Tahun Politik di Negeri SMS

Musisi lokal Bandung juga ditampilkan di acara iniDalam sebulan terakhir, hampir setiap minggu malam, saya menerima SMS atau BBM dengan pesan yang sama : permintaan dukungan kepada salah seorang peserta pencarian bakat di sebuah televisi swasta dengan cara mengirimkan SMS ke nomer tertentu. SMS dan BBM tersebut kebanyakan berasal dari teman-teman sekampung saya di Kabupaten Kepulauan Selayar Sana. Usut punya usut, rupanya salah seorang peserta talent scouting di televisi yang dimaksud, adalah perempuan dari daerah kami. Oalahhh :))

Satu, dua sampai tiga kali, saya tak terpengaruh dengan ajakan teman-teman saya. Berusaha menjadi pribadi yang mempertahankan idealisme, ajakan bertubi-tubi itu tak pernah saya gubris. Buat saya, menentukan juara kompetisi dengan mekanisme voting adalah sesuatu yang kurang fair. Unsur subyektifitasnya terlalu kental jika tak bisa disebut dominan. Kalau saya lebih suka suara penyanyi dari daerah lain, gak salah dong kalau saya punya pilihan sendiri. vokal itu soal taste, gak bisa dipengaruhi oleh unsur subyektif apalagi sesuatu yang bernuansa primordial. Duh, betapa kakunya saya ini :))

Sampai suatu waktu, sayapun luluh. Keangkuhan saya dikalahkan oleh perasaan berdosa ketika menemukan  semua orang mulai dari pejabat, teman sekolah dan komunitas masyarakat dari kampung saya, bahu membahu mengirimkan SMS. Mungkin memang saya harus sedikit mengabaikan idealisme yang sudah saya pertahankan sejak Akademi Fantasi muncul beberapa tahun yang lalu. Kapan lagi daerah saya, setiap minggu disebut-sebut di televisi kalau bukan sekarang.

Kalau kampung saya lebih beken, mungkin orang akan penasaran dan mencoba mencari tau keberadaanya. Mungkin dengan itu potensi wisata Kepulauan Selayar yang selama ini tak banyak diketahui orang, akan terekspose dengan sendirinya dan ekonomi di daerah saya akan semakin maju.. Ah, sepertinya saya sedang berusaha mempertahankan ego dan mencari pembenaran soal perubahan sikap saya soal SMS dukungan tersebut.

Karena jika mau jujur, sebenarnya saya tak sekalipun melihat perempuan asal kampung saya itu tampil di televisi :D. Kesimpulannya saya melakukan vote dan sama sekali buta dengan pilihan saya.

Kemarin saya kembali mendapat SMS dari seorang teman SMU yang mengabarkan pencalonan dirinya sebagai anggota legislatif. Pendekatannya hampir sama dengan ajakan mengirim SMS untuk pencarian bakat di televisi itu. “Kapan lagi ada teman SMU kita yang jadi legislator kalau bukan sekarang. Ayo pilih sesama anak petani”.

Ah, kali ini saya tak boleh luluh oleh romantisme yang coba dijadikan senjata oleh teman saya itu. Persoalan dukung mendukung peserta pencarian bakat tentu tak bisa disamakan dengan pilih memilih caleg meskipun kerap kita tanpa sadar menyama-nyamakannya..

Trinity Lagi :)

trinity2Ini kali kedua saya sharing soal Trinity, penulis beken yang getol menceritakan pengalaman jalan-jalannya ke berbagai negara dan ke seluruh wilayah di Indonesia, melalui buku. Terakhir saya bertemu dengan perempuan bernama asli Perucha Hutagaol ini di Plaza Senayan Jakarta sebelum dirinya melakukan perjalanan keliling dunia selama setahun. “Gue traktir nih, kan bakal gak ketemu setahun.” Begitu kata Trinity berkelakar.

Setelah perjalanan panjangnya ke berbagai negara itu, saya sudah tak pernah lagi sempat bertatap muka dengan Trinity. Sebagai seorang penggemar yang kebetulan dianugerahi kesempatan beberapa kali bisa berinteraksi face to face, berikutnya saya hanya bisa mengetahui aktivitas perempuan yang selalu rame itu di berbagai sosmed. Dari timeline di twitter dan status-statusnya di facebook. Minggu lalu dia sempat berada di Bandung ( sekali lagi saya tau informasinya dari facebook ) dan saya tak bisa menunaikan keinginan saya untuk sekali lagi bisa bertegur sapa dengan Trinity.

Kerinduan saya sedikit terobati ketika dirinya menjadi bintang tamu pada acara Indonesia Lawak Klub di Trans TV. Ya saya selalu rindu ngobrol dengan orang yang selalu bisa menebar isnpirasi melalui aktivitas yang dilakukan. Rindu ingin seperti Trinity yang bisa bekerja sambil menekuni hobby jalan-jalannya. Melanglangbuana keberbagai negara dan lalu menuliskan berbagai aktivitasnya itu di majalah tempat dirinya menjadi editor in chief. Menuangkannya dalam sebuah buku yang kemudian menjadi best seller. Tentu pundi-pundinya pun semakin tebal. Ah, terdengar begitu menyenangkan :). Jujur saya kagum dan iri dengan Trinity.

Membaca beberapa seri bukunya membuat saya sempat berpikir untuk suatu waktu bisa juga menyambangi tempat-tempat menyenangkan di muka bumi ini. Salah satu yang spontan terlintas di benak saya adalah Emirates Stadium, markas klub sepak bola kebanggaan saya, Arsenal !. Saya juga ingin mengunjungi negara Jepang yang kata Trinity dalam buku The Naked Traveler, di salah satu wilayahnya terdapat sebuat tempat dimana kaum perempuan gak ada yang pake busana sehelai pun ha..ha..

Anyway, bicara soal jalan-jalan, beberapa waktu lalu, saya yang belum pernah kemana-mana ini selain bolak balik Bandung – Makassar seperti dihakimi oleh Trinity melalui postingannya di Facebook :

Kenapa saya suka nyebar virus traveling?
Karena makin banyak jalan2 = makin open minded = makin toleran = dunia makin damai!
(jadi kalo ada org yg bigot dan picik, berarti kurang jalan2 dia)

Ah Trinity paling bisa.. Meski mungkin bernada iseng tapi status ini sukses menuai pro dan kontra diantara teman-teman dia di facebook dan membuat saya sesaat berpikir menjadi manusia kurang lengkap karena tak pernah sekalipun menyambangi daerah-daerah destinasi di Indonesia, apalah lagi berkunjung ke luar negeri.  Jalan-jalan dan mindset berpikir tentu bukan dua faktor tunggal yang kemudian saling kait-mengait. Tapi yang dikatakan Trinity ada benarnya.

Perjalanan adalah proses melihat dan ajang untuk belajar. Belajar untuk memahami apa yang ada di sekeliling kita. Betul, dengan banyak berinteraksi, cakrawala dan khasana berpikir akan semakin terbuka. Tapi tentu “berjalan” tak semata seperti yang dilakoni Trinity. Menjelajahi Asia lalu menyeberang ke Eropa. Berjemur di pantai Raja Ampat lalu seketika sudah memasang foto di Instragram sedang berada di Banda Aceh. Perjalanan bukan hanya oleh raga.

Melewati bangku SD dan kemudian tampil dengan seragam putih abu-abu adalah sebuah perjalanan. Berkenalan, tukar nomer telpon, menjadi sepasang kekasih lalu kembali menjadi teman biasa ( ini curhat sebenarnya :p ), juga sebuah perjalanan. Perjalanan yang mengajarkan kita berbagai value dalam hidup. Bahkan duduk berdiam diri di cafe seperti ketika saya mengetik tulisan ini lalu menayksikan pengunjung cafe berseliweran adalah proses melihat dan berpikir.

Raga kita tak kemana-mana tapi jiwa kita bisa melanglangbuana dengan apa yang kita lewati di kehidupan. Satu lagi, Bukankah ada yang disebut dengan perjalanan spiritual ? Bukankah kita sedang melakoni perjalanan hakiki dari lahir menuju fase kematian ?  Sejatinya, semua kita sedang jalan-jalan. Ah,. akhirnya saya dapat pembenaran untuk tak lagi terlalu iri dengan Trinity.

Apa salah Angel Lelga ?

angel-lelga-925Saya tak sempat menyaksikan episode Mata Najwa di Metro TV yang menghadirkan Angel Lelga sebagai narasumber. Heboh soal bagaimana caleg dari PPP itu kelabakan menjawab pertanyaan Najwa Shihab, saya baru dapati dari beberapa postingan teman di social media. Termasuk berita soal Suryadarma Ali, “bos” Angle Elga yang menuding Metro TV, khususnya Najwa, telah berbuat dzalim terhadap perempuan berparas ayu itu.

Lontaran kata-kata  yang justru menjadi bumerang dan membuat sang Menteri Agama tersebut jadi bulan-bulanan publik. Sebagian besar komentar menganggap Suyadarma Ali terlalu berlebihan membela kadernya.

Saya tak ingin menyalahkan siapa-siapa. Tapi sebagai mantan mahasiswa komunikasi dan pernah bergelut dalam dunia penyiaran meskipun bukan dalam mediun audio visual ( televisi ), hati saya sedikit tergelitik dengan peristiwa yang dalam beberapa hari ini masih menjadi perbincangan banyak kalangan. Tayangan ulang di Youtube dari perbincangan itu telah ditonton sebanyak lebih dari satu juta tigaratus kali. Termasuk saya :)

Jika tujuan Najwa adalah menelanjangi Angel Lelga dan memberi pesan ke masyarakat betapa rekruitmen calon anggota legislatif yang teramat serampangan, maka Metro TV sukses menunaikan misinya. Namun dalam perspektif sebuah acara televisi berbentuk “Talk” dan “Show”, saya pikir Metro tak bisa dikatakan benar-benar berhasil. Sepemahaman saya, ada sebuah etika antara narasumber dan pewawancara yang semestinya dikedepankan. Narasumber dan pewawancara adalah dua komponen yang semestinya berkolaborasi, seiring sejalan menghadirkan perbincangan yang baik dan menarik.

Show sejatinya memberi inspirasi dan khasana baru dalam alam berpikir penonton atau pendengar. Oke, mungkin cakrawala publik semakin terbuka untuk selektif memilih calon wakil mereka. Tapi jika pemahaman baru itu didapatkan dari sebuah aksi menelanjangi jika tidak bisa disebut mengolok-olok narasumber, mungkin tidaklah terlalu elegan apalagi disebut menarik. Lalu apa bedanya dengan Olga yang mengolok-olok ( maaf ) bibir Omas.

Saya tidak terlalu yakin jika Najwa ( atau mungkin produsernya ) tidak benar-benar tau mana pertanyaan yang cocok atau mampu di jawab oleh Angel Lelga. Pertanyaan soal keterkaitan Islam dan negara adalah pertanyaan yang menurut saya teramat filosofi. Bahkan mungkin seorang akademisi pun butuh berpikir beberapa saat untuk merangkai jawaban. Pertanyaan kritisnya, apa semua caleg harus bisa menjawab itu baru kemudian bisa disebut kapabel ?.

Pola rekruitmen caleg oleh partai yang terkesan pragmatis adalah kesalahan kita dalam berpolitik. Lebih tepatnya kesalahan partai yang cenderung menjadikan partai politik itu sebagai tunggangan mencapai tujuan kelompok lalu membenarkan berbagai macam cara untuk mecapai kemenangan politik. Cara kita berpolitik memang masih sangat prosedural. Tidak subtantif. Mungkin itu yang ingin di tunjukkan Metro TV. Dan lalu Angle Lelga lah sosok yang tepat ditampilkan untuk mewakili kondisi itu.

Untuk sebuah “show”, dia beken, dia cantik dan yang terakhir, Metro TV memastikan dia bisa di telanjangi karena pemahaman politiknya yang masih sangat minim. Jadi menurut saya, kejadian tersebut adalah “kecelakaan” atau “cacat” dalam sebuah program acara yang sudah dirancang dari awal. Tidak terlalu naif kalau saya bilang, status artis, kecantikan dan sekaligus ( sekali lagi maaf ) kebodohan sang narasumber telah di ekploitasi dalam hal ini.

Metro TV tau betul ketimpangan antara intelegensia Najwa dan Angel Lelga. Ketimpangan itu yang kemudian dikemas dalam sebuah program “talk” bertujuan “show”. Mempertontonkan aksi menelanjangi, membuka kebodohan orang secara vulgar di depan jutaan pasang mata. Dan menurut saya, ini yang tidak terlalu elok…

Keep Moving Forward

Arsenal v Tottenham Hotspur - Premier League-1441536Kekalahan telak Arsenal dari Liverpool dalam lanjutan Liga Premier Inggris pekan ke-25 (Sabtu, 8/2/2014), tidak saja menyisakan luka di hati skuat The Gunners. Dua hari pasca gelontoran 5 gol para punggawa The Reds ke gawang Szczesny, kekecewaan seperti tak juga hilang dari hati para fans klub London Utara itu.

Komentar para Gooners, julukan fans Arsenal, terus meramaikan jagad maya. Mulai dari yang bernada positif sampai cercaan dan caci maki. “Mulai berpikir untuk membakar semua atribut Arsenal yang saya miliki”. Demikian komentar ekstrim sesama penggemar Arsenal di akun facebook miliknya.

Menduduki posisi puncak klasmen lalu kalah dengan skor telak 5 – 1, memang bukan cara yang baik untuk turun dari tahta. Tapi itulah sepak bola. Kalah menang bukan hanya mengajarkan kita tentang sportivitas dan fair play. Disuatu waktu, kita butuh jatuh untuk sadar bahwa sesekali kita harus menginjak bumi. Selalu berada dipuncak membuat kita minim pengetahuan tentang pahit manis perjuangan.

Jerman pernah merasakan terus berada diatas angin diawal turnamen lalu terkapar oleh keganasan skuat Matador yang sempat mengalami kekalahan dan diragukan lolos ke babak final Piala Dunia 2010. Tim Panser seperti mengalami antiklimaks justru ketika pagelaran akbar olahraga sepak bola itu memasuki fase penentuan juara.

Seperti kata pelatih Arsenal “Yang terpenting adalah bagaimana kami merespon pertandingan Rabu nanti ( melawan MU )”. Ujar Wenger. Mentor gaek asal prancis itu  ingin mengirim pesan ke semua pihak bahwa membangun optimisme adalah sikap paling baik menyikapi kekalahan.

Inilah kenapa saya begitu menyenangi Arsenal. Klub yang akrab dengan sepak bola menyerang. Karena Menyerang adalah cara terbaik untuk bertahan. Bergerak maju ada sebuah keniscayaan. Filosofi ini selalu di aplikasikan dalam setiap kata dan sikap sang manager. Keep moving forward..

Merokok Membunuhmu

Tentu bukan karena terinspirasi dari lagu D’Masiv sampai peringatan bahaya merokok di berbagai iklan dan kemasan rokok itu sendiri kemudian berubah menjadi “Merokok Membunuhmu”.

Produsen mungkin memiliki tujuan “mulia” dengan perubahan pesan yang disampaikan. Apalah lagi, meskipun sudah diwacanakan oleh pemerintah, tapi inisiatif segera mengubah pesan peringatan itu ternyata dilakukan oleh para produsen ( Sumber : detikcom ). Katanya sih agar pesan yang disampaikan bisa lebih “sangar”  dan memberi efek lebih dalam bagi para perokok.

Saya gak paham betul apakah pemilihan kalimat yang lebih singkat dan seakan frontal itu berasal dari pemerintah atau mungkin lagi-lagi inisiatif produsen. Namun dalam perspektif psikologi komunikasi, apa benar peringatan itu bisa lebih ampuh dalam mengubah mindset konsumen soal rokok ?.

Sama seperti apa yang digambarkan oleh Ryan dan kawan-kawan dalam syair lagunya, cinta dan rokok itu sama – sama bisa membunuh. Makanpun kalau kebanyakan, bisa saja berujung kematian. Jadi dalam konteks kata bunuh ( baca : mati ), sebenarnya dimana letak “sangar” dari kalimat peringatan dari iklan rokok tersebut ?. Toh tak ada yang setelah merokok lalu menggelepar meregang nyawa.

Bukankan dengan mengubahnya menjadi Merokok Membunuhmu, pesan peringatan itu justru terasa lebih soft ?. Karena selama ini, kata-kata membunuhku menjadi bahasa jamak dan bahkan menjadi ikon interaksi dan komunikasi, terutama jika anda rajin menyimak kalimat-kalimat netizen yang berseliweran di jagad maya. Maaf jika saya tak pernah benar-benar percaya dengan ketulusan para produsen rokok yang katanya berinisiatif sendiri itu. Iklan – iklan yang mereka buat itu sepemahaman saya menelan biaya mahal dan tentu terlalu sayang untuk dicederai oleh kata-kata peringatan yang secara signifikan bisa mengubah aspek kognitif dan perilaku konsumen terhadap rokok.

Jika diizinkan sedikit apatis, saya malah berpikir ada upaya membuat kata-kata peringatan itu menjadi kontraproduktif. Betapa tidak, sebenarnya bukan kematian yang menjadi pokok persoalan dari perilaku merokok. Toh kematian itu tak ada yang pernah tau kapan akan datang, terlepas seseorang merokok atau tidak. Yang menjadi esensi dari peringatan soal rokok itu sendiri adalah bahwa rokok akan berpengaruh terhadap kualitas hidup seseorang dan mempersingkat angka harapan hidup, bukan persoalan kehilangan nyawa. Kembali ke kata “bunuh”, rindu saja bisa membunuh kata ABG alay yang sedang dimabuk asmara.

Karena terkungkung oleh sikap skeptis saya soal peringatan baru tersebut dan sok ingin jadi pengamat :p , akhirnya sayapun berinisiatif mencari data soal “Merokok Membunuhmu”. “Mulai 2014 perusahaan rokok wajib mencantumkan peringatan bahaya merokok, baik bergambar dan tulisan, sesuai dengan PP No 109 Tahun 2012 tentang Pengamanan Bahan yang Mengandung Zat Adiktif Berupa Produk Tembakau Bagi Kesehatan,” ujar Menteri Kesehatan, dr Nafsiah Mboi, Sp.A, MPH, dalam acara Puncak Peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia di Gedung Kemenkes, Kuningan, Jakarta, Jumat (31/5/2013). (Sumber: forum.kompas.com)

Dan katanya nih, akan ada 5 gambar yang sudah dipersiapkan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Berikut salah satu gambar  yang bakal “nampang” pada bungkus rokok di Indonesia :

kanker mulut

Nahhh.. Kalau gambar ini yang ditampilkan di kemasan dan juga iklan rokok ( sesuai aturan baru yang dikeluarkan pemerintah ), saya baru percaya kalau para produsen rokok dan konsultan iklannya benar-benar sedikit punya ketulusan mengingatkan orang soal bahaya rokok. Bukan peringatan basa basi, apalagi dengan kata-kata yang malah terkesan bias dengan maksud  ( mungkin ) untuk memainkan atau bahkan mengelabui persepsi orang soal bahaya merokok ( Yakinlah, dibalik iklan rokok, terdapat para konsultan komunikasi massa yang tau benar bagaiamana cara membentuk logika dan aspek kognitif seseorang terhadap sebuah brand ).

Apakah gambar ini sudah tertera pada kemasan rokok yang beredar dipasaran ? Untuk Iklan, saya belum pernah melihat gambar seperti di atas disertakan. Untuk kemasan, saya bukan perokok dan belum pula sempat mengecek. Tapi jika belum ada dan hanya memuat tuliasn “Merokok Membunuhmu”, mari kita sepakat bahwa perubahan message itu bukannya malah memberi dampak positif dalam hal peringatan bahaya merokok tapi malah akan mengaburkan efek negatif dari rokok …

Ayo Berisnis Jasa Pengamanan !

TentaraMinggu lalu pada sebuah event seminar, saya sempat berinteraksi dengan peserta lain yang ternyata adalah seorang pelaku bisnis jasa pengamanan. Mhmm.. Baru tau kalau ternayata bisnis ini sedang booming dalam beberapa tahun terakhir, terutama di kota-kota besar.

Ya,.. Di Kota-kota besar, keamanan menjadi sesuatu yang teramat penting bagi tiap-tiap individu, kelompok ataupun institusi. Bahkan kemanan kemudian disejajarkan dengan kebutuhan primer semacam sandang pangan dan papan. Tidak salah jika banyak pihak yang kemudian mempercayakan unsur keamanan diri atau lembaganya kepada pihak-pihak yang dianggap memiliki kapasitas dan kompetensi untuk itu. Termasuk ke Perusahaan kenalan saya yang baru itu. Namanya Bapak Cencang Andi.

Di kota besar seperti Bandung dan Jakarta bisnis ini mulai bermunculan dalam satu sampai dua dekade terakhir. Oh iya, nama perusahaan Pak Cencang itu adalah Multi Servisindo yang berkedudukan di Jakarta dan memiliki kantor cabang di Bandung.

Usaha ini di prakarsai oleh Pak Bramantyo yang sebelumnya memang malang melintang di bisnis ini meskipun masih berstatus sebagai karyawan. Merasa memiliki pengalaman menggeluti bisnis pengamanan dari hulu ke hilir, dirinya memulai usaha sendiri pada tahun 2007 lalu. “Pak Bramantyo dan beberapa orang diantara kami memang memiliki basic di jasa pengamanan. Bahkan Pak Bramantyo pernah bekerja di beberapa perusahaan multinasional” Ujar Pak Cencang yang menduduki jabatan sebagai Manager Marketing.

Ternyata usaha bapak berpenampilan seperti anggota TNI itu cukup memiliki banyak klien. Beberapa lembaga yang menjadi klien Multi Servisindo seperti  Rumah sakit, Lembaga pendidikan mulai SD sampai perguruan tinggi, Pabrik, Mall, Perhotelan, Gedung perkantoran, Perumahan, Konstruksi, pertambangan. Klien kami baik dalam negeri atau asing misalnya dari Jepang, Perancis, German. “ ada pula klien yang kami istilahkan dengan special event seperti konser atau kampanye dan event oleh raga.” Ucap Pak Cencang.

Dengan klien yang tersebar dari pulau sumatera sampai Indonesia timur,  Multi Servisindo sekarang membawahi 1500 SDM terlatih yang disebar ke berbagai tempat, Woww !. Berhubung bisnis ini merupakan bisnis jasa, kepercayaan oleh Pak Cencang dan kawan-kawan dinilai menjadi unsur yang terus harus dijaga.” Kami merekrut SDM dengan standar tinggi. Mulai dari fisik, psikologis hingga pengetahuan dasar ke samaptaan.” Sambung Pak Cencang.

Katanya nih, Sebelum mereka diterjunkan, Tim pelatih dari Multi Servisindo menggembleng calon tenaga pengamanan mereka dengan menu materi dan latihan seperti penanganan massa, penanganan bencana seperti kebakaran dan bagaimana cara berkoordinasi dengan pihak keamanan. Menurut Pak Cencang, seluruh item itu merupakan standar yang berlaku secara internasional. Bahkan kurikulum di lembaga mereka, mengikuti kurikulum POLRI dengan 232 jam pelajaran.

Untuk menambah kepuasan klien. Jasa pengamanan Multi Servicindo juga menggelar reguler training setiap sebulan sekali. “pentingnya reguler traning ini karena di setiap daerah, kondisi kemanan selalu berubah-ubah sehingga perlu disesuaikan dengan sistem yang kita miliki.”Tambah pria bertubuh tegap tersebut memberi tips.

Untuk biaya, jasa pengamanan memberikan tarif sangat beragam mulai puluhan hingga ratusan juta rupiah. “mengenai biaya tergantung lamanya kontrak, jumlah tenaga yang diturunkan dan tingkat kerawanan di suatu daerah. Jadi harus dianalisa dulu.” Tambah Pak Cencang. adapaun layanan pengamanan yang diberikan Perusahaan Jasa Pengamanan seperti Multi Servisindo seperti pengamanan manusia, barang, dan keterangan, aspek keselamatan / safety pengamanan instalasi dan pengamanan area terlarang dan lain lain.

Buat anda yang ingin berbisnis Jasa seperti Pak Cencang,  yang mesti dipersiapkandiantaranya adalah Legalitas perusaan misalnya Akta pendirian, SIUP, Tanda Daftar Perusahaan, Wajib Lapor, Surat ijin Mabes Polri, Domisili perusahaan, Punya Nomor Pokok Wajib Pajak, Surat Pengusaha Kena Pajak, Ijin operasional dari Pemda, Keanggotaan KADIN, Keanggotaan Asosiasi Security Indonesia dan Sertifikat Kepesertaan Jamsostek. Kelengkapan selanjutnya adalah infrastruktur pendukung seperti training centre, tim pelatih, peralatan latihan sampai mess.

Oh iya, kalau anda ingin menggunakan jasa Pak Cencang dan kawan-kawan, boleh menghubungi kontak berikut :

PT. Multi Servisindo

Jl. Sapta Taruna I No.1 Komp. PU Sapta Taruna

Lebak Bulus Jakarta Selatan

Nomor Telepon 021-7590 4455

Distro anak-anak di Bandung

Jika Industri Clothing ( distro ) selama ini dikenal lebih banyak menyasar kalangan muda. Tapi di Kota Bandung yang notabene menjadi pionir industri clothing, ternyata ada juga yang  mengkhususkan diri pada pasar anak-anak. Namanya Babybones. Pakaian balita seperti baju, celana, topi sampai sendal dan sweater, didesain khusus dan tampil beda dari kebanyakan baju anak-anak yang sering kita lihat. Produksinyapun dibuat limited edition dan berubah dari waktu ke waktu layaknya pakaian distro yang selama ini familiar dikalangan remaja.

Kemarin saya sempat mampir ke tempat tersebut. Pengen beli baju buat anak saya yang kedua ( yg ini saya ngomongnya sambil ngimpi :p ). Usut punya usut, ternyata yang punya usaha adalah Nedi Sopian, vokalis Band Harapan Bangsa. Mhmm, jadi ceritanya nih, Nedi yang memiliki skill desain dan memang berlatarbelakang musik,  melihat fenomena pakaian anak yang motifnya itu-itu saja, bahkan cenderung seragam. Kalo bukan kartun, pasti motif bunga atau karikatur. Atau yang lagi ngetrend, baju anak yang sepertinya cocok dipake sama anak saya nanti “Ganteng Kaya Papa” :).

Kembali ke usaha yang sedikit diluar mainstream itu, Kata Bro Nedi nih, banyak orang tua yang menginginkan anaknya tampil beda atau bahkan modis seperti layaknya orang dewasa. Mungkin yang diistilahkan dengan papa atau mama-mama gaul. Fenomena yang kemudian membuat Nedi tergerak untuk coba-coba mendesain baju anak dengan corak musik dan awalnya dikhususkan buat sang buah hati tercinta. Ya namanya juga rezeki, teman-teman Nedi yang telah berkeluarga, akhirnya banyak yang minta untuk dibuatkan baju anak dengan desain yang sama.

Babybones ( display2 )Jika anda berkunjung ke outlet babybones di Jalan Trunojoyo Bandung, dari luar sekilas akan terlihat seperti toko distro biasa yang selama ini  banyak menjual pakaian untuk kalangan remaja dan dewasa. barulah ketika anda masuk ke ruangan berukuran sekitar 3 x 5 meter yang di cat warna warni itu, akan terlihat pakaian anak dengan desain yang lain dari biasanya. Ada desain music series, quotes atau desain khusus seperti little picasso series. Ada baju anak bergambar vokalis Band Nirvana, Curt Cobain. Kereennn ..

Tapi bener juga sih. Ketika jalan-jalan ke mall, beberapa kali saya menyaksikan anak kecil atau bahkan anak bayi berpenampilan sedikit nyentrik. Ada yang berpakaian seperti orang dewasa. Tampil dengan rambut model mohawk mirip Mario Balotelli atau wajah mereka didandanin bak model catwalk.

Ah, selalu menyenangkan memang mendandani anak-anak kita dengan pakaian dan aksesori yang lucu dan unik. Bisa jadi agar mereka semakin menggemaskan atau mungkin kita ingin merepresentasikan diri kita sebagai orang tua pada mereka. Tubuh-tubuh mungil itu terlalu belia untuk memahami berbagai perlakuan untuk mereka. Sampai suatu masa dalam hidupnya, diapun akan tumbuh dan menentukan dunianya sendiri. menentukan baju yang akan dipakainya. Mungkin bukan baju yang kita suka. Saat itu kitapun sadar bahwa tak selamanya kita “berkuasa” atas diri mereka …