Balada Secret Admirer

Ada yang pernah menjadi pengagum rahasia alias secret admirer ?… Kalau ada, berarti kita senasib cynn. Untuk yang pernah merasakannya, udah tau dong seperti apa serunya. Dulu saya pernah mengalaminya ketika masih duduk di bangku kelas 2 SMA. Saat itu saya naksir adik kelas. Sekarang suka senyum –senyum sendiri kalau ingat itu. Saya gak tau, apa jatuh cinta saat SMU bisa dikategorikan cinta monyet. Yang jelas, seperti yang pernah merasakannya, jatuh cinta saat SMU itu benar-benar sesuatu. Apalah lagi jika cinta itu gak pernah bisa tersampaikan. Rasanya cetar membahanaa..:D

Saat itu saya jatuh hati dengan murid baru yang namanya ..tiiitttt..heheheh. Sebut  saja Dian *terobsesi Dian Sastro. Pertama liat dia saat upacara di hari pertama masuk sekolah setelah liburan ajaran baru. Bariasan kelas dia berseblahan dengan barisan kelas saya. Ngelirik dikit, ketemu mata dan byarrrr.. seperti ada bongkahan salju  yang tiba – tiba mendera sekujur tubuh saya, segarrrr ( lebayyyy ).

Tapi sejak lirikan pertama itu ( istilahnya dangdut banget yaa ), saya tak pernah lagi memiliki keberanian untuk sekedar menyapa, kenalan, bahkan melirik sekalipun. Maklum semasa SMA dulu saya termasuk cowok yang rendah diri.

Bukan apa – apa, SMA dulu tubuh saya kecil banget, pokoknya dibawah rata – rata anak SMA seusia saya. Pasti kalau ada yang ngeliat tinggi badan saya sekarang yang mencapai 170 cm ( emang penting gitu disebutin ?), gak ada yang nyangka kalau saya adalah siswa dengan tinggi badan paling mini pas SMA dulu. Ditambah lagi waktu itu saya bukanlah siswa yang memiliki prestasi yang bisa dibanggakan, yaa rangkingnya middle lahh.

Udah gitu, Biar kata SMA saya di kabupaten, tapi  yang namanya cewek SMA, tetap aja sukanya sama cowok yang tenar di sekolah, anak basket, aktif di ekskul atau paling nggak rangkingnya selalu diatas tiga. sedangkan saya??  Kehidupan saya disekolah berlangsung sangat  standar : datang, masuk kelas, nyontek ( upssss… ) pulang dan besoknya begitu lagi.

Meski tak ada nyali untuk mendekati si Dian itu, tapi dia selalu bikin saya bersemangat ke sekolah. Ada – ada saja cara saya untuk bisa liat dia, mulai dari nungguin dia di kantin, berusaha berpapasan pas upacara atau ikut nimbrung sama kegiatan yang dia ikutin ( jadi penonton pastinya ). Atau yang paling ekstrim, mendatangi kelasnya dan pura – pura pinjam sesuatu sama teman sekelasnya yang kebetulan saya kenal. Mulai dari mistar, minjem penghapus, spidol sampe sapu, obeng, tang dan dongkrak, ha ha haa… itu kelas apa bengkel ketok magic ?

Dua tahun memendam perasaan, tak selamanya tak menyenangkan. Entahlah, waktu itu saya bahagia menjalaninya. Memendam rindu, lalu tanpa sengaja bertemu di koridor kelas, itu kebahagiaan yang tak terkira. Memandanginya dari kejauhan, itu cukup bikin saya tersenyum bahagia. Tak ada teman yang pernah tau bagaimana saya menyimpan perasaan saya itu kecuali teman sebangku saya yang sama sekali tidak bisa membantu karena nasibnya juga kurang lebih sama dengan saya, gak laku di mata cewek – cewek.

Akhirnya masa kelulusan tiba. Sekali lagi saya lulus dengan prestasi yang sangat biasa kalu gak bisa disebut parah. saya meninggalkan sekolah tanpa pernah Dian tau soal perasaan saya dan bagaimana dia selalu menjadi motivasi terbesar saya untuk datang kesekolah, pun dia tidak pernah tau jika selama dua tahun ada seseorang yang memata matai dia bak spionase di film- film barat, mengikuti hampir setiap saat dan kemana saja dia pergi. Begitu saya berpikir waktu itu, meski belakangan saya tau gak semua yang saya pikir itu benar.

Persepsi saya itu terbantahkan ketika suatu waktu saya di anugerahi oleh pertemuan tak terduga dengan mantan cewek yang masih meyisakan cerita – cerita indah masa remaja itu. Disebuah Bus antar kota, bersebelahan pula bo, OMG… ini seperti cerita sinetron Tersanjung 8, Cinta Fitri Session 5, Putri Yang Ditukar atau apalahhh.. Tapi ini nyata. Orang yang selama dua tahun hanya saya bisa pandang dari jauh dan berpisah lama sekarang tepat berada disamping saya. Benar benar seperti durian runtuh di siang bolong ( peribahasa baru ! ).

Singkat cerita lagi. Setelah basa basi yang sangat basi dan nanya sana sini soal kuliah, kabar teman – teman SMA, guru – guru sampai ibu kantin. Akhirnya saya memberanikan diri masuk pada pembicaraan yang agak agak pribadi dan sensitif ( creng crengg ). Saya tiba-tiba menemukan diri tak selugu enam tahun sebelumnya. Profesi sebagai penyiar radio ternyata cukup menolong untuk  mengorek informasi detil bagaimana dunia cinta si Dian ini semasa SMA. Ternyata dia gak pernah pacaran Ohh Emm Jiii,. Sekali lagi saya merasa sangat bodoh tak pernah bisa memanfaatkan momentum. Saya seperti tak bisa memaafkan keluguan saya waktu itu.

Dan kutukan saya terhadap diri sendiri semakin menjadi jadi ketika dari bibirnya yang mungil dan selalu basah (minjam istilah iwan fals ) meluncur sebuah pengakuan mengejutkan. Sedikit banyak kalau di terjemahkan kedalam bahasa yang mudah dipahami, Bunyinya seperti ini : “dulu juga saya sebenarnya sedikit ada feeling kok sama kamu, saya tau dari teman sebangku kamu kalau kamu suka saya dan selalu memperhatikan saya, tapi kamunya gak pernah berani sih, kalau saja waktu itu kamu nembak saya, saya jamin,  pasti saya terima”. Mobil yang kami tumpangi seperti terguncang, padahal sedang meluncur di jalan yang mulus dan rata. Tidak mampu saya menggambarkan perasaan saya waktu itu, Senang, bangga, sedih, menyesal nyampur jadi satu kek gado-gado.

Satu lagi, jangan pernah meng – underestimated  seorang teman. Teman sebangku yang tak pernah saya pandang sebalah mata pun, ternyata memiliki jasa yang tak ternilai harganya, menyampaikan perasaan saya ke wanita yang sedang berada di samping saya di bangku bus itu. Meskipun saya tak pernah tau kapan dan dimana persisnya dia menyampaikan perasaanya saya ke Dian.

Oh yaa pertemuan dengan si Dian yang tak terduga ini semakin menambah rasa kagum saya yang sebenarnya tidak pernah benar benar pupus, ditambah lagi setelah 6 tahun, sebuah rentang waktu yang cukup panjang yang membuat dia semakin kelihatan matang ( nasi kaleeee ). Pembawaanya berubah dewasa, bicaranya juga cerdas, lugas dan bibirnya masih tetap mungil dan selalu basah ( sempat sempat nya perhatiin bibirnya, padahal lagi bulan puasa waktu itu xixixixi… makruh makruh deh tuh puasaa ).

Sesaat angan saya melambung ketika lontaran pujian bertubi tubi keluar di sela sela obrolan kami, mulai dari badan saya yang katanya berubah drastis jadi tinggi dan tegap (  belum tau dia saya suka ngangkat karung qiqiqiqiii ), bicara saya yang katanya menyenangkan, gak ngebosanin dan tampang saya yang sedikit berubah ( mungkin makusdnya jadi tua😦 ).

Selanjutnya.. berhasil juga saya mengorek bagaimana status hubungan dia sekarang, Momentum yang membuat saya seperti tak bersemangat lagi melanjutkan pembicaraan.  BERTUNANGAN. Glekkkk!!! Sesaat saya seperti menelan biji kedondong. Padahal saat itu saya lagi makan kwaci merek Gajah Duduk ( itu kwaci apa sarung sih?). Sad Ending.!!!

Tak ada maksud apa – apa menceritakan pengalaman saya yang gak penting ini. Apapun itu saya bersyukur menemukan diri saya tak sepenakut ketika SMU. Sekaligus mendapatkan pelajaran berharga bahwa  Tuhan kadang hanya memberi kita kesempatan satu kali untuk bertindak sampai kita sadar bahwa jarum sejarah tak pernah berputar kebelakang. Tuhan kadang memang hanya mempertemukan kita dengan seseorang bukan untuk menjadi miliki kita, tetapi untuk menjadikan kita pribadi yang sabar dan mampu belajar tentang hidup ..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s