Saya Daeng, Saya Makassar !

Karena gak ada kerjaan, kemaren iseng nongkrong di sebuah cafe di bilangan jalan boulevard Makassar. Nongkrongnya sendiri ( seperti biasa ). Orang – orang seperti saya yang hobby menyendiri di keramaian, kerap berbicara dengan dirinya sendiri untuk merespons apa yang disaksikan atau terjadi di sekitarnya. Dalam Ilmu Komunikasi dikenal dengan komunikasi intrapersonal. Seoorang individu menjadi pengirim sekaligus penerima pesan, memberikan umpan balik bagi dirinya sendiri dalam proses internal yang berkelanjutan. itu teori yang pernah saya dapat di bangku kuliah. kalau gak salah ya !

Namanya juga komunikasi tanpa melibatkan orang lain, macam – macam lah yang bisa kita pikirkan. Dari yang kotor ( baca : mesum xixixixi ) sampe yang kreatif dan produktif. Tapi sumpah kemarin itu saya lagi berpikir, kenapa ya kita di makassar tidak memiliki panggilan khusus untuk perempuan yang lebih muda ? ( pertanyaan ini muncul karena saya baru saja tergagap – gagap ketika akan memanggil pelayan cafe, bingung! antara mau manggil mbak atau ibu). Coba ingat – ingat lagi sebutan yang biasa anda gunakan untuk memanggil pelayan cafe ! pasti mbak kan ? atau adek. Tapi sebutan adek buat saya terlalu umum dan bisa digunakan untuk siapa saja yang lebih muda dari usia kita. bahkan kata adek lebih sering saya pakai ketika memanggil anak kecil.

Atau mungkin kata ndi’. Setau saya panggilan ndi’ memang sapaan khas bugis makassar untuk berinteraksi dengan mereka yang lebih muda, laki – laki atau perempuan. Tapi kok sepertinya saya jarang mendengar ada yang menggunakannya?. bandingkan dengan orang betawi. Untuk memanggil seorang perempuan, mereka memiliki perbendaharaan kata yang lebih banyak dan selalu mereka pakai. mereka bisa menggunakan kata sapaan mbak atau mpok untuk yang lebih tua. Orang sunda memanggil teteh untuk perempuan yang lebih tua dan neng untuk yang lebih muda.

Pun untuk laki – laki, kita tak punya panggilan khusus. untuk memanggil laki – laki yang lebih tua, yang paling banyak digunakan adalah kata kakak. Kakak sendiri merupakan sapaan yang 100 persen diadopsi dari bahasa indonesia. selanjutntya untuk yang lebih tua manggilnya pasti pak atau bapak. untuk kalangan laki – laki, paling sering saya dengar justru panggilan yang bersifat ikon pergaulan yang bisa jadi tercipta dalam interaksi antar pribadi pada sebuah komunitas.  seperti panggilan bro, teman atau “darimana saja kawan”, atau yang lebih umum digunakan oleh laki – laki dan perempuan, yakni panggilan ces . kata – kata sapaan itu sepertinya digunakan karena kita tak punya  sapaan khas yang lebih spesifik seperti halnya di bandung yang biasanya menggunakan kata, aa’, akang, atau mang. Di Bali untuk memanggil laki – laki yang lebih tua memakai sapaan bli. Uda untuk orang minang.

Godaan kalau nongkrong sendiri😀

Saya gak tau, apa sebenarnya kita punya panggilan khusus tapi punah karena kita tak pernah menggunakannya dan lebih senang mengimpor kata sapaan dari luar. jangan – jangan panggilan DAENG, dulunya dipakai umum untuk laki – laki yang lebih tua tapi karena kita tak pernah mau memakainya, akhirnya panggilan itu terkesan kuno dan identik dengan kaum marjinal seperti tukang becak, tukang sapu jalan, penjual sayur keliling dan pedagang di pasar ? kalau benar seperti itu, sungguh kita sudah menjadi generasi yang tidak menghargai warisan dan nilai – nilai dari nenek moyang.

Saya tak pernah menemukan literatur yang menjelaskan soal panggilan Daeng itu. Tapi buat saya pribadi, sebutan daeng itu adalah sesuatu yang agung dan menjadi bentuk penghargaan terbaik untuk seseorang. Lalau kenapa kita tidak membiasakan menyapa teman laki – laki kita yang lebih tua dengan daeng ? atau ndi’ untuk mereka yang lebih muda. Knapa kita tak pernah mau berbangga dengan kearifan dan nilai nilai lokal yang kita punyai lalu dengan lantang berkata saya Daeng Adi, Saya dari Makassar !

8 thoughts on “Saya Daeng, Saya Makassar !

  1. I would say the same as you because..
    sekarang sih saya punya kesadaran itu untuk menjaga apa yang dinamakan budaya dan kearifan lokal. Dari dulu saya dipanggil Teteh and it doesn’t mean anything when I realize that it reveal my identity as a Bantenese. Now When I have gained many knowledge about my background culture. I am really proud and love being called Teteh bukan karena daerahsentris tapi saya mencintai khasanah budaya Indonesia yang begitu beragam..
    dulu pun saya agak sedikit risih memanggil Kang dan Aa pada orang lain tapi saya suka sekali dengan sapaan itu dan selalu menggunakannya ketika saya di Banten sekarang.
    saya pikir we have to love it and use it karena kalo bukan dimulai dari kita siapa lagi.. apakah semua orang Indonesia mau diseragamkan? padahal kita masih punya Daeng, abang-Mpok, Mas-Mbak, Aa, Kang- teteh, Uni-Uda, Abang-Ayu.. that are so many of them.. I Love the diversity.. jadi kalo ke daerah2 pakelah sapaan khas mereka

  2. hehehe.. mau juga tinggal di bandung dongs.. hihihi..
    saya rencananya mau maen kesana sama adik saya a’
    gpp kan saya sapa aa coz udah biasa kan di bandung khasnya aa ma teteh hihi

  3. yoshaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa..
    Bandung I am coming.. saya mau ke saung mang udjo xixixixi.. pen liat oarng nari2 ma maen angklung..
    betah ga di bandung?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s