Malulah pada Rahing !

Dulu saya pernah menjadi penggiat bike to work sebelum sebuah musibah membuat saya harus meninggalkan aktivitas tersebut. Musibah kemalingan yang membuat “si biru”, julukan untuk sepeda milik saya, harus saya  ikhlaskan bersama tas dan beberapa lembar pakaian yang ikut di mbatt.

Jujur, Pilihan untuk bersepeda ke tempat kerja atau bike to work, awalnya lebih pada pertimbangan efisiensi.  Ketika saya banyak berinteraksi dengan penggiat Bike To Work di salah satu situs Online, barulah sebuah kesadaran baru muncul. Maaf jika sedikit sok idealis, tapi  isu global warming yang terus menjadi sorotan dunia sejatinya menjadi perhatian tiap – tiap individu untuk kemudian ikut meminimalkan dampaknya melalui berbagai aktivitas dan kebiasaan sehari – hari. dan saat itu saya berpikir, jika ada segelintir orang seperti saya yang memilih alternatif transportasi ramah lingkungan, mungkin akan sedikit membantu menciptakan udara yang lebih bersih dan sehat tentu saja. yang kedua : makassar sebagai sebuah kota metropolitan yang terus menggeliat dalam aktivitas ekonomi dan pembangunan, hampir pasti akan diperhadapkan pada persoalan kemacetan yang akan semakin parah dari hari kehari. Pemerintah dan masyarakat sudah harus memikirkan alternatif transportasi lain yang bisa meminimalkan kemacetan, Bersepeda tentu menjadi salah satu pilihan.

Tapi saya tak akan bercerita soal kampanye bike to work atau sudah sejauhmana parahnya tingkat kerusakan lingkungan kita saat ini, terlalu banyak pakar dan penggiat Bike To Work yang bisa mengulasnya lebih dalam. Saya hanya sekedar ingin berbagi, bagaimana setelah tak bersepeda atau ngegowes lagi, saya masih memilih menggunakan angkot atau ojek ketimbang harus membeli kendaran sendiri. Banyak teman yang mendorong saya untuk memiliki kendaraan sendiri dengan berbagai alasan, mulai dari yang rasional sampai yang asall. tapi dengan pertimbangan yang masih sama ketika memutuskan untuk bike to work, membeli kendaraan sendiri untuk sementara belum menjadi prioritas. apalagi pekerjaan saya juga tidak membutuhkan mobilitas yang terlalu padat.

Tapi saya tak akan bercerita soal kampanye bike to work atau sudah sejauhmana parahnya tingkat kerusakan lingkungan kita saat ini, terlalu banyak pakar dan penggiat Bike To Work yang bisa mengulasnya lebih dalam. Saya hanya sekedar ingin berbagi, bagaimana setelah tak bersepeda atau ngegowes lagi, saya masih memilih menggunakan angkot atau ojek ketimbang harus membeli kendaran sendiri. Banyak teman yang mendorong saya untuk memiliki kendaraan sendiri dengan berbagai alasan, mulai dari yang rasional sampai yang asall. tapi dengan pertimbangan yang masih sama ketika memutuskan untuk bike to work, membeli kendaraan sendiri untuk sementara belum menjadi prioritas. apalagi pekerjaan saya juga tidak membutuhkan mobilitas yang terlalu padat.

Satu lagi, Rahing ini termasuk pengguna jalan yang sangat taat peraturan lalu lintas. Setiap sebelum menjalankan kendaraan, dia tak pernah luput mengingatkan saya untuk menggunakan helm dengan benar. Di perempatan jalan dia tak pernah menerobos lampu lalu lintas meskipun jalan dalam kondisi lengang. Rahing satu diantara sekian banyak pengendara motor yang tidak pernah menggunakan lajur kiri ketika berhenti diperempatan jalan yang bertuliskan belok kiri langsung. Bapak dua orang anak ini juga selalu memasukkan plastik, bungkus rokok dan apapun yang tak lagi digunakan ke kap motornya untuk kemudian membuangnya di tempat sampah atau malah membawa sampah – sampah itu pulang.

Pernah pula disuatu waktu kami terpaksa berhenti sejenak di pinggir jalan karena dia harus menerima telepon dari istrinya. Awalnya saya kesal, tapi akhirnya saya berpikir, demi keselamatan, cara itu mungkin memang lebih baik ketimbang harus menerima telepon diatas motor. Anda mungkin bertanya – tanya, kenapa saya begitu detail kenal dengan si Tukang ojek itu ? yaa.. selain urusan kekantor, lelaki separuh baya ini selalu stand by jika tiba tiba saya menelpon untuk diantar kemana saja dengan bayaran yang selalu kompromis he he,… jadi intensitas pertemuan kami terjadi hampir tiap hari.

Itulah sekelumit pribadi seorang Rahing yang saya kenal.,Bayangkan dengan sebagian kita yang baru mau menggunakan seat belt ketika di jalan sedang ada razia, membuang sampah seenaknya dari dalam mobil, menghalangi pengguna jalan lain di tikungan bertanda belok kiri langsung, atau masih saja membunyikan klakson padahal udah tau macet, menerobos lampu merah dengan alasan buru buru, atau melanggar di jalur satu arah karena tau tidak ada polisi yang sedang bertugas, atau seenaknya ber SMS diatas kendaraan dan mengancam keselamatan orang lain serta diri sendiri.

Perilaku dan kesadaran memang tak selalu berbanding lurus dengan strata ekonomi bahkan tingkat pendidikan. Sebagian besar dari kita hanya bisa berlaku tertib jika sedang dipelototin oleh petugas yang sedang nongkrong di perempatan. Sayapun akhirnya jadi ingat, ketika masih bersepeda ke tempat kerja, bebebrapa kali keselamatan saya terancam akibat ulah segilintir ( atau mungkin sebagian besar ) pengguna jalan yang sepertinya butuh kursus kepribadian. Mulai dari pengemudi mobil yang nekad menorobos lampu merah, pengendara motor yang hampir saja nyerempet meski saya telah berada di jalur yang tepat.

Bahkan suatu waktu ban belakang sepeda saya diseruduk oleh sedan mewah yang di kemudiakan perempuan muda berambut panjang, berkulit putih dan berpenampilan trendy dengan kacamata bertengger di atas hidung bangir nan menarik. Segala kelebihan yang dimiliki perempuan itu perlu saya jelaskan karena dengan semua keistimewaan yang melekat padanya, ternyata cara dia bersopan santun di jalan raya masih harus dipertanyakan. Gara – gara ber SMS, lampu merah tak lagi di perhatikan, termasuk sepeda saya yang hampir penyot dibuatnya. Untung dia segera minta maaf, kalo nggak, mungkin akan ada semacam adegan sinetron Kejarlah Daku kau Kutangkap dan menjadi tontonan minimal pengamen dan penjual koran yang sedang mangkal diperempatan he..he,. he,… kalau begini kondisinya, besok – besok, bukan tidak mungkin akan semakin minim orang yang mau bersepeda ke kantor.

Finally saya merasa Orang seperti Rahing adalah sosok pribadi dengan derajat ketaatan tertinggi. Karena Sebaik baik ketaatan adalah ketaatan karena kesadaran dan serendah rendahnya ketaatan adalah ketaatan karena rasa takut. Takut kena tilang dan takut kena denda !!, kita bisa berbangga dengan kendaraan mewah yang sedang kita gunakan atau status yang kita sandang, tapi jika ketaatan kita masih sebatas karena rasa takut, maka kita tak lebih sosok berpenampilan necis berperilaku minus….betul kan ces ??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s