KASET – KASET TUA ITU

Minggu lalu sehabis jum’atan, iseng saya menyambangi jejeran pedagang kaki lima yang menjajakan jualannya disekitar masjid tempat saya menunaikan sholat. Gak ada niat belanja sih sebenarnya. Sekedar melewatkan waktu sembari menunggu seorang teman yang rencananya datang menjemput, kegiatan spontan itupun menjadi pilihan.

Salah satu lapak yang menarik perhatian saya adalah milik seorang bapak usia 50 an tahun yang dipenuhi tumpukan kaset pita yang sebagian sudah kelihatan usang dan berdebu. Ada yang tersusun rapi pada sebuah rak berukuran sekitar satu meter persegi, tapi beberapa diantaranya dibiarkan berserakan begitu saja. Ada juga yang ditempatkan dalam display berbentuk kotak kaca.

Pak Dadang, sang pemilik lapak, sengaja memilah kaset yang masih kerap dicari orang dirak yang terletak dibelakang punggungnya. Sementara yang ia simpan pada sebuah display, bisa dibilang kaset pita kelas premium. Menurut Pak Dadang, yang ditaruh dikotak itu, biasanya album yang sangat populer di eranya.

Pelanggan Pak Dadang mungkin tak akan memutar kaset itu lagi karena alat pemutarnya memang sudah sangat langka. Pun, versi digitalnya banyak yang sudah tersedia di pasaran. Kalaupun ada yang rela morogoh kocek demi kaset tua itu, bisa jadi karena faktor sejarah atau mungkin kenangan tertentu yang menyertai kaset yang dibeli.

Sayapun melewatkan waktu beberapa menit membolak-balik beberapa sampul kaset yang diantaranya ternyata masih cukup saya kenal lagu-lagunya. Ada album milik Base Jam, Rida Sita Dewi, GIGI dan beberapa Band luar negeri semacam Def Leppard, OASIS dan kelompok musik favorit saya Guns N Roses. Aktivitas yang sejenak membawa ingatan saya ke masa dimana mendengar lagu lewat walkman atau tape deck menjadi salah satu pilihan hiburan paling yahud.

Beberapa kelompok musik yang sempat saya lihat kasetnya, memang masih eksis sampai sekarang. Dewa 19 misalnya yang telah berubah nama menjadi DEWA atau GIGI yang beberapa lagunya masih disenangi oleh Anak Baru Gede. Tapi kok seperti baru kemarin ya kita melihat benda-benda itu berjejer rapi di etalase toko-toko kaset dan sekarang sudah berserakan seperti barang tak bernilai.

Anak-anak atau ponakan kita sekarang, Pasti tak banyak yang tau dengan wujud kaset yang mungkin banyak mewarnai perjalanan hidup kita di tahun 80 an itu. Media pemutar musik digital tentulah lebih akrab dengan keseharian mereka. Padahal untuk kita yang pada tahun 80 sampai 90 an berusia remaja atau sedang getol-getolnya mendengarkan lagu, benda-benda itu lho yang nemenin kita jatuh cinta, pacaran, dan menghibur kita saat putus :)

Bahkan, CD Player yang terasa baru kemarin sore ikut menemani hari—hari kita, keberadaannyapun mulai jarang ditemui. Digitaalisasi membuat beberapa benda yang dulu masih bisa kita lihat dalam bentuk fisik, tiba-tiba menjadi barang langka. Akhirnya, waktu seperti berlalu begitu cepat.

kaset tua

Kadang-kadang kita tak sadar, cepat atau lambat, segala sesuatu akan menjadi kenangan. Benda, peristiwa dan kita manusia, disuatu waktu akan menjadi bagian dari masa lalu. Dimasa itu mungkin kita hanya menjadi seonggok kenangan seperti kaset tua yang berserakan dilapak Pak Dadang itu, atau kita bisa mendapat tempat dihati dan benak orang, tergantung bagaimana kita berlaku dimasa kini. Kita dimasa depan adalah apa yang kita perbuat hari ini, begitu kira-kira…

Bandung & Jazz The Way You Are

jazz the way you are BandungSaya tak terlalu fanatik dengan musik Jazz. Bekerja sebagai penyiar pada Radio Mercurius FM Makassarlah yang membuat saya sedikit banyak tau tentang musik Jazz. Bukan apa-apa, Jazz adalah salah satu jenis musik yang kerap diputar pada salah satu stasiun radio di Makassar tersebut.

Pun, akhirnya saya banyak menghadiri event musik Jazz. Semisal Java Jazz Festival, Jak Jazz dan Kampoeng Jazz Festival yang tiap tahun di gelar di Kota Kembang, Bandung. Untuk yang saya sebut terakhir, hampir tak pernah saya lewatkan. Maklum, dua tahun ini, Bandung menjadi kota tempat saya berdomisili.

Bergaul dengan para penggemar Jazz, membawa saya pada pertemanan dengan Mojang Bandung yang kebetulan berprofesi juga sebagai seorang broadcaster. Anarima Savitri namanya. Mengenal Rima sekaligus menjadi kesempatan untuk belajar tentang bagaimana melihat chance dan memanfaatkannya menjadi aktivitas yang bernilai

Keberadaan Jazz sebagai salah satu jenis musik yang memiliki basis penggemar yang cukup besar, oleh seorang Rima, dilihat sebagai peluang bisnis yang memikat. Wanita usia 26 tahun yang juga penyuka musik Jazz tersebut, adalah pelaku usaha store merchandise musik jazz yang terbilang sukses.

Memulai usaha pada tahun 2011 lalu dengan brand Jazz The Way You Are ( JTWYA ), Rima yang kerap menjadi MC pada acara-acara musik jazz itu, sukses meraup untung dari bisnis merchandise musik jazz yang ditekuninya. Bahkan beberapa musisi seperti Syahrani dan Yura mempercayakan Jazz The Way You Are sebagai distributor CD albumnya. Hebatttt !

Yang unik dari bisnis Rima, karena hingga memasuki tahun ke tiga kiprah Jazz The Way You Are, usaha yang dirintis bersama pasangannya Bayu Bhrotodiasto ( 32 ) itu belum memiliki outlet “pertimbangannya lebih ke efisienasi dan sistem marketing 3.0 ( baca : three point ou ) yang kita anut”. Ucap Rima saat kami berbincang-bincang di sebuah kafe di Kota Bandung.

Sistem marketing yang dimaksud adalah pola pendekatan ke komunitas dan interaksi langsung dengan pelanggan saat transaksi. Tidak salah jika berbagai event dan aktivitas komunitas jazz di Bandung dan Jakarta, menjadi medium selling Jazz The Way You Are. “Klub Jazz Bandung adalah salah satu komunitas yang menjadi mitra event kami sekaligus ajang kami jualan pada setiap kegiatan mereka,” Tambah Rima. Indonesia Fashion Week, Java Jazz festival dan Kampoeng Jazz Festival UNPAD adalah dua event yang hampr setiap penyelenggaraanya, dihadiri oleh Jazz The Way You Are.

Kata Rima lagi nih, Dengan berinteraksi langsung ke konsumen saat event-event musik Jazz, mereka juga mendapatkan input dan referensi dari para pencinta musik jazz dan itu penting buat keberlangsungan bisnis.

Rima dan Artis yang berkunjung ke Outlet JTWYA

Ini Anarima Savitri dan sampingnya itu bukan saya :)

Adapun produk-produk yang di pasarkan Jazz The Way You Are seperti t-shirt, tas, stiker, poster, gantungan kunci, dan cd album jazz. Harganya mulai puluhan ribu hingga ratusan ribu rupiah. Untuk t-shirt kisaran harganya antara Rp.100.000,- sampai Rp.150.000,-. Untuk urusan Desain, Bayu yang memang berlatarbelakang jurusan desain semasa kuliah memberi pengaruh besar pada corak setiap produk Jazz The Way You Are.

Produk-produknya keren lho. Saya sudah sudah beli dua t-shirt berlabel Jazz The Way You Are dan dua-duanya diminta ama temen saya. Hiks.. Untuk desain sendiri, Jazz The Way You Are lebih banyak bermain thypography dan grafis. Sementara warnanya kebanyakan bernuansa monochrome

Dalam satu bulan, tiga sampai empat event musik jazz baik yang berskala besar ataupun mini event didatangi Rima untuk melakukan selling sekaligus promosi. “minimal sepuluh juta omzet yang kita peroleh di setiap eventnya, belum termasuk penjualan via online yang kita lakukan” Tutur Rima yang hingga saat ini mempercayakan pembuatan setiap produknya kepada vendor dengan pertimbangan efisiensi. Sukses terus ya Rima dan Bayu !.

Kalo anda tertarik dengan produk-produk Jazz The Way You Are, berikut ini Social Media Jazz The Way You Are, Bandung yang bisa anda akses :)

Jazz The Way You Are ( JTWYA )

Website : Jazz The Way You Are

Twitter : JTWYA_store

Instagran : JTWYA_STORE

Nikmatnya Susu Susanti

Anda para lelaki yang otaknya terlanjur mesum membaca judul diatas, please, buang jauh-jauh harapan bahwa saya akan mengumbar cerita dewasa seperti yang sering anda akses di situs-situs murahan yang banyak bertebaran di jagad maya :p. Sekali lagi, sebelum pikiran kita jauh mengembara membayangkan hal-hal jorok, mari bicara tentang sesuatu yang sedikit ilmiah, tentang ilmu yang pernah kita peroleh di bangku kuliah. Setuju ?

Untuk mahasiswa komunikasi, istilah marketing mix mungkin bukan sesuatu yang asing. Seingat saya, materi tersebut bisa didapatkan pada beberapa mata kuliah, terutama yang berkaitan dengan komunikasi bisnis. Ilmu komunikasi memang  terkait dengan hampir seluruh aktifitas manusia, termasuk kegiatan marketing dan ekonomi secara umum. Itu pulahlah yang membuat saya bangga, karena ilmu yang pernah saya peroleh ternyata berpengaruh terhadap semua sisi kehidupan manusia.

Termask untuk hal-hal bersifat sangat privat sekalipun, ilmu komunikasi begitu dibutuhkan. Anda mungkin pernah dengar bahwa urusan ranjang juga membutuhkan komunikasi yang baik dan intens. So, anda cukup tau saja bahwa jika punya pasangan kelak, komunikasi saya di tempat tidur tidak akan bermasalah #apasih

Marketing mix yang banyak bicara tentang bauran antara product, price, place dan promotion dalam memasarkan sebuah brand tak akan saya ingat-ingat lagi jika bukan karena interaksi saya dengan Gadis Puspitasari, seorang teman yang bekerja sebagai Marketing Manager pada sebuah koorporasi di Bandung yang menjadi produsen produk Susu Susanti. Susu Susanti yang mengusung tagline ‘Segar Merangsang” adalah susu murni yang dikemas dalam gelas plastik bergambar perempuan dengan desain yang cozy.

Minggu lalu saya ikut membantu Gadis membuat Press Release pembukaan outlet baru Susu Susanti di Jl. Purwakarta, Antapani, Bandung. Praktis sayapun harus mendalami product knowledge demi sebuah press release yang berkualitas dan suksesnya acara Press Conference temen saya itu :). Sayapun harus mencari-cari referensi tentang bagaimana sebuah produk membentuk positioning.

Susu SusantiTernyata nama-nama produk yang nyeleneh seperti halnya Susu Susanti mulai bermunculan sejak era social media banyak digunakan sebagai medium pemasaran produk-produk baru. Perpaduan nama yang unik dan dan karakter social media dengan kemampuan menyebarkan informasi secara massif, membuat proses menciptakan ketertarikan seperti yang disebut pada pola pemasaran dengan konsep AIDA ( Attention, Interest, Desire, Action ), bisa tercapai dengan baik.

Mereka rata-rata sukses mendapat tempat dihati konsumen. Di Bandung, yang saya tau ada nama Rawon Setan, Nasi Goreng Mafia, Bebek Garang, Nasi Goreng Gila, Oseng Mercon dan Maichi yang fenomenal itu. Mungkin ini menjadi pakem baru marketing mix yang lebih banyak menonjolkan diferensiasi pada unsur promosi mereka, dan umumnya mereka berhasil meskipun kualitas produk tetaplah yang paling utama.

Dan untuk Susu Susanti sendiri, kemampuan “memanfaatkan” nama legenda bulu tangkis Indonesia, Susi Susanti sebagai plesetan produk, menjadi sebuah nilai lebih. Selain itu, pemilihan nama menu serta gimick yang selalu dihadirkan di social media mereka seperti pada akun twitter @SusuSusanti, membuatanya selalu menjadi top of mind ditengah masyarakat Bandung yang memang terkenal dinamis. Bayangin, di outlet Susu Susanti terdapat menu dengan nama Surasang (susu rasa pisang), Subego (Susu rasa stroberi dan mango), Sukresek, Surakiw, Suramok dan masih banyak lagi. Cukup unik kan ? :)

Jika kita kerap mendengar ada usaha baik yang berskala makro maupun usaha kecil tiba-tiba pailit. Jangan-jangan mereka tak mampu mengikuti pakem baru marketing mix yang telah banyak bergeser seiring kemajuan teknologi komunikasi dan informasi. Sebuah kondisi yang menutut kretifitas tanpa henti !

Marahnya Pejabat Publik

AA036965Mencoba mengalihkan perhatian dari Feni Rose yang sedang antusias jualan rumah, sayapun sukses disuguhi tayangan pejabat sedang marah-marah di depan pegawainya oleh dua chanel televisi berbeda. Terlahir pada dekade dimana TVRI yang menjadi tontonan  kami kerap hanya menampilkan pidato pejabat atau tayangan saat mereka melakukan pengguntingan pita, membuat adegan kepala daerah marah-marah itu menjadi sangat menarik untuk disimak. Saya sampai gak sadar mencomot tiga potong Martabak manis yang ada di depan saya :)

Dan jika dirunut kebelakang ( Nah tuh kan, istilah saya TVRI banget ), Siaran kepala daerah naik pitam yang saya tonton itu, bukan yang pertama hadir di layar kaca. Ada Ahok yang pernah mencak-mencak didepan para Kepala Dinas, Ibu Risma nunjuk-nujuk hidung penyelenggara bagi-bagi es krim, Ganjar Pranowo yang berkasi melototin pegawai dinas perhubungan dan yang terakhir saya tonton semalam, Bupati Lebak, Banten Iti Octavia Jayabaya murka gara-gara saluran air di salah satu tempat diwilayah pemerintahannya dipenuhi sampah.

Aksi itu seolah menjadi model baru cara memimpin. Semestinya kita menyambut baik dan mengapresiasi hal tersebut sebagai bentuk ketegasan sikap atas berbagai pelanggaran yang terjadi. Kita juga harus memaklumi, mungkin amarah Ibu Risma, Pak Ganjar dan Ahok  menjadi pelampiasan dari rasa frustasi mereka menyaksikan segala bentuk penyimpangan yang seakan menjadi fenomena lazim. Atau mungkin sebagai kanalisasi kemarahan karena malam harinya melihat di handphone pasangan ada SMS dari orang lain yang manggil honey :p

Apapaun itu, marah seorang pejabat publik dengan marahnya seorang tukang gerobak yang tempat jualannya digaruk Satpol PP menjadi sesuatu yang berbeda ketika ditampilkan di televisi. Tidak salah jika adegan Ibu Risma berteriak-teriak saat Taman Bungkul di Surabaya rusak, sampai di tayangkan berulang-ulang. Demikian pula adegan Gandjar Pranowo. Dalam Ilmu Jurnalistik, value berita banyak ditentutak oleh subjek berita itu sendiri atau biasa disebut names make news.  Seorang dosen saya sering menganalogikan : Presiden digigit anjing adalah berita besar, dan menjadi bisa saja ketika yang digigit anjing itu seorang rakyat jelata.

Tidak mengherankan jika tayangan ulang peristiwa Taman Bungkul di Youtube pun telah di view oleh ratusan ribu orang. Saat saya mencoba mengetik key word Ibu Risma di google, kata Ibu Risma Ngamuk berada diurutan teratas pencarian otomatis google mengalahkan kalimat Ibu Risma di Mata Najwa yang sebelumnya menjadi tayangan yang juga banyak diperbincangkan publik.

Terlepas kemarahan-kemarahan itu natural atau bentuk pencitraan, mengacu pada analogi presiden digigit anjing, bagi media televisi, kemarahan para pejabat yang selalu terlihat formil dan menjaga wibawa pada tiap penampilannya, adalah informasi berharga. Meskipun buat saya pribadi, yang lebih penting sebenaranya adalah membahas substansi kemarahan semisal perlunya filterisasi perizinan ditempat publik untuk kasus Taman Bungkul atau semakin telanjangnya praktek pungutan liar yang sebenarnya sudah menjadi rahasia umum untuk kasus Gandjar Pranowo.

Ah, media kita selalu saja getol menayangkan sesuatu yang berbau sensasi dan kerap mengabaikan konteks. Padahal efek tayangan tak selalu positif untuk penonton, anak-anak misalnya. Belum lagi fakta bahwa subyek berita yang notabene adalah figur yang mungkin menjadi idola publik dan selama ini kerap diposisikan sebagai teladan banyak orang. Marah marah tetaplah marah, dilakukan untuk kepentingan apapun, tetap saja sifatnya destruktif jika tidak dalam kontrol.

Satu lagi, sebagai mantan mahasiswa komunikasi, saya selalu percaya dengan teori yang pernah saya peroleh di bangku kuliah. Berbagai acara TV entah itu berita atau yang menyebut diri reality show dan menayangkan adegan marah-marah, sadar atau tidak sadar ( atau tidak mau tau ) sebenarnya sedang menularkan kebiasaan marah itu kepada audience. Dalam banyak buku komunikasi , terdapat  teori agenda setting dan teori jarum suntik, dimana publik sama sekali tidak memiliki kekuatan untuk menolak informasi setelah diterpakan oleh media komunikasi, layaknya kemasukan obat bius melalui jarum suntik. Sementara teori Agenda Setting Media menyebutkan bahwa tayangan media oleh publik dianggap sebagai sebuah kebenaran umum.

Kalau masyarakat mendapatkan tayangan kemarahan secara vulgar setiap hari secara terus-menerus, alam bawah sadar mereka akan menganggap kemarahan itu sendiri sebagai sesuatu yang jamak bahkan sebuah kebenaran umum. Saya sedang tidak mencari siapa yang salah, apakah TV atau pejabat publik yang marah-marah itu, atau mungkin keduanya salah ?, Apapun itu, saya amat percaya bahwa media memang menjadi sarana yang ampuh untuk menularkan nilai-nilai, terlepas itu positif atau negatif. Lalu maukah kita menjadi bangsa pemarah ? bangsa yang selalu menjadikan kemarahan sebagai jalan keluar sebuah persoalan ?

Tahun Politik di Negeri SMS

Dalam sebulan terakhir, hampir setiap minggu malam, saya menerima SMS atau BBM dengan pesan yang sama : permintaan dukungan kepada salah seorang peserta pencarian bakat di sebuah televisi swasta dengan cara mengirimkan SMS ke nomer tertentu. SMS dan BBM tersebut kebanyakan berasal dari teman-teman sekampung saya di Kabupaten Kepulauan Selayar Sana. Usut punya usut, rupanya salah seorang peserta talent scouting di televisi yang dimaksud, adalah perempuan dari daerah kami. Oalahhh :))

Satu, dua sampai tiga kali, saya tak terpengaruh dengan ajakan teman-teman saya. Berusaha menjadi pribadi yang mempertahankan idealisme, ajakan bertubi-tubi itu tak pernah saya gubris. Buat saya, menentukan juara kompetisi dengan mekanisme voting adalah sesuatu yang kurang fair. Unsur subyektifitasnya terlalu kental jika tak bisa disebut dominan. Kalau saya lebih suka suara penyanyi dari daerah lain, gak salah dong kalau saya punya pilihan sendiri. vokal itu soal taste, gak bisa dipengaruhi oleh unsur subyektif apalagi sesuatu yang bernuansa primordial. Duh, betapa kakunya saya ini :))

Sampai suatu waktu, sayapun luluh. Keangkuhan saya dikalahkan oleh perasaan berdosa ketika menemukan  semua orang mulai dari pejabat, teman sekolah dan komunitas masyarakat dari kampung saya, bahu membahu mengirimkan SMS. Mungkin memang saya harus sedikit mengabaikan idealisme yang sudah saya pertahankan sejak Akademi Fantasi muncul beberapa tahun yang lalu. Kapan lagi daerah saya, setiap minggu disebut-sebut di televisi kalau bukan sekarang.

Kalau kampung saya lebih beken, mungkin orang akan penasaran dan mencoba mencari tau keberadaanya. Mungkin dengan itu potensi wisata Kepulauan Selayar yang selama ini tak banyak diketahui orang, akan terekspose dengan sendirinya dan ekonomi di daerah saya akan semakin maju.. Ah, sepertinya saya sedang berusaha mempertahankan ego dan mencari pembenaran soal perubahan sikap saya soal SMS dukungan tersebut.

Karena jika mau jujur, sebenarnya saya tak sekalipun melihat perempuan asal kampung saya itu tampil di televisi :D. Kesimpulannya saya melakukan vote dan sama sekali buta dengan pilihan saya.

Kemarin saya kembali mendapat SMS dari seorang teman SMU yang mengabarkan pencalonan dirinya sebagai anggota legislatif. Pendekatannya hampir sama dengan ajakan mengirim SMS untuk pencarian bakat di televisi itu. “Kapan lagi ada teman SMU kita yang jadi legislator kalau bukan sekarang. Ayo pilih sesama anak petani”.

Ah, kali ini saya tak boleh luluh oleh romantisme yang coba dijadikan senjata oleh teman saya itu. Persoalan dukung mendukung peserta pencarian bakat tentu tak bisa disamakan dengan pilih memilih caleg meskipun kerap kita tanpa sadar terjebak menyama-nyamakannya. Bukankah menjadi sangat berbahaya memilih calon pemimpin atau wakil kita hanya karena dia adalah teman sekolah, rekan sepermainan saat kecil atau karena kebetulan berasal dari suku yang sama ? wallahualam

Trinity Lagi :)

Ini kali kedua saya sharing soal Trinity, penulis beken yang getol menceritakan pengalaman jalan-jalannya ke berbagai negara dan ke seluruh wilayah di Indonesia, melalui buku. Terakhir saya bertemu dengan perempuan bernama asli Perucha Hutagaol ini di Plaza Senayan Jakarta sebelum dirinya melakukan perjalanan keliling dunia selama setahun. “Gue traktir nih, kan bakal gak ketemu setahun.” Begitu kata Trinity berkelakar.

Setelah perjalanan panjangnya ke berbagai negara itu, saya sudah tak pernah lagi sempat bertatap muka dengan Trinity. Sebagai seorang penggemar yang kebetulan dianugerahi kesempatan beberapa kali bisa berinteraksi face to face, berikutnya saya hanya bisa mengetahui aktivitas perempuan yang selalu rame itu di berbagai sosmed. Dari timeline di twitter dan status-statusnya di facebook. Minggu lalu dia sempat berada di Bandung ( sekali lagi saya tau informasinya dari facebook ) dan saya tak bisa menunaikan keinginan saya untuk sekali lagi bisa bertegur sapa dengan Trinity.

trinityKerinduan saya sedikit terobati ketika dirinya menjadi bintang tamu pada acara Indonesia Lawak Klub di Trans TV. Ya saya selalu rindu ngobrol dengan orang yang selalu bisa menebar isnpirasi melalui aktivitas yang dilakukan. Rindu ingin seperti Trinity yang bisa bekerja sambil menekuni hobby jalan-jalannya. Melanglangbuana keberbagai negara dan lalu menuliskan berbagai aktivitasnya itu di majalah tempat dirinya menjadi editor in chief. Menuangkannya dalam sebuah buku yang kemudian menjadi best seller. Tentu pundi-pundinya pun semakin tebal. Ah, terdengar begitu menyenangkan :). Jujur saya kagum dan iri dengan Trinity.

Membaca beberapa seri bukunya membuat saya sempat berpikir untuk suatu waktu bisa juga menyambangi tempat-tempat menyenangkan di muka bumi ini. Salah satu yang spontan terlintas di benak saya adalah Emirates Stadium, markas klub sepak bola kebanggaan saya, Arsenal !. Saya juga ingin mengunjungi negara Jepang yang kata Trinity dalam buku The Naked Traveler, di salah satu wilayahnya terdapat sebuat tempat dimana kaum perempuan gak ada yang pake busana sehelai pun ha..ha..

Anyway, bicara soal jalan-jalan, beberapa waktu lalu, saya yang belum pernah kemana-mana ini selain bolak balik Bandung – Makassar seperti dihakimi oleh Trinity melalui postingannya di Facebook :

Kenapa saya suka nyebar virus traveling?
Karena makin banyak jalan2 = makin open minded = makin toleran = dunia makin damai!
(jadi kalo ada org yg bigot dan picik, berarti kurang jalan2 dia)

Ah Trinity paling bisa.. Meski mungkin bernada iseng tapi status ini sukses menuai pro dan kontra diantara teman-teman dia di facebook dan membuat saya sesaat berpikir menjadi manusia kurang lengkap karena tak pernah sekalipun menyambangi daerah-daerah destinasi di Indonesia, apalah lagi berkunjung ke luar negeri.  Jalan-jalan dan mindset berpikir tentu bukan dua faktor tunggal yang kemudian saling kait-mengait. Tapi yang dikatakan Trinity ada benarnya.

Perjalanan adalah proses melihat dan ajang untuk belajar. Belajar untuk memahami apa yang ada di sekeliling kita. Betul, dengan banyak berinteraksi, cakrawala dan khasana berpikir akan semakin terbuka. Tapi tentu “berjalan” tak semata seperti yang dilakoni Trinity. Menjelajahi Asia lalu menyeberang ke Eropa. Berjemur di pantai Raja Ampat lalu seketika sudah memasang foto di Instragram sedang berada di Banda Aceh. Perjalanan bukan hanya oleh raga.

Melewati bangku SD dan kemudian tampil dengan seragam putih abu-abu adalah sebuah perjalanan. Berkenalan, tukar nomer telpon, menjadi sepasang kekasih lalu kembali menjadi teman biasa ( ini curhat sebenarnya :p ), juga sebuah perjalanan. Perjalanan yang mengajarkan kita berbagai value dalam hidup. Bahkan duduk berdiam diri di cafe seperti ketika saya mengetik tulisan ini lalu menayksikan pengunjung cafe berseliweran adalah proses melihat dan berpikir.

Raga kita tak kemana-mana tapi jiwa kita bisa melanglangbuana dengan apa yang kita lewati di kehidupan. Satu lagi, Bukankah ada yang disebut dengan perjalanan spiritual ? Bukankah kita sedang melakoni perjalanan hakiki dari lahir menuju fase kematian ?  Sejatinya, semua kita sedang jalan-jalan. Ah,. akhirnya saya dapat pembenaran untuk tak lagi terlalu iri dengan Trinity.

Apa salah Angel Lelga ?

Angel-Lelga-4Saya tak sempat menyaksikan episode Mata Najwa di Metro TV yang menghadirkan Angel Lelga sebagai narasumber. Heboh soal bagaimana caleg dari PPP itu kelabakan menjawab pertanyaan Najwa Shihab, saya baru dapati dari beberapa postingan teman di social media. Termasuk berita soal Suryadarma Ali, “bos” Angle Elga yang menuding Metro TV, khususnya Najwa, telah berbuat dzalim terhadap perempuan berparas ayu itu.

Lontaran kata-kata  yang justru menjadi bumerang dan membuat sang Menteri Agama tersebut jadi bulan-bulanan publik. Sebagian besar komentar menganggap Suyadarma Ali terlalu berlebihan membela kadernya.

Saya tak ingin menyalahkan siapa-siapa. Tapi sebagai mantan mahasiswa komunikasi dan pernah bergelut dalam dunia penyiaran meskipun bukan dalam mediun audio visual ( televisi ), hati saya sedikit tergelitik dengan peristiwa yang dalam beberapa hari ini masih menjadi perbincangan banyak kalangan. Tayangan ulang di Youtube dari perbincangan itu telah ditonton sebanyak lebih dari satu juta tigaratus kali. Termasuk saya :)

Jika tujuan Najwa adalah menelanjangi Angel Lelga dan memberi pesan ke masyarakat betapa rekruitmen calon anggota legislatif yang teramat serampangan, maka Metro TV sukses menunaikan misinya. Namun dalam perspektif sebuah acara televisi berbentuk “Talk” dan “Show”, saya pikir Metro tak bisa dikatakan benar-benar berhasil. Sepemahaman saya, ada sebuah etika antara narasumber dan pewawancara yang semestinya dikedepankan. Narasumber dan pewawancara adalah dua komponen yang semestinya berkolaborasi, seiring sejalan menghadirkan perbincangan yang baik dan menarik.

Show sejatinya memberi inspirasi dan khasana baru dalam alam berpikir penonton atau pendengar. Oke, mungkin cakrawala publik semakin terbuka untuk selektif memilih calon wakil mereka. Tapi jika pemahaman baru itu didapatkan dari sebuah aksi menelanjangi jika tidak bisa disebut mengolok-olok narasumber, mungkin tidaklah terlalu elegan apalagi disebut menarik. Lalu apa bedanya dengan Olga yang mengolok-olok ( maaf ) bibir Omas.

Saya tidak terlalu yakin jika Najwa ( atau mungkin produsernya ) tidak benar-benar tau mana pertanyaan yang cocok atau mampu di jawab oleh Angel Lelga. Pertanyaan soal keterkaitan Islam dan negara adalah pertanyaan yang menurut saya teramat filosofi. Bahkan mungkin seorang akademisi pun butuh berpikir beberapa saat untuk merangkai jawaban. Pertanyaan kritisnya, apa semua caleg harus bisa menjawab itu baru kemudian bisa disebut kapabel ?.

Pola rekruitmen caleg oleh partai yang terkesan pragmatis adalah kesalahan kita dalam berpolitik. Lebih tepatnya kesalahan partai yang cenderung menjadikan partai politik itu sebagai tunggangan mencapai tujuan kelompok lalu membenarkan berbagai macam cara untuk mecapai kemenangan politik. Cara kita berpolitik memang masih sangat prosedural. Tidak subtantif. Mungkin itu yang ingin di tunjukkan Metro TV. Dan lalu Angle Lelga lah sosok yang tepat ditampilkan untuk mewakili kondisi itu.

Untuk sebuah “show”, dia beken, dia cantik dan yang terakhir, Metro TV memastikan dia bisa di telanjangi karena pemahaman politiknya yang masih sangat minim. Jadi menurut saya, kejadian tersebut adalah “kecelakaan” atau “cacat” dalam sebuah program acara yang sudah dirancang dari awal. Tidak terlalu naif kalau saya bilang, status artis, kecantikan dan sekaligus ( sekali lagi maaf ) kebodohan sang narasumber telah di ekploitasi dalam hal ini.

Metro TV tau betul ketimpangan antara intelegensia Najwa dan Angel Lelga. Ketimpangan itu yang kemudian dikemas dalam sebuah program “talk” bertujuan “show”. Mempertontonkan aksi menelanjangi, membuka kebodohan orang secara vulgar di depan jutaan pasang mata. Dan menurut saya, ini yang tidak terlalu elok…