AYAH

Hari ini bukan akhir pekan yang bikin happy seperti biasanya. Pagi – pagi buta, seorang teman datang menawarkan sebuah handphone second. Keperluan biaya kuliah anaknya yang harus segera diselesaikan, membuat sebuah hanphone yang harganya cukup mahal harus di lego dengan harga yang sangat murah. Sudah sangat biasa sebenarnya saya mengalami perasaan melankolis seperti ini. Mungkin pengalaman hidup semasa kecil sampe remaja yang selalu serba sulit yang membuat saya agak sentimentil berhadapan dengan situasi seperti yang sedang dialami teman tersebut.

Dan entah kenapa kali ini terasa lain. gak tau, apa karena menyaksikan bagaimana perjuangan seorang ayah yang pasti juga kerap dilakukan ayah saya dulu untuk membiayai sekolah kami yang membuat saya tiba – tiba feeling sad, atau karena rasa setia kawan yang menjadi penyebabnya. Entahlah, tapi sejurus kemudian saya jadi teringat sosok ringkih yang saat ini lebih banyak berdiam diri di rumah dan tak sedinamis ketika bahu dan lengannya masih cukup kekar untuk menentang kerasnya hidup. dia adalah ayah saya. ayah yang sudah menghabiskan separuh hidupnya untuk menafkahi dan menghidupi kami anak – anaknya. sosok yang mungkin dalam perjalanan hidup kami anak – anaknya jarang kami sebut. Tapi sejatinya saya tak pernah menafikan keberadaan seorang ayah yang telah membesarkan kami dengan peluh dan tetesan keringat serta segala doa  – doa yang selalu dipanjatkannya.

Kadang sosok ibu memang menjadi orang terdekat yang selalu hadir ditiap situasi yang sedang kita hadapi dan rasakan. Tidak heran jika banyak yang mengaku lebih dekat dengan sang bunda ketimbang dengan seorang ayah. Tapi kejadian yang saya lalui hari ini sontak mengintakan saya bagaimana kecil dulu ayah saya sering menjemput di tempat kami bermain bola untuk memandikan saya. Ketika remaja dan pulang tengah malam, kerap saya dapati beliau terkantuk – kantuk di ruang tamu, menunggui saya datang. Ketika kuliah dan akan berangkat kemakassar selepas liburan, ayah adalah orang yang paling keras menolak ketika saya harus berboncengan dengan teman menggunakan sepeda motor. Saat itu saya protes meski kemudian menuruti kemauannya. Bulan lalu saya mudik. Ketika sudah berada di atas kendaraan yang akan mengantar ke terminal untuk kembali ke makassar, saya tiba – tiba harus balik ke dalam rumah karena handphone saya tertinggal. Saat itu saya mendapati ayah saya menangis dan buru – buru memalingkan muka saat tau saya kembali ke dalam rumah.

Saya kaget dan terharu. Saya tau ayah selalu berat melepas saya pergi dari rumah dalam waktu lama, tapi baru kali itu saya liat dia meneteskan air mata. Saya benar – benar tersadarkan, sungguh seorang ayah selalu merindukan dan memikirkan anaknya, saat jauh dan saat dekat. Saya tau, seorang ayah pasti gundah ketika harus berpisah dengan orang yang telah dibesarkannya, sama dengan yang dirasakan seorang ibu. Bedanya, ibu saya lebih ekpresif menunjukkan perasaanya sementara ayah saya cenderung lebih tegar meski mungkin di beberapa kesempatan dia juga tidak bisa menahan rasa sedihnya, seperti yang saya saksikan saat itu. Saya tak bisa menahan sebuah butiran kecil yang tiba – tiba jatuh di sudut mata saya ketika kembali berada di atas kendaraan.

Di perjalanan mata dan hidung saya tiba – tiba sembab. bukan hanya karena rasa haru yang masih menggelayut. Ingatan saya tiba – tiba berkelebat kepuluhan tahun lalu, ketika kami anak – anaknya masih berkumpul dalam satu rumah, saat itu ayah selalu tersenyum ceria menyaksikan pola tingkah kami. Mungkin saat ini dunianya begitu sepi, sepi menantikan anak dan cucunya yang hanya datang sesekali untuk menjenguk. Perjalanan kemarin menjadi perjalanan yang sedikit berat saat saya harus meninggalkan seorang ayah yang hari – harinya mungkin terasa kosong ketika hanya dilewatkan berdua dengan ibu saya. Perjalanan yang terasa lebih panjang karena harus meninggalkan seorang ayah yang dengan sabar menggantikan peran domestik seorang istri yang sedang dalam kondisi tak berdaya karena mata yang tidak lagi berfungsi sepenuhnya. Ibu saya. 
Love you mom and proud of you dad !

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s