No, Thanks

Maksud hati melewatkan akhir pekan di sebuah Mall, yang ada malah ilfil. Gara – garanya ketika akan keluar dari pusat perbelanjaan tersebut, tiba tiba saya didekati oleh seseorang yang belakangan saya tau berasal dari sebuah lembaga nirlaba semacam LSM ( setelah saya liat tulisan di bagian depan T – Shirt yang dipakainya )

Laki – laki berperawakan tinggi itu mencegat saya ketika akan keluar dari pintu mall. Dengan antusias dia meminta saya untuk mendengarkan apa yang akan disampaikannya. Karena tidak tega melihat bagaimana matanya menatap penuh harap, sayapun berhenti di dekat stand tempat dia dan dua orang temannya berjaga. Singkat cerita diperkenalkanlah  nama lembaga dimana dia menjadi semacam volunter. Ternyata mereka berasal dari sebuah LSM yang concern terhadap persoalan anak yang terserang penyakit jantung. selanjutnya dia menceritakan fenomena semakin meningkatnya jumlah anak yang terserang penyakit tersebut, penyakit yang sebenarnya lazim diderita oleh orang dewasa.

Setelah melalui proses presentasi ala SPG kosmetik, akhirnya saya di tawari untuk menjadi donatur pada lembaga mereka, dimana nominal di credit cardsaya akan terpotong secara otomatis setiap bulan ( sebenarnya sudah saya tebak endingnya, karena bukan kali ini saja saya mendapatkan tawaran seperti itu ). Sungguh bukan gak ada niat untuk menjadi donator dan bukan saya tidak percaya dengan lembaga mereka. tapi prosesnya ternyata cukup panjang sementara aktivitas lain sudah menanti kehadiran saya. Dan dari sanalah sebuah perlakuan kurang simpatik yang lebih meneyerupai teror, saya dapatkan.

Dengan mimik muka yang tidak se bersahabat ketika dia mencegat saya, laki – laki itu dengan ekspresi datar berucap “ok, gak apa apa mas. semoga jantung mas sehat terus ya.” tanpa bermaksud negatif thinking, saya tau betul makna tersurat yang coba disampaikan oleh mas – mas itu. seketika saya ingin mendebatnya jika tak melihat gesture gelisah yang ditujukkan teman saya yang sudah menunggu dari tadi. Di perjalanan saya tidak habis pikir, bagaimana mas yang saya lupa namanya itu telah berpikir picik. Apa hak dia mengajari saya tentang cara berempati lewat kalimat terakhir yang dilontarkannya ?. Apa dia tidak tau ada seribu satu cara untuk menunjuukan rasa solidaritas kita dengan orang yang sedang tidak berdaya ? Apa dia tidak tau bahwa penderitaan yang sebenarnya sudah saya tamatkan karena pelajaran hidup itu sudah saya lalui dari kecil di keluarga saya. Apa karena saya tidak menjadi donatur lembaga mereka lalu seenaknya dia mencap saya tak pernah mengulurkan tangan untuk orang disekitar saya yang sedang kesusahan ? saya jadi be te seketika, mungkin volunter semacam itu perlu di beri sedikit kursus kepribadian selain ketrampilan mempresentasikan sebuah produk.

Seharusnya tadi saya lebih memilih berucap No, Thanks!. Semestinya saya tak perlu berempati dengan tatap penuh harapnya, karena ini bukan kali pertama saya mendapat perlakuan tidak menyenangkan.  Sebuah lembaga pemerhati lingkungan pernah menawari saya menjadi donatur, lagi – lagi dengan cara yang hampir sama.  Ternyata ketika tak menunjukkan rasa ketertarikan, respons yang saya dapatkan sungguh diluar dugaan. Meski tidak ingat detil kata – kata yang diucapkan sukarelawan lembaga tersebut, tapi teror yang disampaikannya pun relatif sama, seakan – akan hanya dengan menjadi donaturlah kita bisa menjuadi pribadi greenhuftt,. Orang itu gak tau aja kalau saya ke mall tersebut menggunakan sepeda. Bukan karena gak ada kendaraan lain, tapi ( tanpa bermaksud sombong ya ) saya adalah satu diantara sedikit orang yang mungkin  masih peduli dengan pentingnya udara bersih dengan memilih bersepeda ke kantor dan ke tempat lain, ketimbang menggunakan kendaraan bermesin, alat transportasi yang akan semakin memperparah tingkat emisi gas buang dan menjadikan darah penghuni kota ini tercemari timbal yang suatu waktu bisa berdampak pada munculnya beragam penyakit. Tapi sudahlah, saya tak merasa harus menanggapinya. Toh aksi itu lebih penting, karena setiap individu bisa mencintai lingkungan dengan tindakan yang bisa dimulai dari diri mereka masing – masing dan mulai hari ini !, tanpa harus menunggu proses berbelit – belit yang harus di lalui untuk menjadi seorang donatur. Dan oh iya,.. saya gak punya credit card mas..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s