Cerita AirAsia dan Orang-Orang Tersayang

Tujuh bulan lalu.. Saat itu tengah memimpin meeting ketika telpon saya berdering. “Kakak ipar kamu lagi di opname di rumah sakit dan sedang tidak sadarkan diri. Jika kamu ada waktu, pulanglah”. Demikian kakak sulung saya dari Makassar, mengabarkan kondisi istrinya yang belakangan saya ketahui mengidap komplikasi beberapa penyakit, diantaranya tekanan darah tinggi dan magh.

Berita soal sang kakak ipar yang sering bolak balik rumah sakit sebenarnya sudah saya dengar sejak lama dan bahkan beberapa kali sempat berkomunikasi langsung. Mendengar pengakuan kalau dia cuma sakit biasa, membuat saya sedikit shock ketika hari itu kakak sulung saya meminta pulang dengan suara yang sedikit bergetar.

Jika boleh jujur, ditengah rasa kalut saya, ada perasaan bersalah yang menghimpit dan bahkan kerap masih saya ingat sampai sekarang. Pagi hari sebelum kabar buruk itu saya terima, kakak ipar saya sempat meghubungi lewat telpon. Selain karena sedang sibuk, sebenarnya waktu itu, saya agak kurang nyaman berkomunikasi dengananya dan lalu mengabaikan panggilan tersebut.

Penyebab saya tak menggubris panggilan kakak ipar saya ditelpon, sebetulnya teramat sepele, bahkan mungkin tidak masuk akal. Sebagai seorang kakak ipar menurut saya dia kerap agak cerewet. Mungkin karena saya adik bungsu dan pernah hampir tiga tahun tinggal bersamanya ketika duduk di bangku SMP dulu. Tidak salah jika dibeberapa kesempatan, dirinya memperlakukan saya layaknya anak dan bukan lagi seorang adik ipar. Semisal nanyain saya pulang jam berapa, kamar kosan saya dibersihin apa nggak dan pertanyaan-pertanyaan lain yang menurut saya aneh untuk laki-laki 30 tahunan seperti saya.

Belum lagi rentetan pertanyaan soal pernikahan plus tawaran untuk diperkenalkan dengan si ini dan si itu, semakin membuat saya kurang comfort dan akhirnya lebih sering menghindari komunikasi, termasuk pagi itu sebelum saya menerima kabar dia sakit dan tak sadarkan diri. Sikap yang berujung pada rasa bersalah. Rasa bersalah yang semakin membuncah ketika memperoleh informasi bahwa hampir semua anggota keluarga saya dia hubungi sebelum tak sadarkan diri. “tadi nelpon sekedar minta maaf dan mohon didoakan agar cepat sembuh,” Begitu kata Ibu ketika saya berkomunikasi pasca kabar buruk tersebut. Ya Allah, telpon sang kakak ipar ke saya pagi itu mungkin dengan maksud yang sama. Perasaan saya semakin tidak karuan. Firasat buruk yang menghantui membulatkan tekad saya untuk segera pulang.

Persoalan baru muncul. Pulang tiba-tiba dari Bandung ( tempat saya berdomisili sekarang ) ke Makassar, bukanlah perkara mudah. Kabar terbaru kalo kakak ipar saya makin kritis, akhirnya membuat saya semakin kelimpungan mencari tiket tercepat agar bisa segera berada di Makassar. Lewat bantuan seorang teman, saya akhirnya memperoleh tiket pulang. Jadilah dengan pakaian kantor, saya meluncur ke Bandara Soekarno Hatta di Cengkareng.

Di perjalanan saya terus berdoa sekaligus mengutuk diri atas sikap dan kelalaian saya. Saya memang bukan pribadi yang terlalu care dengan saudara, ponakan apalagi ipar-ipar saya. Selama ini saya sangat jarang berbagi kabar, terkecuali jika mereka yang berinisiatif berkomunikasi. Tapi perlakuan saya pada kakak ipar sulung saya pagi sebelum dia tak sadarkan diri itu benar-benar membuat saya seperti manusia paling jahat. Berbagai perasaan, campur aduk menemani perjalanan saya menuju Bandara Soekarno Hatta.

Waktu itu saya memperoleh tiket AirAsia dan harus boarding di Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta. Itu untuk pertama kalinya saya terbang dengan pesawat bercorak merah putih tersebut. Satu yang membuat saya merasa beruntung karena bisa terbang tepat waktu seperti schedule yang tertera di tiket. Jika saja hari itu keberangkatan saya tertunda, ceritanya mungkin akan lain, karena hanya berhitung jam setelah saya tiba di Makassar dan sampai dirumah sakit tempat kakak ipar saya dirawat, dia dipanggil oleh yang maha kuasa.

Ketika berada di samping kaka ipar saya waktu itu, saya masih sempat menggenggam tangannya dan dengan kesedihan tertahan, meminta maaf atas sikap saya yang tak menggubris panggilannya di handphone. Dalam kondisi tak bisa berkomunikasi, dia mengangguk lemah. Dari matanya saya tau dia masih merespon kata-kata yang saya ucapkan. Tatapan terakhir yang sekaligus memastikan dia memaafkan saya dan sekaligus meyakinkan dia kalau saya juga memberi maaf, sesuatu yang mungkin ingin dia dengar ketika menelpon saya untuk terakhir kalinya.

Terima kasih Tuhan, pertemuan dengan AirAsia membuat saya bisa berada di samping kakak ipar saya di saat yang tepat. Momen yang sekaligus mengubah sikap hidup saya sekarang. Kakak ipar saya telah pergi untuk selamanya tapi saya masih punya ipar yang lain, saudara, ponakan dan orang-orang terdekat yang sepatutnya saya beri kabar dan perhatian. Setidaknya tidak acuh tak acuh dengan alasan papapun ketika mereka menelpon. Sekarang saya merasa lebih care dan bahkan beberapa kali berinisiatif menghubungi mereka-mereka yang saya sayangi.

air asia 1

Sumber Foto : vivanews.com

Satu lagi, pertemuan pertama itu, sekaligus menjadi awal kebersamaan-kebersamaan saya dengan AirAsia. Hampir tidak pernah saya memilih penerbangan lain. Disamping karena harganya yang kompetitif, kondisi di dalam pesawat menurut saya juga sangat nyaman. AirAsia juga selalu menawarkan promo kepada pelanggan, bahkan hampir setiapa bulan menghadirkan harga termurah sampai 75 Ribu Rupiah.

Pengalaman pertama bersama Airasia :)

Pengalaman pertama bersama Airasia :)

AirAsia bukan hanya berhasil menghilangkan sekat yang seakan sengaja saya buat untuk orang-orang tersayang disekitar saya. Dengan harga ekonomis, kemudahan melakukan pembayaran dan pelayanan paripurna dari para crew AirAsia, sekarang saya memiliki kesenangan baru mendatangi tempat-tempat menarik yang belum pernah saya kunjungi.  Mungkin belum bisa disebut seorang traveler sejati karena masih agak susah mengatur waktu.

Setidaknya dengan mendatangi beberapa tempat, akhirnya saya memiliki kesempatan melihat hal-hal baru, membuka cakrawala dan belajar tentang banyak hal. Saya selalu percaya bahwa bertemu banyak orang dan mengenal lingkungan baru akan membawa saya menjadi pribadi yang lebih open minded. Semoga !

Ke Manado bersama Air Asia dan berkesempatan belajar mainin alat musik kolintang  :)

Ke Manado bersama Air Asia dan berkesempatan belajar mainin alat musik kolintang :)

Berikutnya saya menjadi yakin, obsesi saya mengunjungi Raja Ampat atau berfoto di Emirates Stadium, markas keseblasan kebanggan saya, Arsenal, bukan sesuatu yang mustahil. Berkunjung ke Manado, Yogyakarta dan Taka Bonerate di Kepulauan Selayar beberapa waktu lalu mungkin terdengar sangat mainstream. Tapi semoga menjadi awal yang baik untuk selanjutnya bisa menginjakkan kaki di tempat-tempat menarik lainnya. Because, Now Everyone Can Fly…

Tulisan ini saya dedikasikan kepada kakak ipar tercinta di alam sana dan AirAsia yang memasuki tahun ke 10 beroperasi di Indonesia. Semoga makin sukses !

Nikmatnya Susu Susanti

Anda para lelaki yang otaknya terlanjur mesum membaca judul diatas, please, buang jauh-jauh harapan bahwa saya akan mengumbar cerita dewasa seperti yang sering anda akses di situs-situs murahan yang banyak bertebaran di jagad maya :p. Sekali lagi, sebelum pikiran kita jauh mengembara membayangkan hal-hal jorok, mari bicara tentang sesuatu yang sedikit ilmiah, tentang ilmu yang pernah kita peroleh di bangku kuliah. Setuju ?

Untuk mahasiswa komunikasi, istilah marketing mix mungkin bukan sesuatu yang asing. Seingat saya, materi tersebut bisa didapatkan pada beberapa mata kuliah, terutama yang berkaitan dengan komunikasi bisnis. Ilmu komunikasi memang  terkait dengan hampir seluruh aktifitas manusia, termasuk kegiatan marketing dan ekonomi secara umum. Itu pulahlah yang membuat saya bangga, karena ilmu yang pernah saya peroleh ternyata berpengaruh terhadap semua sisi kehidupan manusia.

Termask untuk hal-hal bersifat sangat privat sekalipun, ilmu komunikasi begitu dibutuhkan. Anda mungkin pernah dengar bahwa urusan ranjang juga membutuhkan komunikasi yang baik dan intens. So, anda cukup tau saja bahwa jika punya pasangan kelak, komunikasi saya di tempat tidur tidak akan bermasalah #apasih

Marketing mix yang banyak bicara tentang bauran antara product, price, place dan promotion dalam memasarkan sebuah brand tak akan saya ingat-ingat lagi jika bukan karena interaksi saya dengan Gadis Puspitasari, seorang teman yang bekerja sebagai Marketing Manager pada sebuah koorporasi di Bandung yang menjadi produsen produk Susu Susanti. Susu Susanti yang mengusung tagline ‘Segar Merangsang” adalah susu murni yang dikemas dalam gelas plastik bergambar perempuan dengan desain yang cozy.

Minggu lalu saya ikut membantu Gadis membuat Press Release pembukaan outlet baru Susu Susanti di Jl. Purwakarta, Antapani, Bandung. Praktis sayapun harus mendalami product knowledge demi sebuah press release yang berkualitas dan suksesnya acara Press Conference temen saya itu :). Sayapun harus mencari-cari referensi tentang bagaimana sebuah produk membentuk positioning.

Susu SusantiTernyata nama-nama produk yang nyeleneh seperti halnya Susu Susanti mulai bermunculan sejak era social media banyak digunakan sebagai medium pemasaran produk-produk baru. Perpaduan nama yang unik dan dan karakter social media dengan kemampuan menyebarkan informasi secara massif, membuat proses menciptakan ketertarikan seperti yang disebut pada pola pemasaran dengan konsep AIDA ( Attention, Interest, Desire, Action ), bisa tercapai dengan baik.

Mereka rata-rata sukses mendapat tempat dihati konsumen. Di Bandung, yang saya tau ada nama Rawon Setan, Nasi Goreng Mafia, Bebek Garang, Nasi Goreng Gila, Oseng Mercon dan Maichi yang fenomenal itu. Mungkin ini menjadi pakem baru marketing mix yang lebih banyak menonjolkan diferensiasi pada unsur promosi mereka, dan umumnya mereka berhasil meskipun kualitas produk tetaplah yang paling utama.

Dan untuk Susu Susanti sendiri, kemampuan “memanfaatkan” nama legenda bulu tangkis Indonesia, Susi Susanti sebagai plesetan produk, menjadi sebuah nilai lebih. Selain itu, pemilihan nama menu serta gimick yang selalu dihadirkan di social media mereka seperti pada akun twitter @SusuSusanti, membuatanya selalu menjadi top of mind ditengah masyarakat Bandung yang memang terkenal dinamis. Bayangin, di outlet Susu Susanti terdapat menu dengan nama Surasang (susu rasa pisang), Subego (Susu rasa stroberi dan mango), Sukresek, Surakiw, Suramok dan masih banyak lagi. Cukup unik kan ? :)

Jika kita kerap mendengar ada usaha baik yang berskala makro maupun usaha kecil tiba-tiba pailit. Jangan-jangan mereka tak mampu mengikuti pakem baru marketing mix yang telah banyak bergeser seiring kemajuan teknologi komunikasi dan informasi. Sebuah kondisi yang menutut kretifitas tanpa henti !

Marahnya Pejabat Publik

AA036965Mencoba mengalihkan perhatian dari Feni Rose yang sedang antusias jualan rumah, sayapun sukses disuguhi tayangan pejabat sedang marah-marah di depan pegawainya oleh dua chanel televisi berbeda. Terlahir pada dekade dimana TVRI yang menjadi tontonan  kami kerap hanya menampilkan pidato pejabat atau tayangan saat mereka melakukan pengguntingan pita, membuat adegan kepala daerah marah-marah itu menjadi sangat menarik untuk disimak. Saya sampai gak sadar mencomot tiga potong Martabak manis yang ada di depan saya :)

Dan jika dirunut kebelakang ( Nah tuh kan, istilah saya TVRI banget ), Siaran kepala daerah naik pitam yang saya tonton itu, bukan yang pertama hadir di layar kaca. Ada Ahok yang pernah mencak-mencak didepan para Kepala Dinas, Ibu Risma nunjuk-nujuk hidung penyelenggara bagi-bagi es krim, Ganjar Pranowo yang berkasi melototin pegawai dinas perhubungan dan yang terakhir saya tonton semalam, Bupati Lebak, Banten Iti Octavia Jayabaya murka gara-gara saluran air di salah satu tempat diwilayah pemerintahannya dipenuhi sampah.

Aksi itu seolah menjadi model baru cara memimpin. Semestinya kita menyambut baik dan mengapresiasi hal tersebut sebagai bentuk ketegasan sikap atas berbagai pelanggaran yang terjadi. Kita juga harus memaklumi, mungkin amarah Ibu Risma, Pak Ganjar dan Ahok  menjadi pelampiasan dari rasa frustasi mereka menyaksikan segala bentuk penyimpangan yang seakan menjadi fenomena lazim. Atau mungkin sebagai kanalisasi kemarahan karena malam harinya melihat di handphone pasangan ada SMS dari orang lain yang manggil honey :p

Apapaun itu, marah seorang pejabat publik dengan marahnya seorang tukang gerobak yang tempat jualannya digaruk Satpol PP menjadi sesuatu yang berbeda ketika ditampilkan di televisi. Tidak salah jika adegan Ibu Risma berteriak-teriak saat Taman Bungkul di Surabaya rusak, sampai di tayangkan berulang-ulang. Demikian pula adegan Gandjar Pranowo. Dalam Ilmu Jurnalistik, value berita banyak ditentutak oleh subjek berita itu sendiri atau biasa disebut names make news.  Seorang dosen saya sering menganalogikan : Presiden digigit anjing adalah berita besar, dan menjadi bisa saja ketika yang digigit anjing itu seorang rakyat jelata.

Tidak mengherankan jika tayangan ulang peristiwa Taman Bungkul di Youtube pun telah di view oleh ratusan ribu orang. Saat saya mencoba mengetik key word Ibu Risma di google, kata Ibu Risma Ngamuk berada diurutan teratas pencarian otomatis google mengalahkan kalimat Ibu Risma di Mata Najwa yang sebelumnya menjadi tayangan yang juga banyak diperbincangkan publik.

Terlepas kemarahan-kemarahan itu natural atau bentuk pencitraan, mengacu pada analogi presiden digigit anjing, bagi media televisi, kemarahan para pejabat yang selalu terlihat formil dan menjaga wibawa pada tiap penampilannya, adalah informasi berharga. Meskipun buat saya pribadi, yang lebih penting sebenaranya adalah membahas substansi kemarahan semisal perlunya filterisasi perizinan ditempat publik untuk kasus Taman Bungkul atau semakin telanjangnya praktek pungutan liar yang sebenarnya sudah menjadi rahasia umum untuk kasus Gandjar Pranowo.

Ah, media kita selalu saja getol menayangkan sesuatu yang berbau sensasi dan kerap mengabaikan konteks. Padahal efek tayangan tak selalu positif untuk penonton, anak-anak misalnya. Belum lagi fakta bahwa subyek berita yang notabene adalah figur yang mungkin menjadi idola publik dan selama ini kerap diposisikan sebagai teladan banyak orang. Marah marah tetaplah marah, dilakukan untuk kepentingan apapun, tetap saja sifatnya destruktif jika tidak dalam kontrol.

Satu lagi, sebagai mantan mahasiswa komunikasi, saya selalu percaya dengan teori yang pernah saya peroleh di bangku kuliah. Berbagai acara TV entah itu berita atau yang menyebut diri reality show dan menayangkan adegan marah-marah, sadar atau tidak sadar ( atau tidak mau tau ) sebenarnya sedang menularkan kebiasaan marah itu kepada audience. Dalam banyak buku komunikasi , terdapat  teori agenda setting dan teori jarum suntik, dimana publik sama sekali tidak memiliki kekuatan untuk menolak informasi setelah diterpakan oleh media komunikasi, layaknya kemasukan obat bius melalui jarum suntik. Sementara teori Agenda Setting Media menyebutkan bahwa tayangan media oleh publik dianggap sebagai sebuah kebenaran umum.

Kalau masyarakat mendapatkan tayangan kemarahan secara vulgar setiap hari secara terus-menerus, alam bawah sadar mereka akan menganggap kemarahan itu sendiri sebagai sesuatu yang jamak bahkan sebuah kebenaran umum. Saya sedang tidak mencari siapa yang salah, apakah TV atau pejabat publik yang marah-marah itu, atau mungkin keduanya salah ?, Apapun itu, saya amat percaya bahwa media memang menjadi sarana yang ampuh untuk menularkan nilai-nilai, terlepas itu positif atau negatif. Lalu maukah kita menjadi bangsa pemarah ? bangsa yang selalu menjadikan kemarahan sebagai jalan keluar sebuah persoalan ?

Speedy Instan Radio

Tak dapat dipungkiri, kemajuan teknologi informasi dan komunikasi telah banyak melahirkan perubahan pada akifitas umat manusia, termasuk dalam hal interaksi sosial, gaya hidup dan pola pikir. Lahirnya sejumlah kemudaahan yang ditawarkan oleh berbagai perangkat telekomunikasi membuat ruang dan waktu semakin tak memiliki batas.

8 Mei lalu di Kota Casablanca, Kuningan Jakarta, saya berkesempatan menghadiri acara launching speedy community. Salah satunya adalah Speedy Instan Radio. Speedy Instan Radio adalah layanan terbaru dari Telkom Group untuk memenuhi kebutuhan gaya hidup masyarakat dalam hal interaksi melalui medium internet. Bekerjasama dengan PT. Zamrud Khatulistiwa Technology sebagai inovator teknologi Radio 2.0. Telkom meluncurkan layanan baru tersebut.

Selain menikmati fasilitas internet unlimited di area wifi id ( saat ini akses wifi sekitar 250.000 titik di seluruh Indonesia, dan ditargetkan mencapai 1 juta wifi pada akhir 2015 ), pelanggan Speedy Instan Radio akan otomatis terdaftar sebagai member KlubRadio. Sebuah bentuk keanggotaan ( membership ) bagi seluruh pendengar radio yang dikelola oleh PT. Zamrud Khatulsitiwa Technology bersama radio-radio yang telah menggunakan teknologi Radio 2.0.

Sebagai member, pelanggan akan menikmati berbagai fasilitas dan manfaat seperti internet unlimited selama satu bulan, beriklan gratis di portal larisradio.com, menikmati satu juta musik dari berbagai genre, dalam dan luar negeri, menikmati konten siaran radio baik streaming maupun podcast dan mendapatkan diskon di merchant-merchant bertanda khusus KlubRadio dan MODIS di seluruh Indonesia. Sayapun telah menikmati layanan multimanfaat ini hanya beberapa jam setelah acara launching.

Berlangganan Speedy Instan Radio Radio bisa langsung dilakukan dengan mengetik ‘net spasi 50000 spasi radio’ ke nomer 8108dari nomer flexi atau telkomsel. Anda akan mendapatkan SMS balasan berupa kode aktivasi dan password untuk melakukan Sign in di website speedyinstanradio.net. Oh iya, Untuk memperpanjang masa keanggotaan KlubRadio, pelanggan dapat melakukan regsitrasi ulang dengan mengetik add spasi 50000 spasi radio ke nomer 8108.

Dengan hadirnya fasilitas siaran on demand atau podcast, member akan merasakan pengalaman baru mendengar siaran radio dan musik secara lebih dinamis. Selain mendengarkan siaran live radio, Siaran tunda radio dapat dibuat dalam bentuk playlist di mobile dan dikombinasikan dengan musik sesuai selera dan keinginan member lalu didengarkan di waktu-waktu tertentu.

Adapun Jumlah siaran radio yang dapat di diakses oleh member saat ini mencapai 500 siaran radio dari berbagai wilayah di seluruh Indonesia. Sementara konten-konten on demand yang bisa dinikmati terdiri dari berbagai klasifikasi. Mulai hiburan, religi, informasi bisnis, humor sampai berita-berita dari peristiwa yang terjadi dari berbagai daerah di Indonesia.

menu solariaJumlah merchant outlet discount untuk member KlubRadio saat ini sebanyak 800 outlet dan ditargetkan mencapai level 10 ribu outlet pada akhir tahun 2014. Merhant-merchant tersebut mulai dari hotel, kuliner, fashion, travel, sampai layanan jasa transportasi, kesehatan dan arena permainan. Sebaran merchant terdapat di berbagai wilayah, khsusunya dikota-kota besar di Indonesi. Adapun informasi merchant dapat diakses pada website modisradio.com.

Produk Speedy Instan Radio Radio akan melahirkan era baru dalam hal berinternet dan mendengarkan radio dan musik dengan cara yang lebih atraktif. Bukan hanya itu, dengan berbagai manfaat dan kemudahan yang dimiliki Speedy Instan Radio Radio, produk ini diharapkan menjadi pilihan berbagai kalangan. Selamat untuk Telkom Group atas produk barunya !

Tahun Politik di Negeri SMS

Dalam sebulan terakhir, hampir setiap minggu malam, saya menerima SMS atau BBM dengan pesan yang sama : permintaan dukungan kepada salah seorang peserta pencarian bakat di sebuah televisi swasta dengan cara mengirimkan SMS ke nomer tertentu. SMS dan BBM tersebut kebanyakan berasal dari teman-teman sekampung saya di Kabupaten Kepulauan Selayar Sana. Usut punya usut, rupanya salah seorang peserta talent scouting di televisi yang dimaksud, adalah perempuan dari daerah kami. Oalahhh :))

Satu, dua sampai tiga kali, saya tak terpengaruh dengan ajakan teman-teman saya. Berusaha menjadi pribadi yang mempertahankan idealisme, ajakan bertubi-tubi itu tak pernah saya gubris. Buat saya, menentukan juara kompetisi dengan mekanisme voting adalah sesuatu yang kurang fair. Unsur subyektifitasnya terlalu kental jika tak bisa disebut dominan. Kalau saya lebih suka suara penyanyi dari daerah lain, gak salah dong kalau saya punya pilihan sendiri. vokal itu soal taste, gak bisa dipengaruhi oleh unsur subyektif apalagi sesuatu yang bernuansa primordial. Duh, betapa kakunya saya ini :))

Sampai suatu waktu, sayapun luluh. Keangkuhan saya dikalahkan oleh perasaan berdosa ketika menemukan  semua orang mulai dari pejabat, teman sekolah dan komunitas masyarakat dari kampung saya, bahu membahu mengirimkan SMS. Mungkin memang saya harus sedikit mengabaikan idealisme yang sudah saya pertahankan sejak Akademi Fantasi muncul beberapa tahun yang lalu. Kapan lagi daerah saya, setiap minggu disebut-sebut di televisi kalau bukan sekarang.

Kalau kampung saya lebih beken, mungkin orang akan penasaran dan mencoba mencari tau keberadaanya. Mungkin dengan itu potensi wisata Kepulauan Selayar yang selama ini tak banyak diketahui orang, akan terekspose dengan sendirinya dan ekonomi di daerah saya akan semakin maju.. Ah, sepertinya saya sedang berusaha mempertahankan ego dan mencari pembenaran soal perubahan sikap saya soal SMS dukungan tersebut.

Karena jika mau jujur, sebenarnya saya tak sekalipun melihat perempuan asal kampung saya itu tampil di televisi :D. Kesimpulannya saya melakukan vote dan sama sekali buta dengan pilihan saya.

Kemarin saya kembali mendapat SMS dari seorang teman SMU yang mengabarkan pencalonan dirinya sebagai anggota legislatif. Pendekatannya hampir sama dengan ajakan mengirim SMS untuk pencarian bakat di televisi itu. “Kapan lagi ada teman SMU kita yang jadi legislator kalau bukan sekarang. Ayo pilih sesama anak petani”.

Ah, kali ini saya tak boleh luluh oleh romantisme yang coba dijadikan senjata oleh teman saya itu. Persoalan dukung mendukung peserta pencarian bakat tentu tak bisa disamakan dengan pilih memilih caleg meskipun kerap kita tanpa sadar terjebak menyama-nyamakannya. Bukankah menjadi sangat berbahaya memilih calon pemimpin atau wakil kita hanya karena dia adalah teman sekolah, rekan sepermainan saat kecil atau karena kebetulan berasal dari suku yang sama ? wallahualam

Trinity Lagi :)

Ini kali kedua saya sharing soal Trinity, penulis beken yang getol menceritakan pengalaman jalan-jalannya ke berbagai negara dan ke seluruh wilayah di Indonesia, melalui buku. Terakhir saya bertemu dengan perempuan bernama asli Perucha Hutagaol ini di Plaza Senayan Jakarta sebelum dirinya melakukan perjalanan keliling dunia selama setahun. “Gue traktir nih, kan bakal gak ketemu setahun.” Begitu kata Trinity berkelakar.

Setelah perjalanan panjangnya ke berbagai negara itu, saya sudah tak pernah lagi sempat bertatap muka dengan Trinity. Sebagai seorang penggemar yang kebetulan dianugerahi kesempatan beberapa kali bisa berinteraksi face to face, berikutnya saya hanya bisa mengetahui aktivitas perempuan yang selalu rame itu di berbagai sosmed. Dari timeline di twitter dan status-statusnya di facebook. Minggu lalu dia sempat berada di Bandung ( sekali lagi saya tau informasinya dari facebook ) dan saya tak bisa menunaikan keinginan saya untuk sekali lagi bisa bertegur sapa dengan Trinity.

trinityKerinduan saya sedikit terobati ketika dirinya menjadi bintang tamu pada acara Indonesia Lawak Klub di Trans TV. Ya saya selalu rindu ngobrol dengan orang yang selalu bisa menebar isnpirasi melalui aktivitas yang dilakukan. Rindu ingin seperti Trinity yang bisa bekerja sambil menekuni hobby jalan-jalannya. Melanglangbuana keberbagai negara dan lalu menuliskan berbagai aktivitasnya itu di majalah tempat dirinya menjadi editor in chief. Menuangkannya dalam sebuah buku yang kemudian menjadi best seller. Tentu pundi-pundinya pun semakin tebal. Ah, terdengar begitu menyenangkan :). Jujur saya kagum dan iri dengan Trinity.

Membaca beberapa seri bukunya membuat saya sempat berpikir untuk suatu waktu bisa juga menyambangi tempat-tempat menyenangkan di muka bumi ini. Salah satu yang spontan terlintas di benak saya adalah Emirates Stadium, markas klub sepak bola kebanggaan saya, Arsenal !. Saya juga ingin mengunjungi negara Jepang yang kata Trinity dalam buku The Naked Traveler, di salah satu wilayahnya terdapat sebuat tempat dimana kaum perempuan gak ada yang pake busana sehelai pun ha..ha..

Anyway, bicara soal jalan-jalan, beberapa waktu lalu, saya yang belum pernah kemana-mana ini selain bolak balik Bandung – Makassar seperti dihakimi oleh Trinity melalui postingannya di Facebook :

Kenapa saya suka nyebar virus traveling?
Karena makin banyak jalan2 = makin open minded = makin toleran = dunia makin damai!
(jadi kalo ada org yg bigot dan picik, berarti kurang jalan2 dia)

Ah Trinity paling bisa.. Meski mungkin bernada iseng tapi status ini sukses menuai pro dan kontra diantara teman-teman dia di facebook dan membuat saya sesaat berpikir menjadi manusia kurang lengkap karena tak pernah sekalipun menyambangi daerah-daerah destinasi di Indonesia, apalah lagi berkunjung ke luar negeri.  Jalan-jalan dan mindset berpikir tentu bukan dua faktor tunggal yang kemudian saling kait-mengait. Tapi yang dikatakan Trinity ada benarnya.

Perjalanan adalah proses melihat dan ajang untuk belajar. Belajar untuk memahami apa yang ada di sekeliling kita. Betul, dengan banyak berinteraksi, cakrawala dan khasana berpikir akan semakin terbuka. Tapi tentu “berjalan” tak semata seperti yang dilakoni Trinity. Menjelajahi Asia lalu menyeberang ke Eropa. Berjemur di pantai Raja Ampat lalu seketika sudah memasang foto di Instragram sedang berada di Banda Aceh. Perjalanan bukan hanya oleh raga.

Melewati bangku SD dan kemudian tampil dengan seragam putih abu-abu adalah sebuah perjalanan. Berkenalan, tukar nomer telpon, menjadi sepasang kekasih lalu kembali menjadi teman biasa ( ini curhat sebenarnya :p ), juga sebuah perjalanan. Perjalanan yang mengajarkan kita berbagai value dalam hidup. Bahkan duduk berdiam diri di cafe seperti ketika saya mengetik tulisan ini lalu menayksikan pengunjung cafe berseliweran adalah proses melihat dan berpikir.

Raga kita tak kemana-mana tapi jiwa kita bisa melanglangbuana dengan apa yang kita lewati di kehidupan. Satu lagi, Bukankah ada yang disebut dengan perjalanan spiritual ? Bukankah kita sedang melakoni perjalanan hakiki dari lahir menuju fase kematian ?  Sejatinya, semua kita sedang jalan-jalan. Ah,. akhirnya saya dapat pembenaran untuk tak lagi terlalu iri dengan Trinity.

Apa salah Angel Lelga ?

Angel-Lelga-4Saya tak sempat menyaksikan episode Mata Najwa di Metro TV yang menghadirkan Angel Lelga sebagai narasumber. Heboh soal bagaimana caleg dari PPP itu kelabakan menjawab pertanyaan Najwa Shihab, saya baru dapati dari beberapa postingan teman di social media. Termasuk berita soal Suryadarma Ali, “bos” Angle Elga yang menuding Metro TV, khususnya Najwa, telah berbuat dzalim terhadap perempuan berparas ayu itu.

Lontaran kata-kata  yang justru menjadi bumerang dan membuat sang Menteri Agama tersebut jadi bulan-bulanan publik. Sebagian besar komentar menganggap Suyadarma Ali terlalu berlebihan membela kadernya.

Saya tak ingin menyalahkan siapa-siapa. Tapi sebagai mantan mahasiswa komunikasi dan pernah bergelut dalam dunia penyiaran meskipun bukan dalam mediun audio visual ( televisi ), hati saya sedikit tergelitik dengan peristiwa yang dalam beberapa hari ini masih menjadi perbincangan banyak kalangan. Tayangan ulang di Youtube dari perbincangan itu telah ditonton sebanyak lebih dari satu juta tigaratus kali. Termasuk saya :)

Jika tujuan Najwa adalah menelanjangi Angel Lelga dan memberi pesan ke masyarakat betapa rekruitmen calon anggota legislatif yang teramat serampangan, maka Metro TV sukses menunaikan misinya. Namun dalam perspektif sebuah acara televisi berbentuk “Talk” dan “Show”, saya pikir Metro tak bisa dikatakan benar-benar berhasil. Sepemahaman saya, ada sebuah etika antara narasumber dan pewawancara yang semestinya dikedepankan. Narasumber dan pewawancara adalah dua komponen yang semestinya berkolaborasi, seiring sejalan menghadirkan perbincangan yang baik dan menarik.

Show sejatinya memberi inspirasi dan khasana baru dalam alam berpikir penonton atau pendengar. Oke, mungkin cakrawala publik semakin terbuka untuk selektif memilih calon wakil mereka. Tapi jika pemahaman baru itu didapatkan dari sebuah aksi menelanjangi jika tidak bisa disebut mengolok-olok narasumber, mungkin tidaklah terlalu elegan apalagi disebut menarik. Lalu apa bedanya dengan Olga yang mengolok-olok ( maaf ) bibir Omas.

Saya tidak terlalu yakin jika Najwa ( atau mungkin produsernya ) tidak benar-benar tau mana pertanyaan yang cocok atau mampu di jawab oleh Angel Lelga. Pertanyaan soal keterkaitan Islam dan negara adalah pertanyaan yang menurut saya teramat filosofi. Bahkan mungkin seorang akademisi pun butuh berpikir beberapa saat untuk merangkai jawaban. Pertanyaan kritisnya, apa semua caleg harus bisa menjawab itu baru kemudian bisa disebut kapabel ?.

Pola rekruitmen caleg oleh partai yang terkesan pragmatis adalah kesalahan kita dalam berpolitik. Lebih tepatnya kesalahan partai yang cenderung menjadikan partai politik itu sebagai tunggangan mencapai tujuan kelompok lalu membenarkan berbagai macam cara untuk mecapai kemenangan politik. Cara kita berpolitik memang masih sangat prosedural. Tidak subtantif. Mungkin itu yang ingin di tunjukkan Metro TV. Dan lalu Angle Lelga lah sosok yang tepat ditampilkan untuk mewakili kondisi itu.

Untuk sebuah “show”, dia beken, dia cantik dan yang terakhir, Metro TV memastikan dia bisa di telanjangi karena pemahaman politiknya yang masih sangat minim. Jadi menurut saya, kejadian tersebut adalah “kecelakaan” atau “cacat” dalam sebuah program acara yang sudah dirancang dari awal. Tidak terlalu naif kalau saya bilang, status artis, kecantikan dan sekaligus ( sekali lagi maaf ) kebodohan sang narasumber telah di ekploitasi dalam hal ini.

Metro TV tau betul ketimpangan antara intelegensia Najwa dan Angel Lelga. Ketimpangan itu yang kemudian dikemas dalam sebuah program “talk” bertujuan “show”. Mempertontonkan aksi menelanjangi, membuka kebodohan orang secara vulgar di depan jutaan pasang mata. Dan menurut saya, ini yang tidak terlalu elok…

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.