tanyaku tanpa bermaksud menyembunyikan muka bloonku saat itu. “kertas yang dikasi resepsionis tadi yang ditukar dengan minuman mas, sini saya bantu untuk tukarkan ?” begitu pelayan beseragam hitam – hitam itu menjawab. nah lho, bukannya kertas itu sudah saya sudah buang di tempat sampah saat masuk di toliet beberapa saat lalu. akhirnya saya hanya bisa celingukan dan membatalkan niat memesan minuman setelah tau jika saya order tanpa selembar kertas itu, saya harus membayar 250.000 rupiah ( maaf saya memang pelit😀 )

Saat kebahagiaan yang saya cari belum juga saya temui, bayangan persitiwa minggu lalu itu kembali berkelebat, peristiwa tragis ketika seseorang yang begitu saya percaya berkhianat dan menyuguhkan pemandangan menyakitkan ketika tanpa sengaja bertemu dengannya disuatu tempat yang tak terduga ( dengan alasan keamanan negara, cerita ini tidak diperpanjang dan diperdetil, lupakan saja😀 ).

Gak tau dari mana awalnya akhirnya jadilah tempat asing ini menjadi pelarian, meski dari hati yang paling dalam, saya sadar betul, pilihan ini tak akan banyak membantu. Pengaruh cerita – cerita sinetron ABG yang merasuki pikiran saya dan rasa Hopeless yang tak terkira ( hallahh.. ) serta sedikit rasa penasaran  mengantarku sampai ke kursi empuk dalam ruangan remang – remang itu. Lamunanku seketika disadarkan seorang perempuan muda berperawakan agak kurus dengan segelas minuman ditangan yang tiba – tiba menghampiri ” boleh duduk disini mas ?”.

Singkat cerita dalam beberapa menit saya sudah terlibat dalam perbincangan hangat dengan perempuan yang mengaku masih duduk di bangku kuliah sebuah perguruan tinggi swasta tersebut. sebuah cerita klasik khas sinetron indonesia kemudian meluncur dari bibirnya, orang tua yang tidak perhatian, merasa tak memiliki teman, kuliah yang berantakan, persaaan priceless, keinginan mencari eksistensi diri dan rasa tak berdaya menghadapi kehidupan kemudian telah membawa perempuan berparas lumayan miripMandy Moore pelantun i wanna be with you tersebut, ke tempat yang membuat telingaku terasa penuh sejak masuk tadi.

Pertemuan dengan Mandy Moore menyadarkanku betapa saya sudah menjelma jadi manusia  supermellow. Apakah aku kurang perhatian dari orang tua ? nggak juga. pun saya tidaklah kekurangan teman, bahkan dalam beberapa kesempatan saya selalu menjai orang yang selalu mendorong teman – teman saya untuk tegar ketika mereka terjatuh. satu lagi, tanpa bermaksud sombong,. saya bukanlah manusia tanpa eksistensi, saya mungkin punya prestasi meskipun minim. lalu kenapa saya bisa berada di tempat ini ? pertanyaan pertanyaan itu terusa membombardir naluri saya. toh saya tidak cukup terhibur dengan apa yang terpampang di depanku. saya lebih menikmati pertandingan PSM Makassar ketika sedang bermain di stadion, biayanya pun sedikit dan tidak perlu harus begadang sampai larut malam.

Mandy moore KW 2 itu membuat saya sadar. Saya sudah menjadi manusia bodoh. bodoh bukan karena tak tahu seluk beluk masuk ketempat ini, bodoh karena saya terlalu jauh mencari kebahagiaan yang sejatinya ada di dalam hati kita masing – masing seperti kata pujangga. bodoh karena telah diperdaya oleh persoalan yang sebenarnya masih bisa saya manage jika tak terbawa persaan melankolis nan mengharu biru ini. bodoh telah berusaha membeli kebahagiaan dengan harga begitu mahal ( setidaknya seharga yg saya bayar di resepsionis ), sementara jika saya berhasil sekalipun memebeli kebahagiaan semu di tempat itu, maka dia akan sirna dengan sendirinya seketika saat keluar, HUFTT ! saya merasa benar – benar jadi manusia lemah, kutukku dalam hati. tekadku untuk keluar dari tempat aneh itu akhirnya datang secara tiba tiba, dengan berat hati saya harus pamit dari si Mandy Moore setelah meminta nomer handphone nya ( kali besok – besok saya butuhkan untuk keperluan wawacara sebagai jurnalis radio ) akhirnya saya punya alasan valid untuk mendapatkan nomer telepon cewek itu :p.

Meskipun sedikit menyesal, di perjalanan pulang saya berusaha untuk positive thinking. bukankah sebagai jurnalis dan broadcaster saya harus tahu banyak hal, termasuk tempat yang baru saja saya masuki ?  dan setidaknya saya tak akan kagok jika bertemu dengan teman – teman saya yang kerap bercerita tentang petualangan mereka di pubnight club, bar and whatever lah. bukankah dengan masuk ketempat itu saya telah memecahkan rekor ke Udikan saya. di usia 31Tahun. Oh My God…. sungguh sangat telat !!!!, ya saya memang kampungan, tidak cool, mungkin juga benar – benar bodoh tak pernah menginjak tempat semacam itu. tapi dalam waktu bersamaan saya merasa manusia paling berani, berani melawan diri saya sediri, and i am proud of myself that has a ability to say NO , No to Drink, No to Drugs and no to smoke ( semoga saya tidak menjadi orang bodoh dengan grammar yang berantakan.. mohon dikoreksi he he he,.. )

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s