Kartu ATM ( Lagi )
Entah kenapa hidup saya ini selalu bermasalah dengan ATM dan cinta ? #Eh… Tapi serius, dalam hitungan enam bulan, 4 kali saya bermasalah dengan ATM. Pernah suatu waktu kartu ATM saya ketelan mesin ATM ( Ya iyalah, masa mesin penggilingan padi ). Sekali waktu melakukan penarikan, duitnya gak keluar tapi saldo saya berkurang. Dan Dua kali kartu ATM saya error dengan tulisan “maaf kartu anda kadaluarsa”.
Dari beberapa kasus tersebut, yang paling tragis adalah ketika malam-malam saya akan pulang kerumah dari Terminal Leuwipanjang Bandung dan tanpa saya sadar di dompet saya sudah tak ada selembar duitpun. Saat bermaksud narik duit, lagi-lagi kartu ATM saya ngambek. Apa mungkin sebagian uang saya bersumber dari orang-orang nggak jelas sampai saya harus ditegur dengan masalah kartu ATM berkali-kali ? mungkin ada sebagian dari Ahmad Fathanah kali ya. *ngaco
Tapi orang baik seperti saya, akan selalu bertemu orang baik pula setiap ada kesulitan :p. Saat kasus akan pulang kerumah dan kartu ATM bermasalah itu, sayapun dengan sangat sungkan meminta pertolongan pada seorang bapak usia 70 tahunan, yang sedang berjualan rokok dengan gerobaknya. Sebenarnya sangat klise ketika saya mengutarakan niat menitipkan sebuah handphone sebelum saya datang untuk mengganti duit yang dia pinjamkan. Karena sayapun yakin bapak itu gak akan tega ‘menyandera’ HP saya. Ntar saya telponan sama pacar pake apa ? huekk..
Di tengah rasa dingin yang menusuk, rasa haru seketika menggelayut saat bapak itu menyodorkan selembar duit dengan nominal lebih dari yang saya minta “takut nanti dijalan ada apa-apa dan duitnya gak cukup. Gak usah diganti nak, pake saja,” sesaat saya seperti menemukan sosok orang tua saya ketika saya masih kuliah dan akan balik ke Kota. Ucapan tulus yang membekas dihati saya sampai sekarang.
Lalu Setelahnya, sayapun menemukan diri saya menjadi manusia tak tau berterima kasih. Hari sabtu dan minggu pertama setelah bertemu bapak itu, hujan mengalahkan tekad saya untuk berkunjung sekedar membawa buah tangan atau apa saja sebagai imbalan atas kebaikan sang bapak ( meskipun saya tau apa yang dilakaukannya pasti tak berharap pamrih ). Hari-hari berikutnya saya disibukkan dengan aktivitas keluar kota, pekerjaan kantor yang menguras tenaga hingga malam hari dan berbagai rutinitas lain. “nanti juga gak apa-apalah, toh bapak itu pasti masih jualan,” begitu saya berpikir.
Lalu dua malam lalu, sekitar sebulan pasca pertemuan kami, saya mampir ke gerobak sang bapak sepulang dari perjalanan keluar kota. Niatnya sih silaturahmi sekalian memberi oleh-oleh. Saat baru saja turun dari angkot, mata saya celingukan karena gerobak bercat putih itu, ternyata tak ada di tempat. Informasi yang saya peroleh dari seorang penjaga warung, spontan menghadirkan rasa sedih, dan penyesalan mendalam. Bapak itu sudah pulang ke kampung halamannya di Jawa Timur sana. Seketika saya mengutuk diri. Bapak itu pasti tak pernah ingat lagi dengan apa yang dia berikan, tapi jasanya tak akan bisa digantikan dengan jumlah uang berlipat-lipat dari yang ia berikan.
Suer.. jika malam itu ada yang memberi pilihan antara kaos Arsenal yang telah dibubuhi tandatangan Theo Walcot dan selembar lima ribuan, maka kostum tim kebanggaan saya itu akan saya tampik. Segala sesuatunya memang tak harus diukur dari nilai yang kasat mata terlihat. Sesuatu terasa berharga karena dia memberi arti dan manfaat. Sepertinya seperti itu. Dan saya menjadi orang yang tak tau menghargai itu..
Pun kenapa saya begitu sombong atas kuasa Tuhan, sampai lupa bahwa segala sesuatunya bisa hilang dan pergi, saat saya belum sempat berbuat apa-apa. Semoga bapak itu baik-baik saja..
Tulisan ke 100
Finally, tulisan di blog ini melewati jumlah 100
. Sebenarnya gak ada yang istimewa terkecuali bahwa angka seratus kerap diassosiasikan sebagai sebuah level pencapaian. Apapun itu, untuk diri pribadi saya, tulisan keseratus lebih pada sebuah pembuktian bahwa ternyata seorang penyiar bisa menulis juga !. Dulu saya seperti dikurung oleh sebuah mental block bahwa sebuah kewajaran jika orang yang trampil berbicara, semisal penyiar ( Boleh dong penyiar ngaku trampil berbicara
), terkadang susah untuk mengaktualisasikan pemikiran mereka dalam bentuk tulisan.
Tak ingat lagi dimana dan darimana saya mendengar pernyataan itu, hingga kemudian saya mengadopsinya mentah-mentah dalam alam berpikir saya. Bertahun-tahun saya bertahan di zona nyaman bahwa tak mahir menulis tak harus ditangisi. Pernah sih beberapa kali mencoba menulis sesuatu dan selalu gagal ketika akan memulai, padahal idenya sudah ada di otak. Saat gagal, begitu gampang saya menyerah karena mungkin sudah terpenjara pada miss persepsi tadi. Padahal saya sadar betul bahwa dengan menulislah pesan-pesan yang ingin kita sampaikan bisa lebih massif penyebarannya dan mungkin akan lebih long lasting.
Kata Pramoedya Ananta Toer “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian” . Saya gak bilang saya pandai dan lalu punya kewajiban moral menularkan kepandaian saya lewat tulisan. Setidaknya, dengan menulis saya merasa lebih bisa berlatih mengemukakan ide, pendapat dan pikiran saya secara terstruktur, mengasah kepekaan terhadap apa yang terjadi, plus belajar berempati dan melihat segala sesuatu dari berbagai sisi. Syukur-syukur jika kemudian mampu memberi inspirasi dan manfaat untuk orang banyak.
Alhamdulillah, sekitar 5 diantara seratus lebih tulisan di blog ini, pernah terpublikasikan di media cetak. Dari blog ini, saya kemudian mendapat tawaran menjadi penulis paruh waktu pada sebuah Majalah Nasional. Mungkin itu belum apa-apa. Tapi ternyata ketika saya berhasil mengatasi mental block tersebut, banyak hal-hal positif dan produktif yang bisa saya lakukan. Sekedar bahwa saya berhasil menaklukkan “inferior complex” dalam diri saya, saya telah sukses !!.
Terima kasih tak terhingga wajib saya sematkan untuk orang-orang yang telah memberi inspirasi. Dia adalah Indra Herlambang, presenter yang jago capciscus sekaligus trampil mengemukakan ide-idenya lewat tulisan. Cara dia bertutur dalam bukunya “Kicau Kacau” mengalir natural dan nggak njelimet. membaca tulisannya seperti mendengar dia berbicara. Menelaah satu persatu uraian kata dan kalimatnya, membuat saya dan mungkin orang-orang yang pernah membaca tulisannya sekonyong-konyong menyunggingkan senyum, manggut-manggut atau bahkan geleng-geleng kepala karena kejelian Indra mengamati fenomena yang ada disekitarnya.
Lalu ada seorang Aulia Halimatussadiah yang pernah ngomong ke saya, “nggak punya ide itu justru adalah sebuah ide” maksudnya, kondisi apapun yang tengah terjadi pada diri kita, itu bisa menjadi sebuah bahan tulisan dan tulislah selayaknya kamu ingin mengemukakan apa yang sedang kamu alami ke orang lain, mungkin itu yang ingin dikatakan Olie, panggilan akrab Aulia Halimatussadiah yang telah menulis 20 lebih judul buku.
Saat masih siaran, saya pernah bertemu dengan penulis buku “The Naked Traveler”, Trinity. Dari perempuan bernama asli Perucha Hutagaol ini pulalah saya banyak belajar meski dari beberapa kali pertemuan kami, semuanya hanya berlangsung dalam hitungan jam. “Jadilah diri kamu dalam tulisan kamu” itu pesan yang pernah saya tangkap dari obrolan saya bersama Trinity pada sebuah kesempatan.
Sedikit banyak saya bisa mengartikan bahwa selama kita bisa berbicara, maka selama itu pula kita bisa menulis. Tinggal bagaimana belajar mengemukakan pikiran kita dalam tulisan secara lebih terstruktur. Berinteraksi dan banyak membaca, menurut Trinity menjadi kuncinya.
Di tulisan yang telah melewati angka seratus ini, semoga tak berlebihan jika saya mengucapkan terima kasih sekiranya ada yang sudi dan pernah mampir ke blog ini. Dan Jika boleh bercita-cita, suatu waktu kelak, ingin rasanya seperti Trinity, Aulia Halimatussadiah dan Indra Herlambang. Bukan karena berhasrat menjadi beken seperti mereka, tapi ingin punya pemikiran-pemikiran yang bisa menginspirasi orang lain. Dapat membuat orang lain menjadi lebih baik dan produktif. Akankah ?
Polwan Inside :)
Hari sabtu kemarin, saya berkesempatan mengunjungi ajang Indonesian Broadcasting Expo ( IBX ) di Balai Kartini, Jakarta. Acaranya rame, stand-stand yang dihadirkan juga beragam. Mulai dari perusahaan media nasional, penyedia produk-produk alat penyiaran, Assosiasi Usaha Penyiaran sampai organisasi yang mengaku berkepentingan dengan dunia penyiaran ( Broadcasting ).
Lalu apa hubungannya dengan judul tulisan ini ?. Ya.. strategi pasar juga berlaku di ajang pameran tahunan itu. Untuk menarik perhatian pengunjung yang nantinya akan menjadi target pasar mereka, berbagai trik dilakukan pengelola stand. Salah satunya dengan menggelar acar-acara menarik atau menghadirkan sesuatu yang “menarik”
. Ada acara lomba, games, door prize, workshop, sampai foto bareng dengan artis atau pengsisi acara televisi. Beberapa diantara mereka adalah artis-artis terkenal dan beberapa diantaranya lagi adalah presenter.
Salah satu yang paling menyedot perhatian pengunjung adalah kehadiran Avvy Olivia dan Dara Intan, anggota polwan yang juga pembawa acara televisi di stasiun Metro Tv. Saya gak bilang mereka di hadirkan sebagai “pemanis”, tapi wajah manis mereka tetaplah tak bisa dipungkiri membuat orang terpancing untuk mampir di stand Metro Tv. Mungkin ingin sekedar foto bareng, atau memang pengen tau lebih dalam dapur redaksi Metro Tv, setelah itu baru foto bareng he,.he.he… Yang jelas, stand Metro Tv rame sekali karena kehadiran mereka.
Sejak Avvy, Eka frestya dan Dara wara-wiri di layar kaca, mereka memang telah menjelma sebagai idola baru. Popularitas mereka bolehlah disamakan dengan artis-artis yang juga sering muncul di televisi. Bahkan mungkin lebih tenar dari artis-artis yang hanya bermodal sensasi dan diuntungkan oleh kehadiran acara infotainment.
Saya baru tersadar betapa mereka sengat populer saat saya iseng ( sebenarnya niat :p ) memasang foto kami berdua di Display Picture BBM . Setalahnya, begitu banyak komentar yang berdatangan mulai dari yang bernada guyon, iri pengen foto bareng juga, sampai yang mendoakan kami menjadi keluarga yang sakinah mawadah warohmah hahahahaha…
Tapi mereka tetaplah sebagai abdi negara dan pengayom masyarakat. Kehadiran Avvy dan Dara di jalan raya, tetap lebih diharapkan ketimbang mereka harus banting setir ke dunia hiburan seperti langkah yang diambil oleh Briptu Norman. Tapi kepopuleran polwan-polwan cantik itu sebenarnya cukup strategis dalam rangka menunjang tugas mereka.
Saya jadi teringat dengan jumlah lakalantas yang setiap hari bertambah dan didominasi oleh para pelajar dan kaum remaja ( data tahun 2012 ). Kenapa juga, mereka ( para polwan populer itu ) tak diangkat saja jadi duta keselamatan berkendara. Saya yakin kalau mereka menjadi ambassador, efek awareness nya akan lebih kuat. Mungkin akan lebih efektif ketimbang pembalap Rifat Sungkar yang baru-baru ini didaulat menjadi duta keselamatan berkendara.
Lagian penggemar Rifat Sungkar bukannya malah terinspirasi oleh kemahiran Rifat menunggangi roda empat lalu pengagumnya justru ikut-ikutan mempraktekkannya di jalan raya ? ( maaf, mungkin ini pikiran normatif saya saja ).
Mungkin kehadiran Avvy dan kawan-kawan jika menjadi duta, juga bisa menjadi momentum menguatkan pendekatan persuasif ke masyarakat terkait keselamatan berkendara. Karena pendekatan hukum ( penindakan ) justru kurang efektif karena lebih banyak nuansa permisif dan tawar-menawar dalam penerapannya.
Keterangan Foto : Bandingkan antara yang perawatan dan yang tidak
Tentang Jilbab
Ponakan dari kakak perempuan saya, saat ini usianya masuk 12 tahun. Sebentar lagi jadi remaja. Artinya sayapun semakin tua. Tapi gak usah dibahas ah… Kemarin saya telponan dengan ponakan saya itu. Dan seperti biasa saya hanya bisa ngobrol sebentar karena memang agak kurang suka ngobrol dengan anak-anak ( om yang jahat
). Pada Obrolan super singkat itu, Indri, nama ponakan saya, sempat ngomongin soal statusnya sebagai murid baru pada sebuah sekolah menengah pertama di kampung halaman kami, lalu berlanjut dengan curhat soal keinginannya untuk masuk pesantren .
Sebagai Om yang ganteng :p, Saya pasti senang. Karena setau saya, banyak anak seusia dia yang ogah disekolahkan di pesantren. Mungkin karena diasramakan dan sistem pengajaran yang untuk sebagian anak terlalu kaku, hingga lebih banyak yang memilih masuk sekolah konvensional.
Saya juga senang dengan rencana dia menggunakan jilbab jika naik kelas 2 kelak. Lalu diapun meminta saya mencarikan jilbab. Katanya di Bandung pasti lebih murah dan lebih banyak pilihan. Lalu sayapun iseng mengetik kata jilbab di kolom ajaib om google yang pemurah lagi tidak sombong itu. Maka bermunculanlah berbagai artikel, toko online, jasa kursus hijab, situs komunitas hijab sampai event pameran jilbab dan fashion show yang diiklankan di internet. Saya jadi bingung, karena awalnya saya memang hanya bermaksud mencari toko jilbab yang paling murah ( om yang pelit
)
Bukan hanya agak bingung mencari referensi, tapi sesaat saya seperti tersadarkan, betapa peradaban kadang berubah begitu cepat. Atau mungkin saya yang tak bisa mengkuti akselerasi peradaban, hingga baru tersadarkan ketika terantuk pada satu momen yang membuat saya ngeh, betapa hidup terus bergerak. Nilai berubah dan bergeser atau bahkan frontal berbalik 180 derajat. Konstruksi sosial dan peradaban yang ada di 10 tahun lalu, kadang berubah drastis bahkan menawarkan paradoksal.
Termasuk soal jilbab. Jilbab yang awalnya adalah tuntunan untuk kaum muslimin berbusana dan bersikap sesuai syariat Islam ( menutup aurat seperti yang diperintahkan agama), ternyata keberadaanya tak lagi sesederhana itu. Dan Pula, tak sebersahaja seperti yang diilustrasikan pada lagu qasidah berjudul Jilbab Putih.
Jilbab, kemudian banyak yang menyebutnya hijab ( tirai dalam bahasa arab ), saat ini tak lagi persoalan bahwa wanita harus mencegah kerusakan di muka bumi dengan tidak mempertotntonkan bagian tubuhnya. Bicara jilbab juga bicara soal trend, life style, soal citra ( orang yang cara berjilbabnya biasa aja dengan mereka yang modis, bisa jadi akan dipandang berbeda secara sosial, Mungkin ya.. ). Anda pasti sudah sering dengar soal komunitas hijab yang kemudian ( maaf, seperti ) eksklusif itu.
Sengaja atau tidak, Ekslusifitas dan pengklasifikasian secara sosial itu memang terjadi. Ya,. karena dalam diri manusia secara kodrati terdapat sebuah defence mecanism, dimana seseorang ingin mengaktualisasikan diri sebagai muslim, namun tak ingin lepas dari label sebagai manusia modern yang selalu harus tampil modis, menarik dan tidak kuno seperti yang akhirnya tercitrakan pada pengguna jilbab konvensional. Medialah yang memiliki peran besar menciptakan perkawinan budaya pop dan religion identity dan akhirnya melahirkan sebagian pribadi yang lebih mengutamakan sisi konsumtif, mode dan trend ketimbang hakikat dari jilbab itu sendiri.
Diawali dari label Hijabers, sebuah perpaduan nama Arab dan Inggris yang membentuk image modern. Lalu beralih ke pemilihan model busana yang saya yakin akhirnya berharga tak sedikit ( karena untuk melahirkannya butuh sentuhan desainer sekelas Jenahara, Ida Royani sampai desainer muda Dian Pelangi dan Zaskia Mecca ). Membutuhkan bahan yang pastinya tak berharga standar. Lalu harus mengikuti seminar dan kursus agar mahir menggunakan jilbab yang pemakaiannya setau saya tak lagi sekedar ditutupkan kekepala dan jidat lalu menautkan peniti seperti nenek saya di kampung. Harus tetap up date dengan mengikuti acara fashion show pakaian hijab. Hasil hunting saya, ada jilbab yang harganya hampir setengah juta dan setara dengan Down Payment kredit kendaraan road dua
Dengan citra manusia modern dan high class yang melekat pada para hijabers, tempat nongkrongannyapun ( mungkin ) tak boleh sembarangan. Maaf sekali lagi, ini fenomena. Dalam artian masih banyak teman-teman saya yang menjadi pemakai jilbab modis namun gaya hidupnya tetap biasa saja bahkan tidak berubah secara signifikan. Namun harus disadari, fenomena yang saya sebutkan sebelumnya, nyata adanya. Sayapun tak menafikan bahwa komunitas-komunitas hijab banyak melakukan hal-hal positif semisal aktivitas sosial, kegiatan edukatif dsb.
Mungkin ketakutan dan penilaian saya berlebihan. Mungkin juga saya cuman takut tak mampu membelikan jilbab buat ponakan saya lalu niat baiknya tak terakomodasi lalu saya ketakutan telah memberi andil didalamnya. Lagian saya mungkin tak perlu terlalu nyinyir karena diluar sana begitu banyak perempuan yang telah melakukan “kekerasan” terhadap laki-laki dengan mempertontonkan kemolekan tubuhnya dalam balutan busana yang mini nan ketat. Setidaknya berjilbab ( apapun modelnya tetaplah lebih baik ).
Sisi baiknya adalah, fenomena itu akan mendorong tumbuhnya ekonomi secara makro. Memberi stimulan pada industri kreatif. Dan secara sosial, individu-individu memiliki banyak ruang untuk berinteraksi dalam sebuah komunitas sehingga memungkinkan terlahir menjadi pribadi yang berpikiran lebih kreatif dan produktif.
Pun, kenapa saya terlalu ribut soal jilbab. Dibalik balutan busana apapun yang dikenakan, mereka itu adalah manusia . Perilaku, sifat dan cara berpikir merekalah yang secara hakiki memberi nilai terhadap kemanusiaan seorang manusia. Iyeaa kan ?
Ibu Kita
Meski tak ikut nimbrung saat Ibu kos dan salah seorang Ibu lain sedang ngobrol seru, tapi telinga saya terus menyimak apa yang mereka perbincangkan. Di warteg langganan saya, mereka bicara mulai dari harga bawang hingga cerita tentang seorang Ibu tua tetangga kami yang sakit-sakitan dan lima orang anak-anaknya, berbulan-bulan tak sekalipun datang menjenguk. Untuk membawanya ke rumah sakit, anak-anak remaja mesjid di komplek tempat saya bermukimlah yang mengupayakannya.
Sekali lagi, meski tak ikut bergabung, hati dan pikiran saya terus merespons obrolan mereka, terutama soal Ibu yang sedang sakit itu. Sungguh tak habis pikir dengan perlakuan anak-anak dari Ibu yang katanya sudah berumur lebih dari 60 tahun tersebut. Saya tak tau seperti apa pola dan karakter hubungan antara si ibu itu dan anak-anaknya, Tapi mereka yang melahirkan kita, tetaplah ibu kita, orang tua kita yang telah membesarkan kita dan selayaknya mendapatkan perlakuan yang baik, bahkan seharusnya istimewa.
Atau saya mungkin kelewat sentimentil saja karena baru dua malam lalu teman saya curhat soal kepergian ibunya setelah Ayahnya juga mendahului dia dan saudara-saudaranya beberapa tahun lalu. Kepergian sang Bunda yang dinilainya sebagai cobaan berat, karena dia merasa belum siap. Belum siap secara pisikologis demikian pula dalam hal ekonomi yang notabene akan menjadi pertanggungannya sebagai anak sulung. Dia juga merasa sangat menyesal belum bisa menunaikan cita-cita memberangkatnkan ibunya ke tanah suci.
Saya hanya bisa mendoakan semoga teman saya itu kuat. Pun do’a terdalam untuk ibu tetangga saya semoga cepat sehat dan anak-anaknya segera bisa tersadarkan, minimal sebelum mereka ditinggalkan oleh sang ibu yang saya yakin pasti selalu memikirkan anak-anaknya itu. Ketika menyangkut ibu dan kehilangan, jujur saya memang sangat gampang tersentu. Mungkin karena sayapun telah mengalaminya.
Memang saya tak sepenuhnya telah ditinggalkan, namun ketika Ibu saya harus kehilangan indera penglihatannya, itu artinya kami anak-anaknya telah kehilangan sebagian dari sosok yang begitu kami cintai itu. dan itu meninggalkan lara. Kami kehilangan tatapan tulus yang selalu menjadi spirit ketika kami sedang lemah. Ibu saya juga kehilangan sebagian dari kami karena dia tak mampu lagi melihat kami anak-anaknya yang sesekali pulang menengok.
Setiap saya punya kesempatan mengunjunginya, dia harus memegang bagaian tertentu di tubuh saya seperti lengan atau pinggang untuk memastikan apakah saya bertambah gemuk atau agak kurusan. Setelah itu dia akan berucap “gak penting kurus atau gemuk, yang penting kamu sehat.” Seorang Ibu memang selalu lebih bijak melihat hidup.
Saya masih ingat, ketika dokter memvonis mata ibu saya tak bisa diselamatkan, hal pertama yang saya pikirkan adalah bagaimana menyampaikan itu ke Ibu saya agar tak membuat dia shock. Maklum, kondisi badan ibu masih kuat dan dia masih menjalani aktivitas seperti biasa. Saya gak bisa membayangkan, bagaimana terpukulnya dia ketika tau kenyataan pahit itu. Tapi bagaimanapun itu harus disampaikan.
Kakak saya yang tertua mendapat tugas untuk itu. Saya tidak tau seperti apa dia menyampaikkanya. Tapi yang jelas, ketika saya pulang setelah tak sempat menemani dia operasi, pertanyaan yang spontan terucap dari Ibu saya adalah ” saya masih akan melihat kan nak ?.” Saya belum lagi menyimpan tas yang saya bawah. Saya terduduk lesu dan tak bisa mengucapkan apa-apa. Bibir saya gemetar lalu butiran bening tiba-tiba mengalir dipipi saya tanpa saya sadari.
Saya mencoba menguatkan diri lalu berucap “pasti bu, pasti”. Saya tau saya sedang mencoba memberi harapan kosong. Tapi itu mungkin yang terbaik yang bisa saya lakukan. Selanjutnya saya mencoba bercerita banyak hal tentang pekerjaan saya, tentang harapan-harapan, tentang bisnis kecil-kecilan saya yang mulai menunjukkan hasil. Saat itu sebenarnya saya sedang mencoba membicarakan masa depan dan tidak ingin berbicara situasi saat itu, termasuk kondisinya.
Beruntung saya memiliki ibu yang tabah. Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, perlahan dia mulai sadar bahwa harapan untuk bisa menyaksikan hiruk pikuk dunia memang sudah tertutup. Diapun menerima itu dengan sabar. Jujur saya banyak belajar dari kesabaran dan sifat tabahnya. Tak pernah sekalipun dia mengeluh atau menyesali apa yang terjadi.
Hanya memang, banyak perubahan dalam kondisi psikologi Ibu saya. Dia lebih sensitif dengan apa yang didengar, dirasakan dan terjadi di sekitarnya. Mungkin karena indra penglihatannya yang tak lagi berfungsi, sehingga dia lebih banyak merasa ketimbang memikirkan sesuatu. Dalam kondisi seperti itu, seorang ibu atau siapapun yang mengalami nasib serupa dengan ibu saya, cenderung banyak membutuhkan kehadiran orang lain. Sekedar untuk bercerita. Karena untuk mengetahui apa yang terjadi dan sedang berlangsung, dia membutuhkan kehadiran orang lain. Setidaknya dia tetap merasa “melihat” dunia.
Ibu saya, Ibu tetangga saya itu dan ibu anda adalah sosok terbaik yang dihadirkan Tuhan untuk kita. Jangan pernah bosan berucap I LOVE YOU untuk mereka ..
Kampoeng Jazz Festival di Bandung
Awalnya bermaksud mewawancarai seorang pengusaha waralaba makanan di acara Festival Kampoeng Jazz di Universitas Padjajaran Bandung. Saat memasuki gerbang Kampus, ternyata jurnalis pun diwajibkan menggunakan ID Card khusus, akhirnya oleh panitia yang sekilas mirip Tamara Blezinsky, saya diantar untuk mengikuti konprensi Pers demi mendapatkan ID Card memasuki areal festival. “makasih ya neng”.
ID Card ditangan, saya malah berpikir bahwa itu kesempatan buat nonton pertunjukan musik jazz yang mungkin tidak semua orang bisa menyaksikannya. Bayangkan, musisi jazz International kenamaan seperti Tetsuo Sakurai dari Jepang ternyata hadir pada pagelaran tahunan tersebut. Adapula Sondre Lerche dari Norwegia yang kalau gak salah pernah membawakan lagu Sleep On Needles. Dari dalam negeri ada Trio Lestari, Andien, Fariz RM, Indra Lesmana dan beberapa muisi jazz lain. Wah, ini kesempatan langka” Begitu saya berpikir. Meskipun sebenarnya saya tak terlalu fanatik dengan musik jazz.
Jadilah di siang sampai sore yang berawan bahkan sedikit rintik, saya menikmati beberapa komposisi jazz yang dibawakan oleh musisi-musisi beken itu. Tentu setelah misi utama menemui pengusaha tadi tuntas. Disela-sela pertunjukan, sesekali menggoyangkan badan biar keliatan menikmati hehehe…
Ternyata seru juga. Meski tak sehingar-bingar Event Java Jazz Festival atau Jak Jazz, tapi Kampoeng Jazz yang tahun ini merupakan penyelenggaraan ke lima, tetaplah sebuah tontonan menarik sekaligus menjadi pembuktian kreatifitas anak-anak muda Bandung. Asal tau saja, acara itu diinisiasi oleh mahasiswa Fakultas Hukum UNPAD dan akan rutin digelar setiap tahunnya. Salut, salut !
Rugi dong kalau acara seheboh itu gak didokumentasikan. Jadilah disela-sela pertunjukan, yang mengusung tema JAZZTORICAL “Jazz Your Back to History” itu, saya memotret beberapa momen. Termasuk ngambil foto penonton dengan berbagai pola tingkahnya
. Penasaran pengen liat ( dengan gaya seperti presenter :p ). Ini dia..
Well, untuk anda penggemar musik jazz, Kampoeng Jazz Festival yang tiap tahun digelar di kampus Universitas Padjajaran di jalan Dipatiukur Bandung, bolehlah jadi referensi. Apalagi tahun depan, panitia berjanji akan mendatangkan artis yang lebih banyak.
Pada nanya, kok gak ada foto Tetsuo Sakurai, Sondre Lerche atau Andien dan Trio Lestari ?. Soalnya mereka tampilnya malam dan saya harus segera beranjak untuk nonton pertandingan Indonesia melawan Arab Saudi. Duh, ternyata saya memang masih lebih suka sepak bola
Nonton Street Soccer di Bandung
Di bawah fly over Jalan Surapati Bandung, di tengah cuaca Kota Kembang yang masih saja sejuk di tengah hari, dua orang berjibaku memperebutkan bola. Salah satu dari mereka berhasil melepaskan diri dari kawalan lawan, meliuk-liuk, melakukan manuver lalu meceploskan bola kedalam gawang, Goool !!!. Tim berbaju merah menang atas tim dengan kostum biru. Beberapa saat kemudian, wasit meniup peluit panjang, tanda pertandingan berakhir. Tim putri Jawa Barat, mengungguli DKI Jakarta sekaligus memastikan diri sebagai kampiun. Lagu We Are The Champions dari kelompok Queen, sontak berkumandang.
Senang sekali bisa menyaksikan langsung pertandingan final kejuaraan Street Soccer bertajuk League of Change yang untuk kali ketiga digelar di Bandung, tepatnya di lapangan street soccer Bandung Wetan. Event ini diikuti oleh sembilan tim dari sembilan provinsi, yaitu Sulawesi Selatan, Jawa Barat, DKI Jakarta, Banten, Sumatera Utara, Kalimantan Selatan, Jawa Timur, Bali, dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Selama penyelenggaraan event, masyarakat sekitar fly over mendapatkan tontonan menarik berupa battle pada lapangan mini yang dikelilingi oleh jaring.
Meski baru bisa nonton di hari terakhir, tetap saja saya terpuaskan oleh keseruan dari kegiatan yang bertema “keadilan sosial bersepakbola bagi seluruh rakyat Indonesia” itu. Tidak rugi pula saya berjalan kaki dari kawasan Dago untuk menjangkau lokasi pertandingan. Asli niat.. di tas ada dua botol air mineral, kamera buat dokumentasi, plus kostum warna merah bertuliskan EWAKO !!. Maklum, tim dari tanah leluhur Sulawesi Selatan sana, masuk final dan bertemu tuan rumah Jawa Barat. Baru sampai, tiba-tiba saya disapa oleh kerumunan orang yang ternyata pemain dan official tim dari sulsel bersama mahasiswa asal Makassar. Tulisan EWAKO di baju saya, cukup untuk membuat mereka yakin kalau saya dari Makassar
Oh iya,. Salah satu keunikan dari kompetisi sepakbola jalanan yang berlangsung dari 10 – 12 Maret 2013 tersebut, diikuti oleh beberapa peserta dengan status ex pengguna narkoba, orang dengan HIV AIDS ( ODHA ) dan kaum marjinal lain seperti gelandangan dan masyarakat miskin. Oleh panitia, peserta atau tim, diwajibkan menyertakan hasil tes HIV bagi tim yang beranggotakan ODHA, hasil tes Addiction Severity Index (ASI) bagi pengguna narkoba, dan menyertakan Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) bagi peserta dari kalangan kurang mampu.
Menurut penyelenggara dari Rumah Cemara yang sempat saya ajak ngobrol, pagelaran tersebut memang merupakan program kampanye melalui sepak bola, yang diharapkan bisa pelan-pelan mengubah stigma negatif terhadap kaum marjinal sehingga mereka bisa diterima di masyarakat dengan layak. Pesan moralnya, bahwa mantan pengguna Napza, ODHA dan kaum marjinal masih bisa melakukan sesuatu dengan kondisi yang mereka alami, termasuk bermain bola. Rumah Cemara sendiri adalah sebuah LSM yang konsen melakukan pembinaan dan advokasi kaum marjinal di Kota Bandung.
Kejuaraan ini digelar tiap tahun dan sekaligus menjadi ajang seleksi untuk kejuaraan yang sama di tingkat dunia dengan nama Homeless World Cup. Untuk Tahun ini Homeless World Cup akan digelar di Polandia. Sebelumnya, ajang tersebut, berturut-turu digelar di Prancis dan Mexico. Menyaksikan para pemain bertanding, buat saya tak semata sebagai sebuah hiburan dan tontonan. Lebih dari itu, League of Change, menjadi sebuah tuntunan. Seperti sepak bola, hidup memang selalu menawarkan dua hal. Kalah dan menang !. Ketika kita kalah dan terpuruk, selalu ada cara untuk bangkit, karena keterpurukan bukanlah akhir dari segalanya..
Seperti spirit para mantan pengguna Napza dan ODHA yang sedang bertanding, apapun yang sedang mereka alami, itu tak lebih sebuah fase hidup yang memang harus dilewati. Lalu kenapa kita terlalu banyak mengeluh ???
Berikut beberapa hasil jepretan saya. Kalau kurang bagus, mohon dimaafkan. Saya kan Achmad Riyadi, bukan fotografer Darwis Triadi..
Kebetulan
Ternyata kebetulan itu, memang tidak pernah benar-benar kebetulan. Jika bisa sedikit filosofis, bukankah Tuhan memang menciptakan sesuatu bukan tanpa alasan. Bukankah sesuatu itu terjadi lengkap dengan hikmah dibelakangnya. Cuman kadang kita manusia, suka terlambat menyadari atau bahkan kerap berburuk sangka dengan segala sesuatu yang terjadi atau hadir dalam kehidupan kita, apalagi jika itu wujudnya berupa ketidakberuntungan. Wah, saya bisa wise juga ternyata..
Bukan apa-apa, jujur sayapun termasuk orang yang belum sepenuhnya bisa bersabar dan berbaik sangka dengan segala hal yang saya alami. Dan semalam, saya kembali disadarkan jika kadang dari kebetulan itulah, keberuntungan dan pertolongan datang.
Dulu ketika saya pengen kuliah dan kedua orang tua saya tidak memiliki kemampuan untuk membiayainya, saya seriang menganggap hidup ini kurang adil. Ada teman saya yang orang tuanya berkecukupan, tidak memiliki ketertarikan untuk kuliah. Saya yang ingin sekali menlanjutkan study, justru diperhadapkan pada kondisi ekonomi keluarga yang tidak memungkinkan.
Ketika ngotot untuk tetap kuliah dan bekerja sendiri untuk mencukupi subsidi dari orang tua. Saya baru sadar betapa segala sesuatu itu selalu disertai dengan hikmah. Saat kuliah, tak ada hal lain yang saya pikirkan selain belajar dan belajar. Jerih payah orang tua plus cucuran keringat saya bekerja apa saja untuk membiayai kuliah, membuat saya tak pernah berpikir menyia-nyiakan kesempatan kuliah yang sebenrnya hampir tak bisa digapai. Terpaan ujian hidup yang justru melahirkan sifat tekun dan kesungguhan hati. Alhasil ( maaf, bukan promosi ), saya selesai dengan status lulusan terbaik.. Alhamdulillah
Kebetulan-kebetulan lain akhirnya berenteten datang dalam perjalanan kehidupan saya, Ketika masih gamang dengan dunia kerja pasca wisuda, saya kebetulan bertemu dosen yang pernah mengajar saya ketika kuliah dan sedang dipercaya mengelolah sebuah stasiun radio baru di Makassar. Jadilah saya diajak bergabung.
Ketika berhasrat ingin melanjutkan study di Bandung. Saya sama sekali tidak ada bayangan, akan bekerja dimana ketika sampai di Tanah Parahyangan. Di Bulan-bulan terakhir bekerja di Radio di Makassar, saya dipercaya ikut pelatihan Radio di Jakarta. Saat sedang ikut pelatihan itu, salah seorang pemateri sempat ngobrol dengan saya disela-sela sesi break dan ternyata sedang membutuhkan talent untuk sebuah event. Jadilah saya di ajak bergabung meskipun harus bolak-balik Bandung – Jakarta.
Ketika kontrak di event itu akan selesai dan mulai diserbu seribu tanya, akan kemana setelah itu, seorang pengisi acara pada event dimana saya menjadi project officer tersebut, kebetulan ngobrol lagi saat sedang ngopi sehabis meeting. Obrolan yang akhirnya juga berujung tawaran bekerja di Bandung setelah penyelenggaraan event. Wah, saya seperti mengalami de javu.
Minggu lalu, saya kebetulan bertemu dengan teman sekampung dari Makassar sana, saat sedang makan di warteg di kawasan Dago. Saat itu, kami bertukar nomer telepon meskipun setelah itu, justru tak pernah berkomunikasi.
Semalam saya mendapat ketidakberuntungan. ATM saya error. Artinya gak bisa narik duit, padahal saat itu sedang butuh-butuhnya dan belum makan pula
. Saat sedang kelimpungan itu karena tidak tau akan minta tolong dengan siapa ( maklum, di Bandung belum ada teman), saya baru ingat kalau ATM itu berada dekat dengan rumah teman sekampung yang sempat saya temui dua minggu lalu itu. Jadilah saya menelpon dia dan meminta pertolongan untuk minjemin duit minimal sebelum ATM nya diurus ke bank tempat saya nabung. Sungguh rentetan kebetulan yang indah…. Sekali lagi, tidak ada kebetulan yang benar-benar kebetulan!.
Hari Perempuan dan Bapak di warteg itu
Saat semua orang membuat status di social media tentang Hari Perempuan sedunia, tiba-tiba saya teringat dengan seorang perempuan yang menurut saya sungguh sangat-sangat beruntung. Saya sama sekali tak pernah melihat dan bertemu dengan perempuan itu. Pun, sekarang saya tidak pernah tau lagi kabar tentang perempuan itu. Tujuh tahun berlalu, semoga dia baik-baik saja..
Ketika saya masih bermukim disebuah rumah kos di Perumahan Mekarsari, Cibaduyut, Bandung. Seperti kebanyakan anak kos, Warteg kerap menjadi pilihan ketika waktu makan tiba. Apalah lagi, saya termasuk orang dengan kemampuan memasak di bawah rata-rata. Jadilah dapur yang disediakan oleh Ibu Kos, merana tak terpakai. Anak-anak kos lain dirumah tersebut juga tak pernah atau mungkin tak ada waktu memasak sendiri, Warteg akhirnya menjadi alternatif kami.
Saya masih ingat.. Setiap kali melewatkan waktu makan siang di warteg langganan kami itu pada hari sabtu dan minggu ( pada hari kerja makan siang selalu di kantor ), beberapa kali saya bertemu seorang bapak tua berusia sekitar 60 tahaunan dengan profesi penjual minyak tanah keliling. Gerobaknya selalu terparkir di depan warteg saat kami bertemu dan makan bersama. Kulit bapak itu mulai keriput dan legam. ditambah lagi sisa-sisa minyak yang kadang menempel dibeberapa bagaian pakaian dan tubuhnya yang ringkih, membuat bapak itu semakin keliatan kumal.
Setiap melewatkan waktu makan bersama sang Bapak, selalu ada sesak yang tiba-tiba menyerang rongga dada saya. Bahkan air mata saya pernah satu kali hampir tumpah, menyaksikan bapak tua itu manunaikan rutinitas makan siangnya. Bukan apa-apa, hanya kerupuk dan nasi yang menjadi santapannya. Sangat jauh dari menu dengan predikat “seadanya” sekalipun. Dan selalu seperti itu..
Saat makan, kadang dia menambahkan kecap pada nasi atau kerupuk yang terhidang didepannya. Suatu waktu saya menyodorkan piring berisi beberapa jenis lauk dan Si bapak yang selalu menggunakan topi itu, hanya mengambil sepotong tahu. Ketika saya berinisiatif memberikannya lagi sepotong ikan goreng, dia menampik. “ntos aa’ ini udah cukup” Katanya dalam aksen sunda yang kental. Sayapun akhirnya jadi segan untuk memaksa.
Sang Bapak penjual minyak tanah keliling, terlihat sangat pendiam. Sangat jarang dia berkomunikasi dengan pemilik warteg sekalipun yang notabene menjadi langgannnya. Setiap selesai makan, dia segera merogoh uang dari saku celananya, membayarnya lalu bergegass pergi. Mungkin dia harus mengantarkan minyak tanah ke palanggannya yang ada disekitar komplek perumahan tempat saya tinggal. Sebelumnya, tak lupa dia mengambil bungkusan nasi dan lauk yang selalu dipesannya sebelum makan.
Dilahirkan dari keluarga yang juga tidak berkecukupan, membuat saya selalu sentimentil ketika bertemu bapak itu. Pola tingkahnya selalu saya perhatikan, termasuk kebiasaannya memesan nasi dan lauk untuk di bungkus dan dibawa pulang. Yang unik, pesanannya itu tak seperti menu yang dia santap langsung diwarteg yang kalau gak salah namanya “Barokah” itu. Pesanannya sedikit lebih baik, ada sayur dan lauk sekaligus kerupuk yang untuk orang sunda memang harus ada setiap kali makan.
Pada suatu libur saat sedang bersih-bersih kamar dan menemukan beberapa potong pakaian yang sudah tak pernah saya pakai, tiba-tiba saya teringat dengan pak Tua pedagang minyak keliling itu. “Buat dia, pakaian itu mungkin masih bisa digunakan” Begitu saya berpikir. Saat makan siang akhirnya saya menyodorkan beberapa lembar pakaian dalam kantongan plastik berwarna putih. Awalnya saya segan. Takut ditolak seperti ketika saya memberinya sepotong ikan goreng. Tapi melihat matanya yang selalu menatap kosong itu, tiba-tiba berbinar, ketakutan saya hilang.
Bahkan, momentum itu menjadi awal saya bisa sedikit akrab dengannya. Meskipun saat ngobrol, ada beberapa kata-katanya yang tidak bisa saya tangkap karena disampaikan dalam bahasa sunda. Kegembiraan saya semakin bertambah saat sholat jum’at di mesjid komplek dan menemukan bapak itu memakai baju pemberian saya itu. Saya senang, terharu dan perasaan lain yang tak bisa saya lukiskan, bercampur aduk jadi satu.
Dua hari kemudian saat saya bertemu lagi di warteg yang menjadi langganan kami, saya berusaha membuka perbincangan. Berbasa-basi lalu tiba-tiba tergerak bertanya soal nasi dan lauk yang selalu di bawanya pulang. Perbincangan singkat yang membuat saya tiba-tiba kagum sekaligus terenyuh mendengar pengakuan bapak itu. “itu ( nasi yang dibungkus) buat nini di rumah” *nini : nenek dalam bahasa sunda.
Pengakuan yang kemudian membuat saya merangkai cerita sendiri. Pantas aja si bapak itu selalu makan siang dengan menu yang teramat sederhana jika tak bisa disebut memprihatinkan. Ternyata itu dilakukannya demi sang istri. Mungkin juga dia tidak ingin makan bersama dengan istrinya karena takut sang istri tau kalau sehari-hari dia hanya menyantap kerupuk dan nasi demi dirinya. Demi seorang istri dan perempuan yang pasti sangat dicintainya…Selamat Hari Perempuan. Semoga perempuan-perempuan di dunia, beruntung mendapatkan laki-laki seperti penjual minyak tanah keliling itu.
Bertemu Jamaah An Nasir
Beberapa waktu lalu saya berkunjung kesebuah perkampungan yang dihuni oleh sekelopok Jamaah yang orang kenal dengan Jamaah An Nasir. Komunitas ini selalu menuai kontroversi terutama saat menjelang perayaan hari raya Idul Fitri dan hari besar keagamaan lainnya. Gara-garanya adalah kepercayaan mereka terkait cara penentuan hari keagamaan yang jauh berbeda dengan metode yang dipakai oleh pemerintah atau organisasi keagamaan lain seperti NU atau Muhammadiyah.
Jamaah An Nasir, mejadikan tanda-tanda alam sebagai acuan menentukan kapan pelaksanaan hari raya seperti halnya Idul Fitri. Tanda-tanda itu seperti arah angin, volume air laut dan arah terbit dan terbenamnya matahri. Ciri-ciri lain yang menjadi identitas jamaah ini adalah pakaian serba hitam dan rambut serta janggut dan cambang yang dibiarkan tumbuh lebat dengan cat warna-warni seperti kuning, coklat dan merah maroon. Perilaku dan tata cara yang diyakini sebagai sunnah Rasul.
Untuk menemui perkampungan jamaah yang berjarak sekitar 20 kilometer sebelah selatan kota Makassar itu, saya membutuhkan waktu kurang lebih satu jam. Maklum, jalan yang menghubungkan kota Sungguminasa ( Ibukota Kabupaten Gowa yang berbatasan dengan kota Makassar ), masih berupa jalan setapak dengan pengerjaan seadanya. Ada yang menggunakan aspal dan beberapa bagian lainnya masih berupa tanah dan batu gunung.
Saya tak merasa punya bekal ilmu yang cukup untuk bicara soal kepercayaan mereka. Tapi dari kunjungan itu, banyak cerita unik dan manarik yang saya bawa pulang. Di Mawang, dusun yang ditempati oleh jamaah An Nasir, saya sempat berinteraksi dengan Ustad Rangka ( Pimpinan jamaah ) dan beberapa pengikutnya selama hampir setengah hari. Bahkan sebelum pulang, saya dan seorang rekan yang menemani, sempat dijamu makan siang berupa ikan bakar plus dua ikat rambutan setelahnya.
Dari perbincangan kami dengan Ustad Rangka dan beberapa jamaah, ternyata banyak hal yang mungkin belum banyak diketahui orang. Di perkampungan yang terletak di Daerah aliran sungai Jeneberang itu, tata cara beribadah, Bertani, hubungan sosial kemasyarakatan dan aktivitas perekonomian seperti berdagang dan utang piutang, ternyata telah diatur sedemikian rupa dan ditaati oleh seluruh anggota Jamaah. Pengaturannya dibicarakan secara musyawarah dan menjadi aturan baku.
Dari pengakuan warga yang menjadi pengikut, Ustad Rangka memang sangat disegani sekaligus disenangi oleh para jamaah. Sekilas dari perbincangan saya dengan sang pemimpin kelompok tersebut, sosoknya memang terlihat tegas, berwibawa tapi sekaligus menyenangkan. Beberapa kali dia melontarkan humor-humor segar yang membuat saya tiba-tiba tergelak disela-sela perbincangan.

Ustad Rangka sang Pimpinan Jamaah. Kacamata Merk Oakley, Jam tangan Casio dan Coca Cola di tangan. Mereka memang tak seprimitif yang kebanyakan orang bayangkan.
Saya mengistilahkan prinsip hidup mereka dengan one for all, all for one. Hal itu diterapkan dalam berbagai hal. Hasil pertanian seperti padi dan buah-buahan dapat dinikmati oleh semua jamaah dari berbagai profesi, seperti pedagang, peternak dan annggota jamaah yang lainnya. Hasil tambak, diperuntukkan kepada seluruh jamaah dengan sistem pembagian yang telah diatur. Tanah dikelolah tanpa ada kepemilikan tunggal. Pun pengelolaannya diatur sehingga tidak merusak lingkungan. Bahan kimia untuk tanah, tak pernah mereka gunakan. Mereka hidup dalam harmoni. Harmoni dengan sesama manusia dan bersahabat dengan alam.
Di tempat itulah, pasal “bumi air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya, dikuasai oleh negara dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat” benar-benar bisa diimplementasikan. Kemakmuran dalam artian jangka panjang karena alam tetap lestari dengan pemanfaatan yang tidak berlebihan dan destruktif. Di situlah wibawa pemimpin bisa benar-benar ditegakkan. Pemimpin disegani sekaligus disayangi. Di dusun Mawang itulah pancasila masih utuh diamalkan dengan gotong-royong dan sistem musyawarah yang masih amat kental.
Dusun Mawang selayaknya menjadi miniatur Indonesia yang semestinya. Negara yang oleh founding father kita dicita-citakan sebagai negeri yang makmur, lestari dan beradab. Harusnya seperti itu !. Bukan negeri yang penuh huru-hara, keserakahan, minim rasa solidaritas lalu akrab dengan kekerasan.
Tiba -tiba saya rindu dengan ikan bakar yang disajikan pengikut Ustad Rangka yang tanpa MSG itu, rindu dengan keramahan penduduk disana, rindu ingin ke Dusun Mawang lagi, seperti rindunya saya pada Indonesia yang damai, gemah ripah loh jenawi tata tentrem kerta raharja…














